Tawa Gamala bergema keras, memenuhi seisi mobil. “Lucu banget kan, Mas? Masa baru ketemu dua kali aku udah dilamar aja,” ucap Gamala dengan penuh semangat. “Terus kamu terima?” tanya Dharma datar, sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari cerita Gamala barusan. Sama sekali tidak masuk akal. Pria itu pasti gila karena berani melamar seseorang hanya dalam dua kali pertemuan—di sebuah club malam. “Well … aku belum kasih jawaban yang pasti.” Tangan Gamala bergerak mengambil cincin yang ia simpan dalam tasnya, lalu memutar cincin permata itu beberapa kali. “Tapi aku ambil cincinnya sebagai janji kalau aku akan memikirkan tawaran dia.” Dharma lantas menghela napas mendengar jawaban Gamala barusan. “Siapa nama pria itu tadi?” “Richard. Dia anak bungsu dari pemilik bar yang sering ak

