Hann Aku hendak berbaring di tepian pantai bersama Nala di ujung paling timur prefektur Moruz, di sebuah pantai bernama Prynne, yang sempat menjadi tujuan awalku pergi dari rumah. Kami berbaring tanpa tenda, tanpa syal, tanpa kaus kaki, dan tanpa sarung tangan. Hanya jaket tipis yang kami kenakan. Bersama deburan ombak yang berwarna biru terang akibat proses biolumenesensi, juga angin malam yang mengerang. Di bawah langit penuh gemintang, kami menatap bintang dan langit yang sama, di tempat yang sama, dan di waktu yang sama. Hanya aku dan Nala, berdua saja. “Andai pemandangan seperti ini dapat kita lihat setiap harinya,” katanya. “Itu pasti akan membosankan. Maksudku, segala sesuatu yang terulang akan membosankan,” sergahku tiba-tiba. “Hmm…,” Nala berpikir sejenak. “Tak ada perasaa

