bc

A Thief In The Garden of Spring

book_age12+
detail_authorizedDIIZINKAN
38
IKUTI
1K
BACA
billionaire
like
intro-logo
Uraian

Lelaki itu bernama Hann, seorang anak berusia 15 tahun yang memutuskan untuk melarikan diri akibat perceraian orangtunya dan berharap menemukan kehidupan yang damai di suatu tempat di salah satu kepulauan paling timur di Pasifik, di Moruz. Akan tetapi, di perjalanan ketika ia berlabuh di stasiun Belousva, ia tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cerdas bernama Nala, yang membuatnya membatalkan lawatannya ke Moruz seketika.

“Setiap orang punya musim seminya masing-masing, dan pada perempuan itulah, musim semiku dicuri begitu saja.”

_____

Bisa berbincang dengan penulisnya melalui akun i********: @ikarovski

Selamat menikmati :)

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 1
Hann “Seperti kedatangan seekor katak yang tiba-tiba, setiap kelahiran juga adalah kelahiran yang cepat dan spontan. Sim salabim, seorang manusia memasuki tempat yang baru, yang berbeda sekali dengan sebelumnya. Kau tahu, aku tak menghendaki diriku terlahir. Aku tidak meminta kepada siapa pun, dan aku juga tak disuruh oleh siapa pun. Tetapi aku berusaha untuk menjadi baik. Kalau begitu, siapa yang dapat menghentikan penciptaan?” tanyanya. “Terlanjur hidup berarti memilih sekotak penderitaan. Alangkah menyenangkannya jika lahir dalam ketiadaan, tak perlu pertanggung jawaban, tak perlu juga pengadilan. Hidup memang tidak sesederhana ketika kematian datang, tetapi hidup juga tak serumit pintalan-pintalan benang kusut. Semuanya normal, tapi tidak normal. Kadang tidak normal, tapi sebenarnya normal. Ah, hidup memang kadang se-membingungkan itu,” kataku meracau pada pukul tiga pagi. *** Semua berawal ketika aku mulai menyadari soal ini, sebuah pikiran yang menyeramkan dan begitu tak berdaya. Aku menyadari betul jika hidupku memang terlalu merepotkan banyak orang. Bukan ketika aku hidup saja, bahkan sejak kelahiranku pun, itu sudah menjadi masalah. Bangkit dari kematian adalah salah satu masalah buatku. Tetapi atas kasih Tuhan (yang sebenarnya tak perlu diberikan), ruhku dikembalikan. Ibuku mengatakan jika aku lahir dalam keadaan tak bernapas dan prematur. Ibu saat itu benar-benar menghawatirkanku. Sang perawat yang mengurusiku kemudian menepuk-nepuk punggung lalu mengangkat kedua kakiku persis seperti daging sapi yang digantung di pasar-pasar. Aku juga tidak menangis ketika aku lahir. Hanya ibu lah yang saat itu menangis. Bahkan kata ibu pun, ia sudah pasrah jika aku harus mati setelah kelahiranku. Yah, kuharap juga begitu. Mati bukanlah pilihan yang buruk amat-amat sebenarnya.   Lalu, apakah kelahiran manusia selalu diharapkan? Awalnya aku tidak berpikir seperti itu karena toh aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa soal harapan. Sedari awal, manusia memang tak perlu diberi harapan, itu lebih baik untuk beberapa hal sebelum manusia jatuh tak tertolong. Menyedihkan, menyengsarakan, dan begitu menderita sekali. Kemudian, diceritakan padaku jika aku masuk inkubator untuk beberapa hari dengan diterangi lampu seterang 100 watt. Lalu tiga atau empat selang masuk ke dalam tubuhku, dan saat itu keajaiban terjadi; aku kembali hidup! Orang-orang di sekelilingku kadang menyebutku seperti, “Aku seperti dibangunkan dari kematian.” Dan dari beberapa perkataan saudaraku (yang nantinya kuputuskan hubungan dengan mereka), sempat berkata, “aku adalah mayat hidup.” Orang-orang itu memang benar-benar kejam, ya? Bahkan orang-orang yang menjatuhkanmu adalah orang yang juga adalah orang terdekatmu. Sampai aku suatu hari, aku tidak pernah berurusan dengan mereka kali sekalipun. Di mataku, sekarang tidak ada siapa pun lagi selain kesendirian yang panjang dan mencekam, yang sialnya harus kujalani dengan sukarela. Mau atau tidak, siap atau siap, yah.. rasanya seperti menghadapi kematian jenis baru, tentu saja.   Masa kecilku memang tak baik. Aku selalu membuat onar dan kegaduhan di mana-mana. Seantero desa –kalau mendengar namaku; Hann, mereka pasti mengatakan, “Oh itu, aku tahu! Dia anak tengik! Dia anak tak berotak! Tukang rusuh! Pembuat onar di mana-mana!” dan lain sebagainya. Itu kata-kata yang mungkin biasa aku dapatkan ketika orang di luar Verge bertanya soal aku. Lalu setelah dewasa, aku tahu alasan kenapa dulu aku selalu berbuat gaduh. Tidak lain jawabannya memang sederhana; dengan berbuat demikian, aku mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang. Dan ini adalah jenis mekanisme pertahanan yang kulakukan ketika aku kecil demi menghadapi kesendirian yang lamat-lamat, pada akhirnya tak bisa terpisahkan dariku. Ya, tak salah memang apa yang dikatakan orang-orang soal tak berotak. Barangkali pengertiannya bisa seperti ini; aku meracuni penangkaran ikan hias sampai dua atau tiga kolam di sana dipenuhi jasad ikan-ikan mati, mencerabuti gandum-gandum yang hendak dipanen, menginjak-injaknya, merusaknya, lalu mencerabuti tanaman-tanaman di ladang yang baru saja ditanam, membakar lahan-lahan hijau yang tersisa, mencuri ban dari bengkel tetangga lalu kubakar dan kugelindingkan ke salah satu mobil yang lewat persis di persimpangan jalan –mobil itu hampir terbakar, lalu menaburi semua permen kapas dengan pasir ketika pedagangnya sedang tidak ada, mencuri ayam di peternakan, membakar pakaian-pakaian kering yang masih belum diangkat dari jemuran, menggunting-gunting tanaman hias di pekarangan rumah tetangga, mencuri mangga-mangga di kantor-kantor administrasi desa, menghardik anak orang, menebang pohon-pohon sengon di kebun orang, merusak kuburan, lalu mengambil batu nisannya dan kutempelkan di salah satu rumah tetanggaku. Dan keesokan paginya, betapa kagetnya penghuni rumah ketika mendapati halaman rumah mereka terdapat nisan orang mati! Bayangkan itu! Dan lusa, aku kena amuk banyak warga. Sejak saat itu, orang-orang mulai menjauhiku. Mereka melarang anak-anaknya bermain denganku karena tak mau tertular penyakit bebalku yang seperti virus zika itu. Kukira dari sinilah masalah pertama muncul.  Lalu aku tumbuh. Pelan-pelan, sampai ada seorang teman yang mau menerimaku sebagai temannya. Namanya adalah Alisa. Alisa Naftalena, tentu saja. Perempuan yang rumahnya persis di samping rumahku, sekaligus dialah orang pertama yang mengeluarkanku dari kesunyian yang selama ini cukup lama menerpa dan tinggal bersamaku untuk beberapa waktu. Alhasil, kami selalu pergi bersama, kapan pun itu. Aku pergi ke taman kanak-kanak bersama, pulang bersama, main bersama, makan bersama, dan apa pun yang kulakukan selalu bersama. Seingatku, tamu yang kuundang pertama kali di acara ulang tahunku yang kelima pun, adalah Alisa. Potongan kue yang pertama kali kuberikan juga adalah Alisa. Jadi ketika aku kecil, hari-hariku erat kaitannya dengan Alisa. Sampai suatu hari Alisa pun menjauhiku. Itu karena, aku telah menghanyutkan baju kesayangaannya di sungai lalu di hari ulang tahunnya dengan riang kukatakan, “kejutan…” terangku dengan senyum yang mengembang dan tangan terentang. Kukira Alisa akan tertawa dengan kejutanku yang bodoh ini, sampai sepuluh detik kemudian, ia mendaratkan tamparannya yang amat keras ke pipiku. Alisa menangis dan sejak itu, Alisa tak pernah lagi ada di kehidupanku. Bahkan, ia meminta kepada orang tuanya untuk pindah rumah. Apakah aku sebebal itu dulu? “Minggu depan aku akan pindah,” katanya. “Hann, aku tak ingin jadi tetanggamu lagi,” kembali ia menegaskan ketika tak sengaja aku lewat di depan rumahnya. “Ini adalah perbincangan kita yang terakhir,” jelasnya lagi. Hari kamis ketika Alisa benar-benar pindah, aku kehilangan temanku satu-satunya. Lalu ketika duduk di bangku sekolah dasar, aku punya kawan dekat. Namanya Svein. Suatu ketika kami bermain mercon menyambut tahun baru di belakang rumahnya. Tetapi lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama; aku melemparkan segepok merconnya ke dapur, selang sepuluh sampai lima belas menit, setengah dari dapur itu terbakar. Akhirnya aku kena semprot orangtuanya, juga kena damprat orangtuaku. Dan betapa terkejutnya para tetangga dengan kobaran api yang kian membesar. Satu mobil pemadam kebakaran akhirnya didatangkan untuk menangani kasus ini. Dan aku berharap masalahku selesai. Tapi ternyata, ada masalah lain yang tidak kusadari. Dua hari ke depan, ayah dan ibu putar otak untuk mengganti semua kerugian yang didapat keluarga Svein. “Kau anggap semua yang telah kau rusak itu tak mesti diganti?” Aku bahkan tak tahu soal etika moral dalam hidup sebagai manusia. Oleh karena kebebalan yang tak kunjung sembuh, ayah dan ibu melarangku untuk keluar rumah. Nah, itu pun adalah masalah yang lain akibat ulahku sendiri. Tak ada kehidupan sosial yang dikatakan orang-orang dalam pelajaran ilmu pengetahuan sosial ketika aku masih anak-anak. Sebagai akibatnya, kuhabiskan waktu sendirian di rumah untuk jangka waktu yang sangat lama. Sampai kuberpikir, apakah manusia mampu hidup sendirian? Pikiran itu muncul ketika aku beranjak tumbuh menjadi remaja. Tetapi jika aku ingin keluar di masa-masa itu, aku biasanya melemparkan barang-barangku keluar pagar taman. “Barang-barangku ada di luar pagar, aku ingin mengambilnya,” terangku pada ibu. Awalnya ibu tidak keberatan jika aku hanya mengambil barang-barangku di luar pagar taman saja. Alih-alih mengambil barang-barang, aku berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumah ketika pintu gerbang sudah terbuka lebar untuk lari. Dan untuk pertama kalinya, aku belajar pelajaran berbohong; ibu berhasil kukelabui. “Bebas!” jiwaku meronta. Namun, kebebasan yang selama ini aku idam-idamkan ternyata tak benar-benar berarti banyak walau aku sudah keluar dari sarangka. Ketika itu terjadi, aku tidak mendapati siapa-siapa di sana. Tak ada kawan yang mau diajak bermain, dan tak ada seorang pun yang mau diajak bicara. Inilah yang menjadi masalah buatku; dunia mendadak kehilangan suaranya. Dunia yang tadinya bising penuh kegilaan kini berhenti seketika. Daun-daun hijau yang bisa kurobek seketika, padi yang menguning yang bisa kuberikan pada burung-burung, buah-buah yang berwarna merah yang bisa kucuri, atau salju-salju yang berwarna putih, langit, serta samudra yang membiru itu tiba-tiba mendadak kehilangan warnanya. Bahkan orchestra yang didengungkan di atas gala konser pun tak pernah lagi mengeluarkan bunyi. Radio tak lagi bersuara, televisi tak lagi berwarna. Seorang penyanyi hanya cuap-cuap saja di depan mikrofonnya. Sang pemukul drum hanya menggerakkan tangannya dan para pemain bass dan gitar hanya memetik senarnya tanpa pernah mengeluarkan satu bunyi pun. Lalu ayam pagi yang berkokok tak lagi terdengar suaranya, hanya gelagatnya saja yang terlihat seperti ingin batuk di depan mataku. Desing-desing kendaraan pun tak lagi terdengar, hanya kepulan asaplah yang bisa kusaksikan. Abu-abu, kusam, dan kotor. Satu-satunya suara yang bisa kudengar di dalam sini hanyalah suara yang muncul dari kesunyian. Orang lain barangkali tak bisa mendengarnya, tapi aku bisa, walau itu adalah suara rintihan yang amat sangat menyakitkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook