12. Makhluk Di Sudut Ruangan

1848 Kata

Memori tadi berputar kembali. Saat Arvi dan dirinya memberi ucapan selamat, tampak dari mata Adam yang penuh penyesalan.rasanya Ara membenci semua hal dan keadaan sekarang. Dia tidak ingin melihat penyesalan yang bahkan tidak berguna itu. Ara termenung memandangi langit Jakarta, dia mengingat kembali raut bahagia Adam dan Syifa. Saat Arvi sempat membuatnya goyah, namun Arvi segera mencairkan suasana dengan bersikap mesra, seperti mencium pipi Ara. Entah kenapa tapi dirinya masih ragu membuka hati untuk Arvi, dia merasa masih banyak rahasia dari pria itu yang tidak diketahuinya. “Mbak ini tehnya,” Ara segera melihat siapa yang menaruh gelas dihadapannya. “Oh, Faris. Ma kasih ya,” jawabnya, menengguk sedikit air teh. “Mbak Ara jangan banyak melamun, mikirin apa sih sampai saya masuk n

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN