Sudah seminggu berlalu, dan Dharma masih belum mendapatkan telepon dari Geya. Ahmad semakin berkoar heboh, terus menuntut Dharma untuk membawa perempuan itu ke rumah dalam waktu dekat. Namun jika tidak, pria paruh baya itu akan menikahkannya dengan salah seorang anak yang dianggapnya “pantas”. Dharma panik tentu saja. “Mas ini bercanda?” Aryo hampir saja memuntahkan makanannya kala mendengar curhatan dari seniornya itu. Dharma berdecak, terus memandangi salad-nya dengan tak berselera. “Saya tidak punya pilihan lain.” “Ya tapi ini agak terlalu ….” Aryo memilih menggantungkan kalimatnya. Ia yakin Dharma bisa mengerti maksudnya dengan baik. Dharma berdecak, kembali menyeruput ice americano yang tinggal setengah sementara saladnya ia biarkan terlantar begitu saja. “Menurut saya, wajar-w

