Geya terbangun tepat pukul lima pagi dengan Dharma yang masih memeluknya erat. Satu tangan pria itu melingkar di pinggangnya, sedangkan satu lagi ia gunakan sebagai bantal untuk menyangga kepala Geya. Tangan Geya bergerak hati-hati, berusaha mengangkat tangan Dharma yang melingkar di pinggangnya agar bisa meloloskan diri. Hari ini, ia harus berangkat lebih awal ke rumah sakit untuk visit pasien dan mengejar ketertinggalannya lantaran semalam absen. “Ge?” Baru satu langkah, suara Dharma terdengar. Pria itu mengucek-ngucek matanya, hendak memastikan yang tengah berdiri di hadapannya itu Geya. “Aku mau masak sama siap-siap. Kamu tidur lagi aja,” ujar Geya, tanpa menunggu balasan langsung berjalan ke dapur. “Bi.” Geya tersenyum ramah pada Bi Siti yang ternyata sudah bersiap-siap di dapur

