"Mau kemana?" tanya Karel.
"Ke sana sebentar."
"Heh lo gak kabur kan setelah kita pesen?" pekik Alfi Leo hanya menggeleng tanpa menoleh kepada Verell.
"Mau pesen apa?" tanya pelayan itu.
"Yakin nih Leo gak akan pergi gitu aja kan?" tanya Alfi ragu.
"Udah pesen aja lah, nanti kalo kabur, di sekolah kita keroyok lah," saran Verell yang langsung di setujui mereka.
Leo berjalan menuju tangga dan menaiki tangga satu persatu. Leo berjalan menghampiri salah satu ruangan, tanpa mengetuk Leo langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Wah ada apa nih adik ku datang?" tanya Alvera yang sedang duduk di depan laptop nya, tidak lupa dengan cemilan di samping nya.
"Ruangan atas ada yang kosong?" tanya Leo.
"Ada, di outdoor juga kosong sekarang. Kenapa?" tanya Alvera menatap adik nya yang berdiri di depan nya itu.
"Mau sewa satu tempat."
"Tumben, mau ngapain?"
"Itu ada temen-temen Leo."
"Temen? sekarang udah punya temen nih?"
"Iya. Jadi?"
"Waah akhirnya adek ku yang satu ini hidup juga," ucap Alvera sambil tertawa.
"Ck terserah."
"Kakak penasaran siapa yang mau temenan sama patung es gini?"
"Udah deh jangan mulai."
"Kan bener emang sekolah kakak tuh emang bagus kan buktinya kamu dapet temen kan sekarang."
"Iya," jawab Leo malas, karena ia saja ke sana karena misi nya.
"Nih kunci buat private room nya, kalo mau di outdoor di atas langsung aja kesana."
"Iya makasih," ucap Leo sambil mengambil kunci yang di berikan oleh kakak nya itu.
Leo segera kembali ketempat teman-teman nya berada di bawah.
"Abis dari mana?" tanya Verell.
"Ngambil kunci."
"Kunci? lah lo pesen private room?" tanya Alfi terkejut melihat kunci di tangan Leo.
"Kita cuma mau kumpul doang, gila bayar sewa nya mahal woy kalo disitu."
"Mau di outdoor atas?" tawar Leo.
"Gila lo, kaya banget apa?"
"Enggak. Ayo gua udah ngambil kunci, udah pesen kan? nanti gua bilang pelayan suruh antar makanan nya ke atas," ujar Leo tanpa memperdulikan ketiga teman nya yang hanya menganga tidak percaya dengan apa yang di lakukan Leo saat ini.
Setelah menghadapi ketidak percayaan mereka akhirnya duduk di bangku masing-masing yang berada di private room ini dengan sesekali ocehan tidak percaya dari Alfi dan Verell. Bahkan sampai makanan datang pun mereka masih terus membicarakan ketidak percayaan nya pada Leo.
"Lo benar-benar ya Leo, gila."
"Padahal kita baru kumpul berempat sekali ini," sahut Karel sambil menyeruput minuman nya.
"Satu ruangan ini cuma kita doang? gila ini sih gua bebas teriak-teriak," ucap Verell.
"Yaudah sana teriak-teriak nanti gua sumpel mulut lo pake kaos kaki mau?" ancam Karel pada Verell.
"Lo tuh jadian sama Allea?" tanya Alfi.
"Enggak."
"Jangan-jangan lo berhasil ngambil first kiss Allea ya?" tebak Verell.
"Enggak."
"Kok ... "
Suara ketukan pintu memotong ucapan Alfi.
"Masuk," ucap Leo.
"Hai hai."
Leo menatap orang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu mendengus.
"Siapa ya?" tanya Alfi.
"Hai cantik," goda Verell yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Leo.
"Ey tau aja kalo kakak ini cantik."
"Mau apa sih kak?" tanya Leo yang jengah melihat tingkah kakak nya itu.
"Kak?" Verell menatap Leo.
"Kenalin Alvera, kakak nya Leo." Alvera menjulurkan tangan nya untuk menjabat ketiga tangan teman adik nya itu.
"Oh kakak nya Leo, beda ya eheheh," ucap Alfi yang menyadari sikap kedua nya yang sangat jauh berbeda.
"Cantik ya duh kirain lebih muda dari kita," ujar Verell.
"Karel kak," ucap Karel sambil menjabat tangan Alvera memperkenalkan diri nya.
"Wah kok kalian mau sih temenan sama adek kakak yang kaya patung es gitu?" Tanya Alvera.
"Di guna-guna kak kayanya sih," sahut Verell yang membuat mereka semua tertawa kecuali Leo.
"Yaudah kakak pergi dulu ya, kalian pesen aja sekarang karena buat pertama kali nya Leo bawa temen kesini jadi semua nya kakak kasih gratis," ucap Alvera membuat mereka semua terkejut.
"Serius kak?"
"Iya."
"Ini cafe punya kakak?" tanya Karel.
"Iya." Alvera mengangguk.
"Pantesan aja."
"Dah, kakak pergi dulu masih ada urusan."
"Iya kak makasih banyak," ucap Karel sebelum Alvera keluar dari ruangan.
"Jadi ini cafe kakak lo? kok lo gak bilang."
"Ngapain bilang-bilang."
"Ya kan mau minta diskonan," ujar Alfi.
"ALFI!" bentak Karel membuat mereka semua terkejut.
"Ide bagus," lanjut Karel mendapatkan pukulan di bahu nya dari Verell karena kesal dibuat terkejut dan menganggap Karel akan memarahi Alfi dan ternyata seperti itu.
"Buat kaget aja," ucap Alfi dan Leo terkekeh melihat tingkah mereka.
"Iya nanti juga kakak gua ngasih diskonan," ujar Leo.
"Ngomong-ngomong nih kakak lo cantik juga Le," kata Verell yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Leo.
"Masih muda banget keliatan nya ya," sahut Karel.
"Iya beda dua tahun dari gua."
"Waah bisa lah ini mah."
"Jangan macem-macem." Leo menatap Verell tajam.
"Mampus gak dapet restu," ledek Alfi.
Mereka berempat menghabiskan waktu dengan saling mengobrol banyak hal, bercanda dan tertawa sampai malam hari yang mengharuskan mereka pulang ke rumah masing-masing.
Setelah sampai di rumah disambut dengan ibu nya yang terus saja menyuruh nya untuk mengajak teman-teman nya Leo untuk berkunjung sesekali ke rumah mereka, Leo hanya mengiyakan saja ucapan ibu nya itu. Salsha yang bernotabene sebagai ibu dari Leo sangat senang akhirnya anaknya mempunyai teman, ia mendapatkan kabar itu dari Alvera yang mengatakan kalau Leo datang ke cafe nya mengajak teman-teman nya.
"Lain kali ajak kesini Leo."
"Iya mom," balas Leo sambil berjalan menuju kamar nya.
Padahal hanya teman saja tapi orang tua nya sesenang itu, Leo tidak habis pikir.
"Melelahkan." Leo berbaring di kasurnya setelah berganti pakaian santai.
Leo menatap lemari pakaian nya lalu menghampiri nya dan membuka nya. Leo membuka laci yang berada di dalam lemari nya sambil melihat pistol yang ia sembunyikan selama ini.
"Jangan sampe kak Alvera nemuin ini, gua harus pindahin." Leo mengambil pistol itu lalu megambil penyekat kecil di laci nya lalu memasang nya di bawah meja di dekat kasur nya lalu meletakkan pistol nya di bawah meja yang sudah ia pasangi penyekat agar pistol nya tersimpan disana dan tidak jatuh.
Leo menoleh pada ponsel nya yang menyala menandakan ada pesan atau telfon. Leo berjalan mengambil ponsel nya yang tertera nama Allea menelfon nya, Leo dengan cepat mengangkat nya, karena Leo sudah mengatakan pada Allea kalau terjadi sesuatu katakan pada nya, telfon dirinya dan sekarang Allea menelfon nya pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Kenapa?"
Leo tidak mendapatkan jawaban, Leo hanya mendengar suara tangisan Allea sepertinya Allea tidak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi, jadi Leo langsung mengambil jaket dan kunci motor nya untuk datang ke rumah Allea. Leo menggunakan motor nya karena akan lebih cepat menyalip dan semakin cepat ia sampai ke rumah Allea.
"Gua ke sana," ucap Leo sebelum menutup panggilan nya.
Leo berjalan terburu-buru keluar.
"Leo mau kemana? makan malem dulu," teriak Salsha.
"Duluan aja mom, aku ada urusan." Leo berjalan sambil menghubungi Nanas untuk mengatakan pada mata-mata yang di perintahkan nya untuk mengawasi rumah Allea apakah terjadi sesuatu disana, apa mereka mengawasi nya dengan benar, lalu kenapa Allea menangis.
"Urusan apa tuh bocah? paling maen lagi," ucap Alvera.
"Yaudah biarin, kalian lanjut makan aja," ujar Aldi.
"Iya pa."
Leo mengendarai motor nya dengan cepat menuju rumah Allea, Leo berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Allea. Dan kenapa juga mata-mata yang di perintahkan untuk mengawasi rumah Allea tidak menghubungi nya sama sekali. Apa yang mereka lakukan memang.
"Astaga." Leo melihat mayat dengan tubuh yang terkoyak di bagian perut nya dengan organ tubuh nya yang keluar di depan halaman rumah Allea membuat siapapun yang melihat nya pasti mual.
"Allea," panggil Leo memasuki pagar rumah Allea dan berjalan masuk untuk menemui Allea memastikan apa Allea baik-baik saja.
"Allea." Leo mengetuk pintu rumah Allea.
Leo menunggu sampai pintu itu terbuka menampilkan pembantu yang kemarin sudah sempat bertemu dengan Leo membuka kan pintu.
"Dimana Allea?"
"Di dalem," ucap nya sambil menunjuk kan dimana kamar Allea berada.
"Non Lea ada Leo dateng nih."
Leo mengikuti saja sampai masuk kedalam kamar Allea dimana Allea yang tengah meringkuk menangis.
"Allea." Leo menghampiri Allea.
"Hikss... Leo." Allea langsung memeluk Leo.
Leo diam saja tidak tau harus apa jadi Leo memilih diam saja.
"Kenapa?"
"Hikss... satpam hikss... itu." Leo mengelus kepala Allea yang berada dipundak nya.
Leo menoleh kearah bibi yang masih disana meminta jawaban dari pertanyaan nya karena ia tau Allea tidak akan bisa menjelaskan nya saat ini.
"Itu tadi tiba-tiba ada yang gedor pager depan terus pas kita ke depan ada mayat satpam yang hancur itu, non Lea syok banget liat mayat itu,"jelas nya membuat Leo mengerti.
Melihat mayat sehancur itu bagi yang tidak pernah melihat nya itu akan membuat sangat ketakutan apalagi berada di depan rumah seperti itu dan itu orang yang di kenal. Leo mengerti mengapa Allea se histeris ini.
"Udah gak apa-apa, nanti gua suruh orang buat beresin itu semua."
"Hiks... itu satpam hiks..."
"Iya iya."
"Bibi keluar dulu, tadi bibi udah panggil pak rt soalnya."
"Iya."
"Hikss... selama ini hikss... gak separah ini."
"Sstt udah, yang penting lo gak apa-apa." Leo masih mengelus Allea yang masih menangis.
Leo tidak habis pikir kemana mata-mata yang Leo perintah kan itu sekarang, kenapa dia tidak memberitahu Leo apapun, kenapa sampai teror ini kembali terjadi. Kenapa bisa mereka sampai lengah, bukan nya ini sangat mudah diketahui kalau sampai mereka meletakkan mayat di depan rumah Allea pasti mereka membawa mayat itu kesini kan, kenapa mata-mata nya sampai tidak tau.
Leo melirik Allea yang sudah tidak mengeluarkan isak tangis nya dan hanya terdengar suara dengkuran halus.
"Tidur."
Allea menangis sampai tertidur seperti nya, sudah pasti Allea sangat lelah saat ini. Ini sangat kejam kalau hanya sekedar untuk meneror, ini benar-benar bisa membuat mental seseorang hancur. Orang-orang itu sepertinya sangat ingin membuat keluarga Allea sangat hancur.
Leo meletakkan Allea di kasur nya dan menelfon Nanas.