Fikri menatap ke luar. Tangannya meraba bingkai jendela. Sudah beberapa hari ini hatinya tidak tenang. Bahkan membaca kitab Tafsir Ayat Ahkam yang menerangkan tentang hukum sihir pun ia tak berminat. Pikirannya penuh dengan pilihan. Meski ia telah berbincang dengan Rani. Hatinya tetap tak berubah. Ia terus-menerus memanggil nama Ana. Ketika mereka bertemu di halaman belakang, Rani tampak bingung. Fikri pun. Ayah dan ibunya malah meninggalkan mereka berdua. Andai Ana di situ waktu itu, pasti suasana berbeda. Fikri tak akan hanya diam. Ia pasti akan mengajaknya berbicara. Tapi bukankah calon istrinya adalah Rani bukan Ana? Yang berarti Fikri harus belajar untuk mencintai Rani. “Aku tak menyangka kalau kamu mondok di sini.” Akhirnya sebuah kalimat teruntai dari mulut Fikri. Rani tersenyum.

