“Kamu serius mau seperti ini, Ge?” Helaan napas terdengar. Dharma memandangi istrinya yang kini tengah menyusun bantal dan guling dengan sedemikian rupa pada sofa. “Sehari ini tidur di kamar aja, ya? Kasurnya kan besok pagi sudah datang,” tawar Dharma sekali lagi, mencoba untuk membujuk Geya yang keras kepala. Geya menggeleng dengan tegas, kini merebahkan tubuhnya pada sofa sempit yang sudah ia susun sedemikian rupa agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Intinya, dia tidak mau tidur di kamar selama kasur sialan itu masih ada. Dharma duduk di ujung sofa, memperhatikan Geya yang terus menggeliat, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk tidur. “Sofanya sempit, Ge. Nanti tidurmu nggak nyaman,” ujar pria itu, masih berusaha membujuk Dharma dengan wajah memerah menahan kesal. “Pokoknya aku

