Geya menyeduhkan segelas teh dengan tambahan rose buds, lantas menyerahkannya pada Dharma yang sedang fokus membaca koran pagi.
“Apa ini?” tanyanya heran, menatap gelas teh dan Geya secara bergantian.
“Teh oolong. Aku racik spesial sebagai tanda terima kasih aku,” jawab Geta dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya di pagi yang tak kalah cerah ini.
Dengan wajah kusut, Dharma menjauhkan gelas teh itu. “Nggak perlu. Saya mau kopi.”
Helaan napas terdengar. “Mas setiap hari minum kopi tapi nggak sarapan. Nggak bagus tau buat lambung. Diganti jadi teh aja, Mas. Biar lebih sehat,” bujuk Geya, kembali mendekatkan gelas teh itu.
“Kamu daripada ngerecokin saya pagi-pagi mending pergi sana! Nanti kalau kesiangan stasiunnya ramai,” usir Dharma yang mulai terganggu atas keberadaan Geya. “Bi Siti, siapin kopi kayak biasa!”
“Jam segini biasanya udah ramai sih ….”
Dharma kembali melirik Geya yang malah memainkan salad yang ada di piringnya. “Ya sudah sana pergi!” usir Dharma sekali lagi. Biasanya juga jam segini Geya sudah tidak ada di rumah, tetapi hari ini entah kenapa dia masih santai di sini.
“Tadi aku bangun kesiangan, Mas. Mau nyusul kereta jam segini juga pasti nggak kekejar, sih,” jelas Geya dengan wajah suram.
“Jadi?” sebelah alis Dharma terangkat, menanti Geya mengatakan maksud sebenarnya.
“Em …. Sebenarnya aku nggak enak sih, minta kayak gini. Tapi, aku nggak punya pilihan lain. Boleh nggak aku hari ini pakai motor?” pintanya dengan wajah membulat penuh harap.
Bibir Dharma menipis. “Nggak,” tolaknya tanpa pikir panjang.
“Mas … ayolahhh,” bujuknya. “Kalau nggak begitu aku bisa terlambat”
“Terus kamu ngebut-ngebutan di jalan dan berakhir nabrak tiang lagi? Nggak,” tegas Dharma yang seperti biasa, keputusannya tak akan bisa diganggu gugat.
“Mas, nanti aku telat!” ulang Geya dengan sedikit memaksa. “Hari ini aja. Aku janji nggak bakal ngebut, pleaseeee!”
Kepala pria itu menggeleng pelan. “Saya bilang tidak ya tidak, Ge.”
Geya menghela napasnya. “Kalau begini aku telat dong, Mas! Biasanya Dokter Aryo visit pagi-pagi, nanti dia pasti bakal marah kalau koasnya hilang satu,” desak Geya yang kini kesabarannya sudah mulai terkikis.
Lagian dia hanya minta izin naik motor sehari saja apa susahnya, sih? Rempong banget!
Dharma mengedikkan bahu dengan acuh. “Itu konsekuensi kamu. Siapa suruh bangun kesiangan.”
“Massss!” Geya yang sudah kehabisan akal bertindak nekat, tanpa pikir panjang ia mengguncang tubuh Dharma, membuat pagi pria itu semakin terusik.
“Lepas,” ucap Dharma dengan dingin.
“Tapi izinin aku naik motor hari ini, ya?” pancing Geya sekali lagi.
“Tidak. Lagian saya juga sudah lupa taruh kuncinya di mana.”
“Ish! Jadi aku gimana ini, Masssss?” rengek Geya, kembali mengguncang tubuh Dharma sebagai pelampiasan kepalanya yang sudah mulai panik.
“Ck, hari ini kamu sama saya aja.”
“Apa?” guncangan sontak berhenti. Pandangan Geya menatap Dharma lurus setengah tak percaya.
“Khusus hari ini. Jangan keenakan kamu besok bangun terlambat lagi,” tegas Dharma dengan wajah setengah ikhlas.
Senyum Geya sontak merekah lebar. Jika saja dia tidak ingat siapa yang di hadapannya, Geya pasti sudah memeluk Dharma sembari berterima kasih penuh kegirangan.
***
“Kenapa lo, Ge?” tanya Lia yang baru bergabung ke meja mereka, heran menatap Geya yang terlihat kaku membaca modulnya.
“Lagi pura-pura budek, Ya,” jawab Ridho yang kentara sekali sedang kesal. Pria itu sampai tidak tahan untuk tidak menatap Geya dengan sinis.
“Kenapa kalian berdua?” Lia kembali bertanya dengan ekspresi heran yang bertambah dua kali lipat. Tidak biasanya Geya dan Ridho bertengkar.
“Lihat noh kawan lo! Gue nanya juga pakai acara pura-pura sibuk segala,” sahut Ridho berapi-api.
“Lo nggak lihat gue lagi belajar, Dho? Nanyanya nanti-nanti aja kali kalau lagi luang,” balas Geya tak mau kalah, kembali fokus membaca modulnya.
“Nanya apa sihhh?” Lia kembali bertanya dengan nada gemas, sama sekali tidak dapat menebak alasan dari pertengkaran mereka. “Nanya apa, Dho?” tanya Lia lagi setelah dirinya tak mendapatkan jawaban apapun dari Geya.
Meski terdengar ogah, Ridho akhirnya buka suara, “Gue nanya, tadi pagi gue mata gue kayak lihat Geya sama Dokter Dharma keluar mobil bareng. Jadi gue nanya, dia berangkat sama Dokter Dharma? Eh malah di kacangin gue. Asem banget teman lo itu!”
Geya yang diam-diam mendengarkan hanya bisa menahan keringat dinginnya. Terkutuklah Dharma yang tidak mau menurunkannya di halte terdekat! Dia sudah mendapatkan firasat buruk saat mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam area parkiran dan seperti dugaan, dia tertangkap basah!
Lia mengerjapkan mata. Ekspresinya terlihat shock sesaat sebelum akhirnya sadar dan menormalkan ekspresi itu. “Nggak salah lihat lo?” tanya Lia yang masih menolak untuk percaya.
Kalau saja Lia tidak tahu bagaimana hubungan Dharma dan Geya aslinya, sudah pasti dia akan mempercayai penglihatan Ridho begitu saja. Tapi masalahnya, hubungan Dharma dan Geya tidak “sebaik” itu. Jadi rasanya mustahil mereka berangkat bersama.
“Gue lihat jelas mobil Fortuner hitam terus Dokter Dharma keluar!” seru Ridho optimis.
“Terus Geya?”
“Gue … gue lihat punggungnya,” jawab Ridho yang suaranya langsung memelan, hampir terdengar seperti bisikan lirih yang tak akan terdengar dengan jelas jika mereka bukan sedang di perpustakaan rumah sakit.
“Lo lihat punggung Geya?” Lia hendak memastikan sekali lagi.
Namun, Ridho malah menggelengkan kepalanya. “Mirip.”
Tanpa sadar, napas Lia berhembus lega. Dia pikir dirinya baru saja ketinggalan update penting hubungan Geya dan suami tercintanya itu. “Ngaco lo!” seru Lia sambil menjitak kepala Ridho.
“Tapi gue serius! Dari belakang mirip banget sama Geya. Dia pakai jaket hijau!” balas Ridho yang tak terima dikatakan ngaco.
“Lo punya jaket hijau, Ge?” todong Lia yang dari ekspresinya seolah akan menendang Geya jika dia tak menjawab.
“Enggak,” jawab Geya yang—tentu saja—mencari aman. Untung saja jaket hijau yang dikenakannya sudah disimpan dengan aman di ruangan Dharma.
“Nah kan, nggak mungkin Geya! Lagian lo punya ide dari mana sampai mikir itu Geya sih, Dho? Orang dia sama Dokter Dharma aja ngobrolnya bisa dihitung jari.”
Ridho menggaruk kepalanya. “Ya kan siapa tahu Geya diam-diam selama ini PDKT sama Dokter Dharma,” balas Ridho tak mau kalah.
“Lo mau Ge, PDKT sama Dokter Dharma?” tanya Lia lagi.
“Ogah!” balas Geya dengan cepat. “Mending gue jadi muridnya Dokter Aryo seribu tahun daripada PDKT sama Dokter Dharma.”
“Kenapa?” celetuk Ridho tak habis pikir. “Tampang Dokter Dharma termasuk oke, dia anaknya yang punya rumah sakit, otaknya juga oke. Kalau gue cewek nih ya, gue pasti udah ngincer Dokter Dharma. Mana dia belum nikah lagi!”
“Siapa bilang saya belum nikah?”