Chapter 18: Perasaan yang tak terbalaskan........
Kalo boleh jujur, Salsa sebagai pengamat kadang kasian sama Hansel.
Dari dulu dia udah naksir sama Hazel, tapi nasibnya apes mulu.
Dulu pas smp imej yang Hansel bangun runtuh karena Hansel takut sama soang. Padahal Hansel udah berusaha semanly mungkin buat dilirik Hazel.
Terus pas sma, Hansel sering kecolongan. Karena Hazel emang terkenal cantik jadi dia sempet jadian sama cowok-cowok famous. Sayang aja hubungan Hazel sama pacarnya ga pernah langgeng karena Hansel selalu ngintilin Hazel.
Ya, siapa juga yang suka kalo pacarnya diintilin sama cowok macam Hansel yang lebih posesif sama Hazel ketimbang pacarnya sendiri?
Pas kuliah sih kecolongan paling parah. Hazel jadian sama musuh Hansel sendiri, Yohan, dan sialnya Hazel bucin banget sama Yohan. Hansel kan ga tega ngancurin hubungan mereka, lagian dia juga kuliah di Jerman.
Jadi Hansel cuman bisa berdoa setiap malam agar Hazel putus sama Yohan.
Untung aja doanya Hansel terwujud sekarang—sebenarnya udah lama terkabul sih, cuman Hansel baru tau sekarang karena dia ngurusin kuliahnya terus.
Ya soalnya Hansel ga mau liburannya nanti dipake buat remedial. Mendingan pulang kan biar bisa ketemu Hazel.
Tapi tetap aja, Hazel seolah enggak melihat usaha Hansel. Dia selalu berkata, "Paan sih Sel, jangan bercanda ah."
Dikiranya perasaan Hansel sebercanda itu apa? Dasar manusia enggak peka!
Hansel lantas tertawa, tentu saja dia mentertawai dirinya yang bodoh karena masih mencintai Hazel. Kalo bisa juga Hansel ingin berhenti mencintai sahabatnya itu.
Tapi mengetahui fakta bahwa Hazel putus dari pacarnya, Hansel seolah diberi lampu hijau oleh sang penggaris takdir.
"Terserah lo dah Zel, tapi gua ga pernah bercanda kalo sama elo mah," kata Hansel dengan nada serius. Toh mana bisa dia bercanda sama orang yang menjadi tujuan hidupnya selama bertahun-tahun, tujuan untuk bahagia bersama tentunya.
Hazel bergidik ngeri lalu memukul lengan Hansel. "Hansel kok lo jadi gini sih. Astaga merinding gua."
Salsa seketika kasian sama Hansel. Kadang Salsa bingung, kenapa Hansel enggak pernah nyoba nembak Hazel secara resmi, padahal dia sendiri tau sahabatnya ini bukan tipikal orang yang tega menolak orang lain.
Kalo Hazel bisa menerimanya sebagai teman, berati ada kemungkinan Hazel akan menerima orang itu jadi pacarnya. Toh kalo Hazel tidak menyukai orang tersebut, Hazel akan menjauhkan diri secara terang-terangan.
Salsa rasa kemungkinan Hansel diterima lebih dari 60% sih, tapi kenapa HANSEL ENGGAK NEMBAK JUGA?! kan greget anjir!
Sekali lagi Salsa menatap Hansel, tatapannya mengisyaratkan kalo Hansel harus segera jujur sama Hazel tentang perasaannya. Tapi Hansel malah ikut tertawa, ah sepertinya Hansel tidak melihat kode dari Salsa.
'Kampret! Dua-duanya bukan mahluk hidup! Ga peka semua.' Yaudah biarin aja dah, Salsa bodo amat. Toh kan yang tak terbalaskan itu perasaannya Hansel
........
Sean memijit hidungnya sendiri, untung saja seharian ini dia bisa mengatasi semua masalah yang berkenaan dengan perusahaannya. Meskipun akhirnya dia sangat lelah sampai enggak sempat buka ponsel sama sekali.
Tapi sekarang dia udah santai di kasurnya, dia juga udah memegang ponsel pintarnya.
"Ah, Hazel lagi ngapain ya?" tanya Sean, jujur aja semenjak Hazel pergi dari rumahnya Sean memiliki feeling yang enggak enak. Tapi Sean selalu berdoa agar Hazel baik-baik saja dan feelingnya tidak benar.
Seingat Sean, Hazel ini tipikal orang yang rajin update snap wa. Update-annya random, dari mulai kegiatan sehari-hari sampe sesi curhat seputar kehidupan fangirlingnya. Jadi ketika sudah rebahan santai sembari memegang ponselnya, aplikasi pertama yang Sean buka adalah wa.
Tentu saja Sean mau liat snapwanya Hazel, 'Hazel ngapain aja hari ini?'
Awal ngeliat snapwa Hazel, gadis itu tentunya memposting foto makanan, lalu foto teman-temannya. Namun lama kelamaan nge-tap layar ponsel, Sean ngerasa dia melihat foto orang yang sama.
'Ini siapa?' tanya Sean sembari memandang layar ponselnya degan serius. Jujur dia agak terganggu ketika melihat Hazel hanya memposting lelaki yang memakai kaus putih itu.
Di caption emang ada namanya, Hansel. Sean ingat nama itu pernah Hazel sebut, Hansel ini sahabat Hazel yang baru balik dari Jerman. 'Tapi kok isi snapwanya cowok ini semua?'
Masalah pertama, Sean enggak tahu siapa dia dan hubungannya dengan Hazel yang sepertinya lebih dari sahabat. Kedua sepertinya Hazel Senang dengan lelaki itu. 'Apa-apaan sih?' batinnya kian dengki saja ketika melihat keseluruhan snapwa Hazel.
Sean yang merasa terancam lantas mengetikan balasan singkat untuk snapwa terakhir Hazel.
........
Ketika Hansel pulang ke Indonesia, Hazel pasti akan seharian bersama sahabatnya itu. Toh emang dasarnya sejak SMP bareng dalam berbagai macam cobaan kompetisi, makannya sampe sekarang Hazel akrab banget sama Hansel.
Apalagi sekarang Hazel udah enggak sama Yohan, dia bebas mau main sampe jam berapapun sama Hansel! Keduanya benar-benar berSenang-Senang sabtu ini, banyak mengobrolkan hal random dan ajaibnya tidak bosan sama sekali, padahal Gilang dan Salsa udah pamit pulang karena terlalu lelah ngadepin mereka yang apa aja dibacotin, dari mulai kalahnya Pak Uwo sampai jahatnya mnet.
"AHAHAHAH MAMPUS KALAH!" Hazel ketawa keras ketika mengetahui Hansel kalah dengan mesin panco.
Gadis yang sempat memoto wajah drep Lee Hansel itu lantas memasukan hasil jepretannya ke snapwa, soalnya lucu aja. Hazel suka.
"Hansel, ayo coba permainan itu!" Hazel menunjuk salah satu permainan di timezone lalu menarik Hansel, padahal pemuda itu belum setuju.
Hazel suka permainan yang nantinya akan mendapatkan poin berupa kertas yang bisa ditukarkan dengan barang. Sekarang ditangannya udah banyak kertas poin itu, ditangan Hansel juga. Kan lumayan banget. Duit yang dia pake buat beli koin akan kembali lagi dalam bentuk makanan atau barang.
Karena ini malam minggu, ada banyak orang di timezone, Hazel jadi harus mengantri sebelum memainkan permainan yang ingin dia mainkan.
Kebetulan saat menunggu ponselnya bergetar. Ah ternyata ada pesan masuk dari Bapaknya Deon
Sean: Siapa?
Hazel: Itu sahabat saya pak
Sean: Berdua doang maennya?
Hazel: Sama yang lain juga kok Pak
Sebenarnya Hazel memang mainnya cuman berdua sama Hansel, cuman yah enggak enak juga bilang gitu. Apalagi jawaban Sean seolah menyuruhnya untuk segera pulang. Ngapain coba ngatur-ngatur, ortunya Hazel aja santai.
Duh kan Sean ngechat lagi.
Sean: Cewek atau cowok?
Hazel: Em emang kenapa?
Hazel: cewek cowok kok
Sean: Pulang
Sean: Udah malem
Hazel: Baru jam 8 kok pak
Sean: Bentar lagi jam 9. Kamu nunda pulang mau di cap jelek sama tetangga?
Hazel: Eh .. enggak pk
Sean: Pulang
Hazel: iya
Hazel jujur malas membalasnya, jadi ketika ada pesan lagi Hazel memilih untik mendiamkannya. Kebetulan ini saatnya dia bermain, jadi Hazel menitipkan ponselnya pada Hansel. "Titip dulu ya."
Hansel sih iya-iya aja, toh cuman ponsel. Tapi layar ponsel Hazel masih menyala, dan aplikasi wa masih terbuka.
Karena Hazel enggak pernah marah kalo Hansel ngebuka wanya, Hansel jadi bisa leluasa melihat isi chat Hazel.
Tapi karena yang paling atas dari kontak bernama Bapaknya Deon,
jadi Hansel iseng membuka yang itu terlebih dahulu. Sayang aja pas dibaca isi Chatnya bikin Hansel kesel.
'Apa-apaan sih, kok ngatur-ngatur Hazel?'
Hansel tau sejak dulu Hazel enggak pernah suka diatur-atur--meskipun ujung-ujungnya Hazel harus nurut sama ortunya dan mengikuti berbagai macam lomba yang tak ia suka—jadi Hansel berinisatif membalas chat dari Sean agar lelaki itu enggak ngatur idup Hazel.
Hazel: Tolong jangan atur-atur sahabat gue
Hazel: Ortu bukan
Hazel: Pacar juga bukan
Hazel: Apalagi suami
Hazel: Cuman bos tapi kok kerjaannya ngatur pegawainya.
Hazel: kalo sahabat gue enggak lagi kerja, ga usah ikut campur, ini bukan ranah Bapak
Hazel: Jadi suka-suka Hazel mau pulang jam berapa juga.
Sean: Jaga ketikan kamu.
Hansel tertawa melihat balasan terakhirnya, dia memilih untuk ngemute chat dari kontak bernama Bapaknya Deon ini. Biar enggak ngeganggu lagi.
Masih baik kok, dia enggak ngeblokir ataupun ngehapus, cuman ngemute biar Hazel enggak keganggu aja.
"Yeyy dapet 200!" Hazel berseru Senang sembari menunggu tiket poinnya keluar. 200 merupakan jumlah yang besar loh.
Hansel tersenyum mendengarnya lalu mengusap rambut Hazel. "Aje gile, lucky banget lo hari ini."
"Ahaha iya nih, dapet banyak gua," kata Hazel sembari menunjukan hasilnya pada Hansel. "keknya malem ini gua bakal makan banyak."
"Jangan bilang semua ini bakal lo tukerin sama makanan."
"Ya kalo enggak sama makanan, sama apa lagi coba?" tanya Hazel. "biar kosan gua ada makanan aja sih."
"Iya sih."
"Btw Sel, lo malem ini tidur dimana?" tanya Hazel. Kemarin malem dia udah tidur di kosannya Gilang, tapi karena malem ini Gilang pulang duluan Hazel enggak yakin Hansel bakal ke kosan Gilang. Kalo pulang ke rumah bisa aja sih, tapi males.
"Entah," Hansel nampak bingung. "kalo kosan lo aja gimana?"
"Bisa sih, tapi gua ga punya kasur lipet. Ga apa?"
Ga apa-apa Zel, malah sangat enggak apa-apa. Hansel emang maunya gitu.
"Yaelah sekasur aja, badan gua ga segede itu buat tidur di kasur lipet," balas Hansel sembari tertawa. "lagian dulu kita sering tidur bareng di kelas, lupa?"
"Enggak sih," kata Hazel santai, toh emang yang dikatakan Hansel benar. Kedua anak itu sering tidur bareng kalo diatas jam 12 siang, apalagi pas pelajaran sejarah. Hazel dan Hansel itu pernah sekelas dan mereka temen sebangku. "gua cuman takut elo tiba-tiba nendang gua aja pas tidur."
"Ya kali," Hansel ketawa ngakak. "enggak lah. Gua ga sejahat itu."
"Siapa tau," Hazel nyengir lebar, bikin Hansel gemash bukan kepalang. "em yaudah, lo mau main ini? Koinnya belum abis."
"Boleh."
Hansel menerima tawaran Hazel dengan Senang hati, dia ingin segera menghabiskan koin yang dia beli dengan Hazel. Biar cepet pulang dan, 'tidur barengg Hazell, yey.'
...