[TSP] hukuman

1201 Kata
“Ya mana saya tahu. Makanya, sekali-kali lihat suasana sekitar, jangan main HP aja.” Peringatan dari Dharma tiba-tiba saja berputar di kepalanya itu langsung membuat Geya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Hampir saja dia lupa pada misinya mengawasi keadaan sekitar. Mulai hari ini, dia harus berjaga-jaga. Kalau saja mata-mata Ahmad juga turut menguntit Geya, bisa-bisa kondisi sebenarnya hubungan Geya dan Dharma terbongkar lalu … boom! Geya yakin pria paruh baya itu tak akan diam saja saat dia dikhianati. Kiri, kanan, depan, dan belakang. Aman. Sejauh pengamatannya, hanya ada perawat yang mondar-mandir membawa berbagai macam peralatan medis di lantai ini. “Geya.” Jantungnya hampir saja copot. Tidak ada penguntit. Namun, tiba-tiba saja seorang spesialis bedah dan residen bedah muncul entah dari mana di waktu yang bersamaan pula! Ini namanya tidak jatuh tapi tertimpa tangga. Geya membungkuk penuh hormat. “Selamat pagi Dokter Dharma dan Dokter Aryo,” sapanya yang tentu saja berusaha bersikap senormal mungkin. Semoga di pagi yang mendung ini dia tidak terkena kesialan. “Mana tugas kamu? Saya cek di meja kok nggak ada,” todong Aryo dengan wajah berang. Kening Geya sontak berkerut dalam. “Tugas?” bisiknya clueless. Baru jam tujuh pagi dan sudah ada tugas yang harus dikumpulkan. Wajah Aryo tampak semakin kusut saja begitu membaca reaksi “saya tidak tahu” dari Geya. “Tadi malam saya kasih tugas di grup. Kamu nggak baca?” Mata Geya berkedip cepat selaras dengan jantungnya yang seperti mesin pompa yang dipaksa bekerja seribu kali lebih cepat. “D-dokter kasih jam berapa, ya?” “Setengah dua malam. Tugas itu seharusnya sudah ada di meja saya maksimal jam tujuh.” Matilah dia. Kepala Geya rasanya berkunang-kunang. Apa dia pura-pura pingsan saja supaya tidak dimarahi? Kepalanya menunduk dalam, tidak berani menatap dua pria galak yang tinggi menjulang di hadapannya. “M-maaf, Dok. Saya jam segitu sudah tidur,” cicitnya. “Alasan. Temanmu yang lain saja bisa.” Geya tak menjawab. Dia menyesal langsung tidur setelah pulang dari warung soto semalam. “Kerjakan sekarang. Saya mau siang ini sudah siap.” “Tidak usah.” Kepala Geya sontak terangkat, menatap Dharma dengan wajah melongo. Apa pria itu mendadak baik dan akan membantunya? “Tidak adil kalau cuman disuruh seperti itu. Yo. Biar koas ini lebih bertanggung jawab, tambahkan hukumannya,” ucap Dharma yang TENTU SAJA, langsung disetujui oleh Aryo. Ya Allah … rasanya Geya ingin melayang saja mendengar usulan Dharma. “Kerjakan tugas yang tadi, nanti saya akan kirim tiga jurnal dan kamu buat rangkumannya dalam bahasa tidak lebih dari tiga halaman, dan buatkan saya ilustrasi lapisan lambung full warna. Besok sore sudah harus ada di meja saya.” *** Kepala Geya sudah mengepulkan asap hitam. Kacamata antiradiasi yang ia kenakan sampai turun ke ujung hidung, sementara rambutnya yang dijepit asal sudah tak berupa lagi. Pertama, Geya mengerjakan tugas sebelumnya di ruang belajar, lalu membuat ilustrasi lapisan lambung di ruang membaca, dan kini dia tengah menerjemahkan jurnal di ruang tamu. Sudah pukul dua malam dan Geya bahkan belum sampai merangkum setengah dari satu jurnal yang halamannya hingga ratusan ini. “Sudah jam segini. Kok belum tidur kamu?” Geya langsung menatap kehadiran Dharma bersama setelan tidurnya dengan pandangan sinis. Apa dia lupa siapa yang menyebabkan semua ini? Langkah pria itu terhenti. Geya bisa menebak, sekarang Dharma tengah berdiri tepat di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, sementara matanya menilai setiap gerak-gerik yang dilakukan Geya. “Kamu ngerjain dari jam tujuh malam sampai sekarang belum siap?” Geya berdecak. “Kalau sebanyak ini dua malam juga belum tentu siap,” ketusnya. “Ya … memang mustahil siap malam ini,” sahut Dharma, dengan entengnya mendaratkan tubuh di sofa dan menghidupkan TV. Geya manahan rasa dongkol dengan sedemikian rupa. Dengan kasar, jarinya mengetik tombol keyboard, seolah berusaha menyaingi suara TV yang disetel dengan volume keras. “Mas, bisa kecilin suaranya nggak? Aku jadi nggak fokus,” pintanya dengan wajah nelangsa. “Nggak,” jawab Dharma tanpa menoleh. “Tapi aku jadi nggak fokus ….” Geya mengulang kembali alasannya, kali ini dengan suara yang terdengar lebih serak. Sumpah, rasanya ia ingin menangis sekarang. “Belajar untuk fokus. Seorang dokter harus bisa fokus dalam kondisi apapun.” Cukup sudah. Geya tak bisa lagi menahan gejolak berbagai emosi yang bercampur menjadi satu sekarang. Tanpa ia tahan, air mata Geya mengalir begitu saja, disusul dengan lendir yang membuat hidungnya seketika tersumbat. “Lah, nangis?” “Siapa sih yang nggak nangis?! Udah jam segini masih banyak yang belum dikerjain, ngumpulnya pagi. Mas nonton TV kencang-kencang lagi! Gimana bisa ini siap tepat waktu? Semua ini gara-gara, Mas!” cecarnya frustasi, tak peduli jika Dharma menganggapnya kurang ajar. Alis pria itu menukik tak suka. “Kamu yang nggak ngerjain tugas kok malah mengkambing hitamkan saya,” balasnya sengit. Geya menarik napasnya dalam-dalam. “Coba kalau Mas nggak kasih ide aneh-aneh ke Dokter Aryo, pasti aku cuman disuruh siapin tugasnya aja. Dasar nggak punya hati!” “Kamu itu yang nggak punya rasa tanggung jawab. Saat kamu memilih untuk menjadi seorang dokter, seharusnya kamu sudah tahu apa yang perlu kamu korbankan. Waktu. Setahu saya nggak pernah ada koas yang berani kasih alasan karena dia sudah tidur. Kamu ini satu-satunya koas paling tidak disiplin yang pernah saya temui. Saya hanya memberimu sedikit pelajaran.” Geya terdiam, tak lagi ingin berdebat dengan Dharma karena sudah pasti pria itulah yang menang. Geya akan rugi jika dia mengorbankan waktunya yang berharga demi menanggapi pria itu. Jadi, lebih baik dia kembali mengerjakan jurnal sialan ini sekarang. “Aryo bilang maksimal tiga halaman. Kenapa kamu ngetik sampai sepuluh halaman begitu?” Geya melirik kesal. Dasar pengganggu! “Ini jurnalnya aja tiga ratus halaman lebih, gimana mau ngeringkas tiga halaman coba?” Dharma menggelengkan kepalanya heran. “Dikasih yang mudah malah mau yang suli. Aneh kamu.” “Nggak usah komentar! Nggak bakalan aku dengar,” balas Geya tak kalah sinisnya. “Ge, kamu ke atas. Ambil dua berkas yang sudah saya print di atas meja.” Mata perempuan itu sontak berputar jengah. “Mas nggak lihat aku lagi ngapain? Ambil aja sendiri sana!” tolaknya mentah-mentah. “Saya malas.” “Aku lebih malas.” “Sudah, sana kamu ambilkan dulu! Nggak sampai lima menit juga.” Dharma kembali menyuruh. Namun, kini dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Geya berdecak. Kakinya lantas terentak dengan keras saat menaiki satu-persatu anak tangga sambil menggerutu dalam hati. Punya tangan punya kaki kenapa nggak ambil sendiri? Lagian dia juga nggak ngapa-ngapain. Memang adasar suka nyuruh! Memang buah nggak jatuh tak jauh dari pohonnya. “Nih!” Geya menyerahkan dua berkas yang masing-masing berisi tiga lembar kertas pada Dharma yang masih santai menonton acara TV. Dharma melirik sekilas. “Kamu baca.” Ujung bibirnya menganga. Namun lagi-lagi, Geya mengikuti perintah Dharma. Dalam hati, dia membaca satu-demi satu kata yang tercetak diatas kertas putih polos sebelum otaknya menemukan sesuatu yang familiar dengan apa yang tengah ia kerjakan. “Ini kok?” “Itu ringkasan dua jurnal yang dikirimkan Aryo. Jumlah halamannya juga tiga ratus lebih tapi saya bisa buat ringkasan jadi tiga halaman. Kamu baca baik-baik itu, tiru polanya, ambil saja satu poin variabel bebas yang paling esensial dan hasilnya. Jangan menyusahkan diri sendiri begitu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN