Dulu impian Bryan adalah menjadi pacar Ara, dulu sekali Ara adalah idolanya, gadis impiannya. Namun semua berubah semenjak kecelakan itu terjadi. Dia tidak bisa menghubunginya malam itu, padahal mereka sudah janji akan pergi keluar untuk mengerjakan project. Bryan kira, gadis itu hanya merajuk dan tidak ingin bicara dengannya, tapi setelah pagi hari dia mendapat kabar bahwa mereka mengalami kecelakan.
Apa yang Bryan lakukan? Tentu saja pria itu hanya bisa diam saja tanpa bisa melakukan apapun, mereka tidak mengijinkan siapapun untuk menjenguk Ara, bahkan teman terdekatnya sekalipun.
Lalu setelah semua membaik, Ara bisaberangkat ke sekolah cowok itu ingin membuatpengakuan. Davinak remaja yang dihujani rasa rindu. Tapi lagi-lagi ada saja penghalang untuknya membuat pengakuan, tanpa ada tanda apapun dia sudah bersama Adam. Apalagi yang bisa Bryan perbuat? Seakan semesta memang tidak pernah merestuinya mendapaykan Ara.
Lalu kini, saat gadis itu di campakkan Adam dia masih berharap. Namun apa daya, dia tidak akan pernah menang melawan pria yang telah berjuang lebih keras darinya, Arvi.
“Ngapa lo, ngelamun terus,” Suara Kevin memecahkan bayangan di pikirannya, “Ayo latihan lagi, jangan lupa turnamennya sebentar lagi.”
Bryan menenggak habis air di botol minumannya, iya Kevin benar. Dia tidak ada waktu untuk urusan percintaan, turnamen Thomas Cup akan di gelar dalam hitungan hari. Sebagai tunggal putra yang membawa nama tDavinah air ke kancah internasional dia harus membawa hasil yang membanggakan.
Di remasnya botol itu hingga bunyi nyaring pun terdengar, di pelataran dia membuangnya ke tempat sampah. Setelahnya menyusul Kevin yang sudah berjalan memasuki istora.
Selesai latihan Bryan memutuskan untuk mampir ke Caffe Ara, tidak dia tidak akan menggoda gadis itu. Dia ingin melepaskan semua bebannya selama ini, cukuplah sampai disini cinta satu hatinya berjalan. Sudah waktunya dia berani melepas.
Topi hitam bertuliskan puma menjadi senjata pamungkasnya jika memasuki kerumunan, setelah memarkirkan mobilnya dia bergerak untuk membuka pintu. Matanya mencari sosok Ara yang biasanya berdiri dibalik meja barista, namun hari ini berbeda. Hanya pegawainya yang ada di sDavina.
Saat matanya masih berkeliling, tak sengaja menangkap punggung Arvi yang menggenggam ponsel di telinga kiri. Dia akan akhiri semuanya disini.
“Permisi,” ujar Bryan, pria itu mengangkat pandangannya dan mengangguk. Tampak jika panggilan tersebut tidak bisa di abaikan.
Setelah menaruh ponsel di meja, Arvi mengernyit, “sepertinya pernah lihat, tapi dimDavina ya?”
Bryan mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Arvi, “Bryan Kusuma,” ucapnya tersenyum manis.
Arvi membulatkan mulutnya, makanya dia tampak tidak asing. Dia atlet yang sering dia tonton di TV, ya meskipun dia juga punya saluran Tv tapi kan jarang bisa berjabat tangan dengan pebulu tangkis nomor satu dunia.
“Wah, saya sering lihat di Tv, masih nggak percaya bisa ngobrol begini.”
“Haha, bisa aja pak Arvi ini,” cengir Bryan seraya tersenyum kikuk.
Arvi kini yang tersipu, mimpi apa dia bisa dikenali oleh orang seperti Bryan. Perbincangan berlangsung menyenangkan, mereka bahkan lebih sering tertawa menghiraukan keadaan sekitar. Blitz kamera dengan terang-terangan memotret mereka namun keduanya tampak tidak terganggu sedikitpun.
“Sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu pada bapak,” Bryan meletakkan cangkir Amaricano nya di meja. Menatap Arvi dengan serius.
“Saya mau menitipkan Ara kepada bapak, saya tahu tidak berhak mengatakan ini. Tapi bapak berhak tahu bahwa saya akan bersiap dan merebut dia dari bapak, jikalau sekali saja dia nangis gara-gara bapak.”
Arvi meletakkan sikunya pada meja, kedua tangannya bertaut dibawah dagu, dia mulai memahami sedikit arah pembicaraan mereka kali ini. Dia baru tahu bahwa orang di depan ini menantangnya bertarung. Tapi tenang saja, dia tidak akan merelakan Ara untuk siapapun jadi percuma saja dia menunggu.
******
Rasanya lega setelah menyatakan pengakuan gilanya pada calon pacar Ara, dia bahkan tertawa saking malunya. Tapi sudahlah hatinya sudah lega sekarang. Setelah memasang sabuk pengaman, Bryan hendak pergi sebelum pintu di sampingnya terbuka dan menampakkan seorang perempuan ber hoodie dengan kaca mata hitam. Dia duduk di sampingnya dan bahkan mengencangkan sabuk pengaman.
“Are you kidding me?” ucap Bryan dengan suara mulai meninggi. Dia bahkan tidak mengenal perempuan ini.
“Gue tau lo kok. Bryan Kusuma kan? Peraih medali emas Asian Games di tunggal putra,” perempuan itu menurunkan kaca mata hitamnya dan menatap Bryan seperti teman lama.
“Wait. What!?”
Dengan santainya, Davina menaruh tas tangannya di jok belakang, dia bahkan menyandarkan kepalanya seakan tengah menikmati ini, “Gue tadi di kejar wartawan, nggak ada pilihan Cuma lo yang gue kenal disini.”
Emang s***p nih cewek, batinnya.
Bisa-bisanya mereka saling mengenal hanya karena perempuan ini tahu namanya. Bryan mematikan mesin mobilnya, dengan bersidekap dia menuntut penjelasan. Dia tahu banyak kamera sedang bersembunyi dan menyorot mereka. Dia tidak punya waktu untuk menonton gosip terkini jadi dia tidak tahu siapa gerangan yang duduk berdua dengannya. Tapi dilihat dari jumlah kamera yang ada, perempuan ini cukup terkenal bahkan lebih darinya.
“Terus maksud lo masuk ke mobil gue apa? Mau buat gue masuk acara gosip?” Bryan menatap nyalang Davina, dia bahkan akan membunuh perempuan ini saking kesalnya.
Davina yang tidak terintimidasi membuka akun instagramnya, dia membuka laman akun gosip dan menunjukkannya pada Bryan, “Gue baru putus sama b******k ini, dan sekarang dia ketangkep masalah n*****a. Gue nggak mau terlibat lagi.”
Bryan melepas topi dan mengacak rambutnya frustasi, “Gue nggak perduli, mending sekarang turun dari mobil gue.”
Melihat Bryan yang masih gigih, tidak ada pilihan lagi bagi Davina, dia harus membujuk atlet tampan ini agar mau membantunnya.
“Bryan tolong sekali ini aja bantuin gue, lagipula lo nggak akan rugi apapun kok. Lo tahu kan gue nggak punya banyak haters,” ucapnya dengan mata merengek.
Ya bagaimana Bryan tahu, dia bahkan tidak kenal siapa Davina ini. Sepertinya dia artis pendatang baru, buktinya Bryan sama sekali tidak mengenalinya.
“GUE ENGGAK PEDULI!”
Bryan berusaha meraih knop pintu dan mendorong perempuan s***p ini agar keluar dari mobilnya. Citranya sebagai atlet berbakat yang tidak pernah tersentuh rumor berpacaran akan ternoda oleh Davina. Sebentar lagi turnamen juga di adakan, jangan sampai ada rumor sebelum itu.
Namun sekeras Bryan mencoba mengusirnya sekeras itu pula perlawanan Davina. Dia menutup pintu dengan tubuhnya, kini mereka berdua saling berhadapan.
“Minggir nggak?!” ancam Bryan.
Davina masih menggeleng dengan kuat bahkan kini dia membuka mulutnya untuk menggigit lengan Bryan. Dia tidak akan turun, tidak sebelum cowok ini mengantarnya dengan selamat sampai di depan pintu rumah. Davina meraih semua ini dengan kerja kerasnya sendiri, jika kini dia dirumorkan terlibat dengan n*****a akan berakhir buruk untuk reputasinya. Apalagi karena b******k gila yang tidak tahu malu sepertinya. Eh, sepertinya dia tidak boleh mengatainya sekarang karena dia juga telah kehilangan urat malu di depan Bryan.
“Gue janji nggak bakal aneh-aneh asal anterin gue pulang ke rumah. Nanti aku bilang juga kalau kita Cuma temenan,huh?” tawarnya berharap Bryan akan luluh.
Bryan menutup matanya jengah, sabar, sabar. Dia akan lebih buruk nanti jika kelepasan memukul perempuan gila yang dilihat cantik juga.
“Temenan apanya, kenal juga enggak. Lagian gue tau tipe cewek kaya lo, sekali dikasih kesempatan lo bakal gunain nama gue buat tameng terus kan?”
Davina rasanya ingin menampar mulut cerewet milik Bryan jika saja dia sedang tidak terjepit keadaan saat ini, dia akan mampus jika tidak bisa membujuk Bryan. Bryan memang terkenal sebagai atlet alim yang tidak neko-neko, dia juga hampir tidak mempunya haters, penggemarnya ada dimana-mana terutama ibu-ibu. Aduh ya, Davina kalau lagi jogging keliling kompleks pasti ada aja yang nanyain soal Bryan. Padahal kan Davina tidak dekat, tapi sepertinya besok dia akan mengatakan pada tetangganya jika dia pernah di antar pulang Bryan, hihi.
“Ngapain lo senyum-senyum? Dasar cewek s***p,” lamunan manisnya lenyap bersamaan dengan dahinya yang disentil Bryan, dirinya mengaduh dan memukul jari milik Bryan. Enak saja, dahi sudah lebar di pukul-pukul.
“Suka-suka gue dong, pengen tahu banget. Lagian ngapain nyentil jidat gue yang berkelas?”
Bryan menurunkan tangannya yang baru saja di tabok Davina, kecil-kecil begitu tenaganya luar biasa, “SUKA-SUKA GUE DONG!”
Davina mengerucutkan bi birnya, Bryan boleh ganteng dan berprestasi ya tapi kalau tahu sifat aslinya begini dia menyesal pernah menyukai –ralat mengidolakan pria ini. Nggak ada akhlak!
“Lo kapan turunnya sih bangsul?!” Bryan bahkan sampai lupa parasit ini masih duduk anteng di mobilnya. Setelah sadar Davina kembali bersiaga menjaga pintu dengan seluruh jiwa raganya. Pokoknya dia akan bertempur sampai dia menang, Hidup emansipasi wanita!
“Anterin gue apa susahnya sih?! Gue masih sabar ya ini, kalau nggak gue teriak nih! Teriak ya!?” ancam Davina dengan sedikit gemetar, nggak mungkinlah dia berani terriak, sama saja menggali kuburan sendiri.
Bryan memutar tubuhnya mengahadap Davina, dia menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia masih pria yang tidak akan memukul wanita, tapi jika wanitanya seperti Davina itu pengecualian. Lebih baik dia terkena skandal membunuh wanita –jika itu Davina, dari pada berkencan dengan Davina.
“Cepet teriak, cepet!” ucap Bryan tak kalah berani menantang Davina.
Melihat Davina yang diam tak berkutik, Bryan hendak mendorongnya keluar dari pintu. Tapi saat tangannya meraih pintu mobil, Davina menariknya mendekat. Bryan merasakan dahinya membentur wajah Davina dengan keras. Mereka mengaduh. Tapi hanya sesaat sebelum Davina mendaratkan bibirnya di bibir Bryan.
Davina sudah berbaik hati mengajak pria itu untuk berteman dan tidak terlibat, tapi Bryan terus mengibarkan bendera perang. Tidak ada cara lain selain ini, jika mereka nanti juga akan dikabarkan berkencan mengapa tidak membuat rumor itu kebih kuat dengan ini?. Dia pasti akan terlepas dari kasus sang mantan.
Blitz kamera yang tadi diam-diam memotret kini menjadi mulai bersahutan dengan keras. Bahkan mereka tak ragu menampakkan diri dan dengan terang-terangan memotret Davina dan Byan. Sedangkan Bryan, dia masih kehilangan kendali dan kesadaran atas apa yang baru saja terjadi. Tidak ini tidak benar sama sekali. Pikiran warasnya memerintah untuk mundur, mengusir dan menjambak Davina dengan kejam.
Namun apa mau dikata jika tindakan kita sudah tidak bisa di kontrol. Dengan mengikuti naluri tubuh dan keterbukaan Davina, dia membawa ini ke tahap yang lebih dalam. Tangannya terulur untuk menarik tengkuk Davina, dengan insting seorang pria yang belum pernah berciuman, dilumatnya bibir kecil namun memabukkan milik Davina.
Tidak merasakan penolakan dari Davina, Bryan semakin memperdalam lumatannya. Digigitnya kecil bibir gadis itu. Suara erangan milik Davina membuat seorang Bryan semakin liar. Mereka saling melumat, tidak peduli dengan dunia yang siap mengarahkan tombak pada keduanya.
Setelah peritiwa ini Davina tersadar, Bryan bukanlah Atlet alim pujaan ibunya. Bryan tetaplah pria yang akan menyantapnya jika diberi kesempatan. Lagipula dia yang telah membangunkan sisi liar seorang Bryan Kusuma. Dan, Davina menyukai pria yang berani mengambil tindakan sepertinya, tidak munafik. Davina percaya mereka tidak akan berakhir di sini, akan ada babak lanjutan yang akan membawa nasib mereka berdua.
****