Dengan mengenakan kaus lengan pendek dan sedikit polesan minyak pada rambutnya, Arvi siap meluncur. Siulan senang terdengar sepanjang koridor menuju lift. Matanya melirik ke segala arah dengan kedua tangan bersarang di saku. “Masih satu jam lagi, tapi nggak apa-apa,” lirihnya saat melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Hari ini dia mengajak Ara untuk pergi berdua, istilah kerennya date. Memikirkan itu membuat dia tersenyum sepanjang jalan. Rasanya masih mustahil dia bisa berani mengajak Ara pergi. Pintu lift terbuka, seperti biasa dia melangkahkan kaki dengan angkuh saat melewati lobi. Beberapa staf dan karyawan menunduk saat berpapasan dengannya, tidak biasanya dia membalas sapaan. Arvi tersenyum dan mengangguk ramah hanya saat hatinya tengah senang, mereka tahu itu. Karena bia

