Hukuman Pak Irwan

1475 Kata
Lima belas menit kemudian… "Alhamdulillah…" kata Laras dan Bagas bersamaan, lega setelah berhasil memanjat pagar. "Ayo, ketahuan telat ya kalian berdua…" kata Mang Udin, penjaga sekolah, muncul dari balik pohon. "Eh, Mang Udin…" seru Laras dan Bagas bersamaan, gugup. "Hehe… iya, Mang Udin…" "Ya sudah, sekarang ikut Mang Udin yuk…" ajak Mang Udin. "Haa, ke mana, Mang?" tanya Laras, penasaran. "Ke guru piket…" jawab Mang Udin. "Tunggu, tunggu, Mang! Sekarang guru piketnya siapa?" tanya Bagas, mencoba mengulur waktu. "Iya, Mang, sekarang guru piketnya siapa emangnya?" tanya Laras juga, berharap guru piketnya orang yang baik hati. "Pak Irwan…" jawab Mang Udin, tanpa ekspresi. "Haduh, Pak Irwan lagi…" keluh Laras, wajahnya langsung jatuh. "Pak Irwan kan guru yang paling killer di sekolah ini, apalagi kalau sudah memberikan hukuman. Haduh…" keluh Bagas, ikut putus asa. "Ya sudah, ayo ke Pak Irwan…" ajak Mang Udin, membawa mereka menuju ruang guru. Sementara itu, di kampus… Universitas Garuda Jakarta Aku pun akhirnya sampai di kampus dan mengikuti mata kuliah di kelas. Laras dan Bagas menerima hukuman dari Pak Irwan karena keterlambatan mereka. "Kamu lihat Bayu nggak?" tanya Sekar, cemas. "Enggak…" jawab Agus, menggeleng. "Enggak? Oh, ya sudah, terima kasih ya. Haduh, Bayu ke mana lagi, kok belum datang juga? Tumben…" keluh Sekar, semakin khawatir. "Eh, Sekar, kamu ngapain di sini?" tanya Arum, seorang mahasiswi baru. "Saya menunggu teman saya. Oh, iya, Rum, ada yang ingin saya kenalkan padamu, tapi dia belum datang. Kamu bisa tunggu sebentar sama aku nggak ya di sini?" tanya Sekar, ramah. "Oh, bisa dong…" jawab Arum, tersenyum. "Assalamu’alaikum…" Bayu tiba-tiba muncul, menyapa mereka. "Wa’alaikumussalam…" jawab Arum, Sekar, dan Agus serentak. "Nah, itu dia, Bay, sini…" panggil Sekar, lega. "Ya…" jawab Bayu, menghampiri mereka. "Eh ya, ada yang mau aku kenalin ke kamu nih…" kata Sekar, memperkenalkan Arum. "Siapa, Kar? Mahasiswi baru ya?" tanya Bayu, penasaran. "Iya, kenalin, namanya Arum, mahasiswi pindahan dari Yogyakarta." jawab Sekar. "Oh… Bayu…" Bayu memperkenalkan diri. "Iya, saya Arum." Arum membalas sapaan Bayu. "Oh ya, Kar, kamu sudah selesai belum skripsinya?" tanya Bayu pada Sekar. "Sudah dong. Kamu sendiri bagaimana, Bay?" tanya Sekar balik. "Dikit lagi. Kalau Arum sendiri sudah selesai belum skripsinya?" tanya Bayu pada Arum. "Sedikit lagi, sama seperti kamu," jawab Arum, tersenyum manis ke arah Bayu. "Oh ya, gini saja deh, kalian berdua selesaikan skripsi kalian berdua di rumah gue?" usul Sekar. "Oke, boleh. Gue nyusul habis mata kuliah terakhir…" jawab Bayu. "Oke…" seru Sekar, setuju. "Ya sudah, gue ke kelas dulu ya, ada jam kuliah nih…" pamit Bayu. "Oke, sampai ketemu nanti…" kata Sekar. "Oke, Gus… Duluan ya." pamit Bayu pada Agus. "Oke, Bay…" jawab Agus. Di kelas Bayu… "Eh, Bay, tugas elu sudah selesai belum?" tanya Cahyo, teman sekelas Bayu. "Sudah dong…" jawab Bayu, percaya diri. "Mana?" tanya Cahyo lagi, penasaran. "Nih…" jawab Bayu, sambil menyerahkan tugasnya. .... SMA Garuda Jakarta… "Kalian berdua sekarang saya hukum, dan hukuman untuk kalian berdua adalah berjemur di lapangan sekolah, sampai nanti bel istirahat berbunyi. Paham?" tanya Pak Irwan, tegas. "Paham, Pak…" jawab Laras dan Bagas bersamaan, lesu. "Ya sudah, sana ke lapangan! Pak Udin…" panggil Pak Irwan. "Siap, Pak Irwan… Ada apa, Pak?" tanya Mang Udin, menghampiri Pak Irwan. "Awasi mereka berdua." perintah Pak Irwan. "Laksanakan…" kata Mang Udin, mengangguk patuh. Di lapangan sekolah… "Duuhh…" keluh Laras, kepanasan terik matahari. Keringat membasahi dahinya. "Kamu kenapa?" tanya Bagas, melihat Laras tampak menderita. "Kepanasan, Mas Bagas! Ini semua gara-gara kamu!" jawab Laras, sedikit kesal. "Loh, kok gara-gara saya sih?" tanya Bagas, bingung. "Ya iyalah salah kamu! Coba saja kamu nggak berhenti tadi, kita nggak akan telat juga, nggak akan dihukum juga tau!" jawab Laras, nada suaranya masih sedikit tinggi. "Oh, gitu…" seru Bagas, menyadari kesalahannya. "Ya iyalah!" tegas Laras. Bagas berpikir sejenak, lalu berdiri dan mencari posisi yang tepat. Ia berdiri di antara Laras dan matahari, menghalangi sinar matahari langsung mengenai Laras. "Ya sudah, nggak kepanasan lagi kan sekarang?" tanya Bagas, sambil tersenyum. Laras tersenyum, merasakan sejuk di bawah naungan tubuh Bagas. "Iya…" jawabnya, suaranya lebih lembut sekarang. Ia merasa sedikit malu karena telah menyalahkan Bagas. Tindakan Bagas barusan membuatnya menyadari bahwa Bagas sebenarnya peduli padanya. Universitas Garuda Jakarta.. "Akhirnya sudah selesai mata kuliah hari ini, saatnya ke rumah Sekar. Ah, hampir lupa, harus WA Bagas untuk ke rumah Sekar." kata Bayu. Percakapan Bayu dan Bagas melalui w******p: [Bayu: Assalamu'alaikum Gas, nanti kamu dan Laras ke rumah teman aku ya. Laras tahu kok rumahnya, nanti tanya saja rumahnya Sekar, gitu ya..] [Bagas: Waalaikumsalam, Bay. Oke sip, nanti kita kesana setelah pulang sekolah. Ada apa sih di rumah Sekar?] [Bayu: Ada tugas kelompok yang harus dikerjain bareng. Sekar udah nungguin.] [Bagas: Oke, paham. Sampai ketemu nanti!] SMA Garuda Jakarta "Akhirnya catatan hari ini selesai juga, tinggal ke kantin sekolah deh.." kata Laras. Di kantin sekolah.. "Bagas.." panggil Dhika. "Ya Dhik, kenapa?" tanya Bagas. "Kamu lagi nyari siapa? Kelihatan buru-buru banget," tanya Dhika. "Aku lagi cari Laras, Laras kemana ya Dhik?" tanya Bagas. "Masa aku tahu? Bukan pengasuhnya, kali! Mungkin masih di kelas," jawab Dhika, sedikit kesal. "Pesankan siomay atau batagor dua ya, untuk aku dan Laras," pinta Bagas. "Iya, eh kamu mau kemana sih, kok buru-buru banget?" tanya Dhika. "Ke kelas Laras, dong," jawab Bagas. "Oh, ya udah, cepetan ya. Nanti aku pesenin," kata Dhika. "Oke," seru Bagas. Di kelas Laras.. "Assalamu'alaikum.." Bagas memberi salam pada Laras. "Wa'alaikumussalam.." Laras membalas salam Bagas. "Yuk, kita ke kantin," ajak Bagas. "Iya, bentar ya, aku masukin buku dulu," jawab Laras. "Ya udah, cepet ya. Bantuin, nggak?" tanya Bagas. "Enggak usah, udah selesai kok. Yuk, ke kantin," tolak Laras. "Yuk," ajak Bagas lagi. Di kantin sekolah.. "Udah belum, Dhik?" tanya Bagas. "Udah nih, batagor dua, minumnya es teh manis, sesuai pesanan 'yayang'mu," jawab Dhika sambil menyeringai. "Makasih ya, Mas Dhika," kata Bagas. "Iya, sama-sama," jawab Dhika. Di rumah Sekar "Duh, kok belum ada balasan juga ya dari Bagas," gumam Bayu dalam hati. "Kamu kenapa, Bay?" tanya Sekar. "Nungguin balasan dari Bagas, dia sama Laras katanya mau kesini," jawab Bayu. "Oh," seru Sekar. "Ya udah, yuk lanjut kerjain tugasnya," ajak Sekar. "Yuk," jawab Bayu. "Hp mulu, Gas! Kan di sini udah ada 'bebeb' Laras," keluh Dhika, sedikit bercanda. "Yang boleh manggil 'bebeb' atau 'dede' Laras cuma aku doang, ngerti nggak, Dhika?" tanya Bagas, nada suaranya sedikit cemburu. "Emm, iya..." jawab Dhika singkat, sambil menahan tawa. "Eh, Bagas Wicaksana, bisa nggak usah nyembur-nyembur gitu?" keluh Dhika lagi, merujuk pada kebiasaan Bagas yang suka menyemburkan minumannya saat bicara bersemangat. "Haha.. Basah ya? Sini aku lap," kata Laras, lalu mengelap keringat di dahi Dhika dengan tisu. Bagas langsung cemburu melihatnya. "Ih, maaf! Ini gara-gara kakak... Ih, Dhika itu 'dede' Laras ku sayang, ih..." Bagas cemburu karena Laras yang malah membersihkan keringat Dhika. "Hehe.. Sekali-kali kenapa? Masa kamu terus sih? Lagian juga, Gas, selama janur kuning belum melengkung, sah-sah aja Laras dimiliki siapapun, ya nggak, 'bebeb' Laras?" ledek Dhika, semakin memancing cemburu Bagas. "Iya, boleh kok, Mas Dhika. Hehe..." jawab Laras, ikut tertawa. "Tetap aja nggak boleh, Dhika! 'Dede' Laras tetep punya aku!" kata Bagas, masih cemburu. "Haha..." Dhika dan Laras tertawa bersama. "Ssttt... udah diem! Ini nih, kakak ipar gue WA," kata Bagas, mengalihkan perhatian. "Haa... Kakak ipar siapa, Mas Bagas?" tanya Laras, penasaran. "Bayu Aji, alias Mas Bayu. Hehe..." jawab Bagas. "Hemm..." gumam Laras. "Emangnya Mas Bayu WA apa?" tanya Laras lagi. "Nih, baca aja," jawab Bagas, memberikan ponselnya pada Laras. Percakapan Bayu dan Bagas melalui w******p: [Bayu: Assalamu'alaikum Gas, nanti kamu dan Laras ke rumahnya teman aku ya. Laras tahu kok rumahnya, nanti tanya aja rumahnya Sekar, gitu ya..] "Oh... Aku balas ya? Boleh nggak?" tanya Laras. "Boleh dong, balas aja," jawab Bagas. "Emangnya Mas Bayu chat apa sih? Mas Dhika juga mau lihat dong," kata Dhika, mendekati Laras. Bagas kembali cemburu. "Emm, Dhika, kan udah aku bilang, jangan deket-deket 'dede' Laras ku sayang! Dia itu punya aku, tau!" kata Bagas, cemburunya semakin menjadi. "Kan udah kubilang juga tadi, selama janur kuning belum melengkung, sah-sah aja Laras dimiliki siapapun, ya nggak, 'bebeb' Laras?" tanya Dhika, menyindir Bagas. "Iya, Mas Dhika," jawab Laras. "Tuh, dijawab dengan 'bebeb' Laras, Gas..." ledek Dhika. "Ih... sekali nggak boleh ya nggak boleh! Hemm... minggir!" Bagas masih cemburu saat Dhika mendekati Laras. "Udah, udah... Kok kenapa jadi rebutan aku sih? Aku mau balas chat dari Mas Bayu aja nggak bisa!" keluh Laras, kesal. Percakapan Bayu, Laras, dan Bagas melalui w******p: [Bayu: Assalamu'alaikum Gas, nanti kamu dan Laras ke rumahnya teman aku ya. Laras tahu kok rumahnya, nanti tanya aja rumahnya Sekar, gitu ya..] [Laras: Wa'alaikumussalam Mas Bay, iya nanti aku ke sana sama Mas Bagas ya. Ini aku Laras.] Di rumah Sekar "Nah, akhirnya dibalas juga," kata Bayu lega. Percakapan Bayu dan Laras melalui w******p: [Bayu: Assalamu'alaikum Gas, nanti kamu dan Laras ke rumahnya teman aku ya. Laras tahu kok rumahnya, nanti tanya aja rumahnya Sekar, gitu ya..] [Laras: Wa'alaikumussalam Mas Bay, iya nanti aku ke sana sama Mas Bagas ya. Ini aku Laras.] [Bayu: Oke..]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN