Dharma tidak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya. Sejujurnya, Dharma bukan tipe orang yang memutuskan sesuatu secara spontan. Dharma selalu mempertimbangkan segalanya dengan matang, tetapi kali ini, ia akui aksinya bodoh. Mengaku-ngaku akan menikahi seorang perempuan asing hanya karena nama itu yang kebetulan terlintas di kepalanya, apa lagi yang lebih bodoh dari itu? Ahmad tentu saja tidak tinggal diam setelah mengetahui Geya yang dimaksud anaknya itu adalah seorang mahasiswi kedokteran biasa penerima beasiswa tidak mampu dari yayasannya. Pria paruh baya itu marah besar, sampai-sampai Farhan kelimpungan setelah diperintahkan membawa Geya ke rumahnya detik itu juga. “Biar saya saja,” cegat Dharma sebelum Farhan menaiki mobil, hendak menuju ke kediaman Geya. “Bapak memerintahkan saya

