Arvi melihat tayangan infotainment di ruangannya, disana terlihat wajah Adam yang ingin sekali Arvi tonjok. Di pemberitaan tersebut tertulis bahwa mereka akan menikah Minggu depan, dan tempat mereka melangsungkan pernikahan adalah hotel Bernabio.
Arvi tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak menyangka 'semiskin' itu Adam setelah perusahaannya jatuh ke tangan Radit. Arvi juga merasa kasihan terhadap Syifa, mau sekali dia dapat 'bekas' Ara, Adam memang patut di beri gelar manusia pelit of the year. Fokusnya beralih pada daun pintu yang dibuka perlahan. Disana Ara tersenyum lebar dengan menenteng paper bag.
“Hai,” Ara melambaikan tangannya seperti anak kecil.
“Oh, hai Ara,” Arvi bangkit dari kursi kebesarannya menuju ke arah Ara
“Maaf aku masuk, tapi dari tadi aku ketuk nggak ada sahutan” kata Ara
“Oh ya? Maaf aku lagi fokus sama infotainment,” katanya sambil mempersilahkan Ara duduk di sofa.
“Memang ada kabar apaan? Adam yah?” Tanya Ara seraya mengeluarkan bekal dari paper bag nya. Ara terlihat santai saat membicarakan Adam, tapi Arvi tau bahwa Ara tengah tertekan.
“Iya, dia sekarang miskin. Buat nikah aja semuanya bekas kamu,” kata Arvi menyandarkan punggungnya
“Oh.. kamu belum makan siang kan?” Tanya Ara mengalihkan pembicaraan
Arvi hanya mengangguk, dia meneliti wajah Ara.
Tampak bila matanya sembab, tapi tidak terlalu tebal. Ara pandai dalam berekspresi kalau ada yang melihatnya pasti berpikir bahwa Ara tidak pernah terlibat skandal dengan Adam. Dan untungnya adalah tidak ada yang tau bahwa sebelum Syifa, calon pengantinnya adalah Ara. Arvi tidak dapat membayangkan jika publik mengetahui siapa Ara sebenarnya, pasti sekarang Ara sudah menjadi trending topik. Tapi sudahlah, Ara yang tengah menyiapkan makanan didepannya sudah cukup untuknya.
Tanpa sadar Arvi tersenyum melihat Ara yang begitu ceria didepannya, fake smile. Siapa yang tidak salah tingkah ditatap oleh pria setampan Arvi?.
“Vi? Kamu apaan sih? Aku tau kok aku cantik tapi aku nggak nyangka secantik itu sampai kamu ngeliatin aku segitunya,” kata Ara sedikit canggung.
“Wajar sih, kadang orang cantik nggak merasa dirinya cantik. Dan malah orang jelek yang yang bilang kalau dirinya ganteng,” Arvi menunjuk televisi didepannya.
Disana ada Adam yang sedang diwawancarai dan membeberkan bahwa dirinya sangat beruntung mendapatkan gadis secantik Syifa.
“Entah gimana saya nantinya kalau nggak ketemu sama Syifa. Mungkin sekarang saya sudah menikah dengan orang yang salah,” Tuturnya pada wartawan.
Arvi yang melihat itu hanya tersenyum tipis, berbeda dengan Ara yang terlihat suram
“Dia bener Ra, kalau kalian menikah kalian berarti telah memilih orang yang salah.
Karena bagaimanapun kamu menganggap dia sebagai jodoh kamu tapi ternyata jodoh kamu adalah aku mau gimana lagi? Ujung-ujungnya kamu bakal balik ke aku Ra.”
“Ehmm,” Ara berdehem sebagai jawaban terhadap aksi frontal Arvi.
“Makan dulu Vi, kamu belum makan kan? Aku tadi masak tumis kangkung loh,” Ara kembali mengalihkan pembicaraan dengan mengambil piring untuk Arvi.
Arvi tersenyum dan menerima piring yang berisi nasi ikan goreng dan tumis kangkung. Dia akan menambahkan tumis kangkung sebagai daftar makanan favoritnya. Arvi terlihat lahap memakan masakan Ara, dia tidak menyangka bahwa Ara pintar memasak. Pikirnya Ara hanya pintar membuat matcha tea saja.
Bahkan Arvi kini menambah nasi dan lauknya, dia terlihat seperti tidak makan dua hari saja. Ara yang melihatnya hanya tersenyum, jika Arvi sedang sibuk makan dia terlihat manis. Ini adalah spot terbaik jika ingin melihat Arvi seperti anak kecil.
“Kamu nggak makan Ra?” tanya Arvi yang tengah mengunyah makanannya.
“Aku tadi udah makan sebelum kesini,” jawabnya yang hanya ditanggapi anggukan oleh Arvi. Setelah Ara membereskan semua peralatannya, dia duduk manis didepan Arvi dan menatap intens pria tersebut. Arvi balas menatap Ara hingga membuat Ara salah tingkah.
“Kenapa?” Tanya Arvi.
“Itu, katanya kamu mau bantuin aku,” kata Ara menurunkan pandangannya.
“Bantu apa?” Arvi berpindah duduk disamping Ara dan menatap serius gadis bermata biru itu.
“Anu.. itukan, cafe aku itu..”
“Itu apaan? Yang jelas dong Ara.”
“Hufttt, bantuin promosiin cafe.” kata Ara menatap manik Arvi
“Oh, bilang dong dari tadi.”
“Iya maaf,aku nggak enak sama kamu. Udah ngerepotin kamu,” ucap Ara.
“Udahlah, nggak apa apa toh aku ini calon suami kamu” balas Arvi dengan membenarkan letak dasi nya.
“Kamu terlalu frontal untuk ukuran owner tv swasta,” Ara mencebikan bibirnya.
“Dan kamu terlalu nganggap aku nggak serius,” balas Arvi yang menatap tajam Ara.
“Kamu mau bantuin nggak?” Tanya Ara bangkit dari duduknya.
“Kalau kamu mintanya sambil teriak ya nggak aku bantulah” ucap Arvi tetap pada posisi semulanya
“Oke, pak Arvito Bima Leonardo, bisakah dengan kemurahan hati bapak membantu cafe saya” tanya Ara dengan senyum manis
“Gitu dong dari tadi” Arvi tersenyum dan menghampiri Ara, dia mengecup sekilas pipi kanan Ara yang membuat gadis itu tersipu.”Suami bukan,pacar bukan, kakak juga bukan. Main cium-cium aja” Ara menabok lengan kekar Arvi hingga membuat pria itu mengaduh
“Itu salah kamu, aku udah ngajak kamu pacaran ya. Kamu nya aja yang nggak mau” Arvi menyilangkan tangannya didepan dada
“Hell, kapan kamu minta aku jadi pacar kamu, Arvito!” Teriak Ara
“Sekarang,” jawab Arvi acuh.
“Dengan sikap kamu sekarang aku udah tau satu hal. Kamu nggak ada seriusnya sama sekali” Ara berjalan ke arah pintu lalu menutup nya dengan keras
“Dasar Ara! Kelihatan banget kamu kurang belaian gitu, beda banget sama Alexa.”
******
Ara memasuki cafe dengan lesu, dia tidak menyadari perubahan pada karyawan nya. Cafe tengah sepi dengan beberapa meja yang terisi, Faris –salah satu karyawanya, terlihat menundukkan kepala saat menyapa Ara.
“Pagi mbak,” sapa nya.
“Pagi ris, tumben kamu jadi diem gini,” Ara memperhatikan raut wajah Faris yang terlihat cemas
“Ada masalah ya sama cafe?” Tanya Ara saat Faris diam membisu
“Anu, itu di ruangan nya mbak Ara ada...” Ucapan Faris terpotong dengan teriakan Surati.
Suara khas menggelegar yang tidak dimiliki orang lain, kenapa pula perempuan itu berteriak histeris seperti ini.
“Loh Surati kesini ya?” Tanya Ara lebih ke dirinya sendiri.
Ara berjalan menuju ruangannya sendiri, disana berdiri Rati dengan ekspresi tak terbaca.
“Surati? Kok kesini nggak ngabarin? Udah lama pasti ya?” Tanya Ara dengan memeluk sahabatnya. Formalitas.
“Hem...” Sahut Surati.
“Ada keperluan apa kesini? Biasanya ngabarin dulu,” Ara membawa Surati duduk di sofa.
Surati menajamkan pandangannya, dia harus terlihat menakutkan di mata Ara. Saat melihat perempuan di depannya pura-pura tidak tahu semakin membuatnya ini mencekiknya.
“Kamu kok jahat sih Ra! Kamu nganggap aku apa?” Surati berdiri dan berjalan menuju jendela. Harus terlihat totalitas seperti ibu mertua di sinetron.
“Apa sih maksud kamu?” Tanya Ara yang mulai heran. Pembicaraan apa yang membulat tanpa titik terang ini?
“Nggak usah sok nggak tau gitu!” sinis Surati, sedah pas belum ya intonasinya?
“Rati,” panggil Ara lirih.
“Nama aku Susan, S U S A N,” kata Rati ralat Susan mengeja namanya. Ini kalau dia casting di sinetron pasti laku keras, apalagi kalau lawan mainnya bu Tejo. Ahh mantab!
“Iya deh, yang udah jadi artis,” goda Ara. Sedikit menyindir juga.
“Kamu kok nggak bilang kalo ada masalah sama Adam?” Lirih Susan yang berjalan dihadapan Ara lalu berjongkok di depannya. Capk juga kalu yang di ajak bicara orang telmi macam Ara.
“Oh, jadi kamu marah gara-gara itu,” Ara menggenggam tangan Susan.
“Iyalah, kalian Minggu depan nikah. Eh malah si Adam ada berita mau nikah sama Syifa,” ketus Susan. Sorot matany melembut, kenapa hidup Ara yang selalu bersikap baik ini selalu di timpa hal yang tidak pernah di inginkan siapapun.
“Itu kakak tiri kamu kan? Dasar pelakor. Sekarang meraja lela wanita nggak tau diri dan nggak tau terimakasih, Ra,” Susan bangkit dan duduk di samping Ara. Ada juga orang yang jahatnya seperti itu, urat malunya di tinggal dimana pula.
“Udah, kamu tau aku orang nya gimana San. Hidup mengubah aku menjadi orang yang keras,” lirih Ara.
“Maka dari itu. Kamu harus buktiin kamu lebih baik dari Syifa. Aku nggak nyuruh kamu ngerebut Adam lagi, tapi kamu harus berubah. Move on!” Seru Susan.
Susan tidak akan menyarankan hal tidak berakhlak dan rendahan seperti itu, ia juga tidak ini Ara menjadi orang yang sama jahatnya dengan mereka berdua.
“Terus aku harus gimana San? Kamu tau sendiri semenjak jadi pacarnya Adam aku nggak kenal cowok manapun. Mentok juga Bryan,” Ara memejamkan matanya mengingat betapa protektifnya Adam. Terlebih lagi mungkin akan lebih sulit untuk membuka hati pada orang lain.
“Nah itu! Bryan kan orangnya setia Ra, dia baik, masa depan terjamin. Ganteng iya, kaya? Jangan ditanya, berprestasi? Jangan di Tanya lagi,” Susan tersenyum sumringah.
Memang Bryan tidak semenarik itu ya sampai Susan memperdagangkannya dengan begitu murah.
“Kok Bryan sih? Nggaklah! Dia itu sahabat aku nggak bakal jadi yang lain,” tegas Ara.
“Kamu nggak boleh gitu dong! Nyata nya aku sama Fatih baik-baik saja. Kamu harus kasih Bryan kesempatan,” Susan terlihat tidak terima dengan sikap Ara.
“Kesempatan apanya? Kamu tau kan Bryan itu homo?” Tanya Ara.
Salah satu alas an kenapa Ara tidak bisa memberinya kesempatan adalah identitas pria itu yang termasuk kaum minoritas. Bryan berhak mencintai pria lain jika dia memang mau, Ara juga tidak akan memaksanya.
“Ngawur kamu! Dapet dari mana rumor kaya gitu?! Dengar ya Ra,” Susan memegang bahu Ara dengan kencang, “Bryan ngejomblo dari dulu itu buat Lo! Lo nggak tau aja isi kamar nya Bryan, semuanya tentang Lo!” Terang Susan. Bocah ini dapat dari mana orang se setia Bryan tega mendua, apalagi dengan sesame jenis.
“Itu kan dulu! Sekarang nggak mungkinlah! Aku pernah lihat dia pelukan sama cowok di toilet!” Bantah Ara.
“Masa sih? Nggak boleh dibiarin ini. Kaum cewek itu lebih banyak dari cowok! Terus kalo cowok nya aja suka sama cowok terus kamu kebagian siapa Ra? Ya ampun!” Susan berdiri dengan cemas. Kita harus berpegang pada fakta dan jika yang dikatakan Ara benar bagaimana? Masa iya Bryan bisa melakukan hal itu sih?
“Woyyy!” Seketika keduanya menatap ke arah pintu, disana Bryan bersedikap dan bersandar pada daun pintu.
Dia mendengar semuanya, promosi menggelikan yang Susan lakukan hingga kalimat terakhir yang mereka perdebatkan. Sumpah ya jangan pernah satuin wanita dalam satu ruangan tanpa berpikir. Kejadiannya akan sama seperti ini nanti, ghibah terus.
“Dasar Lo berdua! Gosip terus!” Kata Bryan seraya duduk disamping Ara. Ekhem, modus dikit.
“Lo sih!” Ara meninju lengan Bryan.
“Kok gue? Harus nya gue yang marah ya! Kalian gosipin gue, ngatain gue homo juga!” Bryan berdecih.
“Jadi Lo nggak homo?” Tanya Susan cengo.
“Ya nggak lah! Gila Lo! Sejak kapan Lo jadi kaya Masha gini?” Tanya Bryan.
Ternyata Bryan juga tidak beda jauh, terlepas begitu saja kata kata laknat itu.
“Nggak tau juga, mungkin kebanyakan cinta sama Fatih jadi kaya gini,” Susan tersenyum lebar.
“Dasar!” Bryan melempar tatapan tajamnya untuk Susan .
“Lo beneran homo nggak?” Tanya Susan mendekat ke Ara.
“Lo berdua dapet gosip dari mana sih? Denger ya! Gue sekarang udah jadi atlet dan gue nggak bakal ngerusak masa depan dan karir gue buat itu,” tekan Bryan.
“Salahin si Ara, dia bilang kamu pelukan sama cowok di toilet” Susan menuding Ara.
“Bener kok, gue lihat lo pelukan di toilet sama cowok lagi!” Ara yang tak mau disalahkan mengerucutkan bibirnya.
“Makanya kalau ngintip jangan setengah-setengah! Dia itu keponakan gue, dia ngambek sama pacarnya nggak mau keluar dari kamar mandi,” terang Bryan.
“Bohong lo! Masa keponakan lo anak kuliahan sih,” sergah Ara.
“Ya ampun Ra, lo lupa ya? Kakak gue bahkan kayak bapak gue, dia nikah gue masih bayi,” Bryan menggelengkan kepalanya.
“Oh iya gue baru inget!” Cengir Ara.
“Serah lo dah. Oh iya Ra, gue baru dapet kabar katanya gedung sama catering nya nggak di cancel, berarti mereka lagi berhemat dong!” Seru Bryan.
“Dasar laki tukang gosip lo!” Susan menjitak dahi Bryan.
“Duhh.... dasar cewek bar-bar!” Bryan mengaduh sambil menatap Susan tajam.
“Ra? Kok lo nggak kaget sih?” Lanjut Bryan.
“Gue udah tau, Arvi ngasih tau gue kemarin,” Ara mengibaskan tangannya.
“Wihhh! Lo kalah cepet sama Arvi, Bry,” Susan tertawa sinis.
“Halah, biarin kalah cepet yang penting gue sampai duluan di hati Ara. Ya nggak Ra?” Bryan mengedipkan matanya.
“Asyaapp bang Bry,” Ara memeluk lengan kekar Bryan dengan manja. Tuh kan! Ara kadang tidak pernah mengerti perasaanya atau memang pura-pura tidak tahu sih? Sengaja banget bikin dia jadi adem panas.
“Serah lo pada! Dasar jomblo,” Susan meninggalkan mereka dengan menghentakkan kakinya.
Seketika tawa pecah di antara mereka,Ya sesederhana itulah bahagia menurut Ara. Tapi kenapa dia tidak pernah bahagia selama ini?
***