Arvi memasuki rumah Ara dengan tergesa, senyumnya terukir jelas di wajah tampannya. Sepi, itulah yang dirasakan Arvi saat sampai di ruang tamu. Dia memasuki ruang makan dan menemukan mbok Sinem tengah menyiapkan makanan di atas meja. Tersenyum lagi, Arvi merutuki dirinya sendiri yang bertamu pada waktu sarapan. “Mas Arvi, tumben pagi-pagi udah kesini cari Mas Radit ya?” Tanya mbok Sinem seraya mempersilahkan Arvi duduk. Dia lumayan mengetahui siapa sosok Arvi, dia pria yang menyenangkan dan tidak angkuh. Bahkan Arvi memperlakukannya seperti orang lain. “Iya mbok, Radit nya belum berangkat kan?” Tanya Arvi basa basi. Maaf ya dit, sementara lo, gue jadiin alas an dulu. “Aduh, mas Arvi nya telat. Baru aja mas Radit nya berangkat,” jawab mbok Sinem yang kembali menata meja makan. “Yah t

