7. Manis

1566 Kata
Ara sedang duduk gelisah di ranjangnya sambil menatap ponsel. Dia menunggu notifikasi pesan dari Adam, selama seminggu ini Adam hanya mengirimi pesan beberapa kali dan menelponnya dua kali. Ara berdecak, dia mengirim pesan ke Adam. Dam? Kapan balik kangen nih :p Ara menunggu pesan tersebut terkirim, tapi hanya centang satu yang terlihat. Ara menatap pintu yang terbuka lebar dan menampilkan sosok tegap tengah bersidekap. “Tadi kak Radit mecahin vas ya?” Tanya Ara saat Arvi duduk di sebelahnya. “Heem, tapi bukan ke aku kok. Kamu tenang aja,” jawab Arvi. Melihat keadaan gelisah gadis ini membuatnya menahan napas sesak, dia akan membuat perhitungan yang lebih buruk pada pria itu. “Kamu nggak pulang?” tanya Ara, pasalnya sudah dari tadi Arvi di sini. Seharusnya dia sibuk sebagai seorang atasan. Kenapa masih sempat berbincang di sini. “Masih pengen disini,” tidak mungkin kan dia pergi tanpa melihat wajah gadis pujaan hatinya? “Kamu ngapain lihatin ponsel segitunya?” Lanjut Arvi saat tidak mendapat jawaban dari Ara. “Adam dari kemarin nggak ada kabar,” desah Ara menatap sendu ponselnya. “Ada yang menghubungimu saat waktu luangnya saja, ada yang meluangkan waktunya hanya untuk menghubungi mu saja. Pelajari perbedaaannya.” “Adam itu lagi kerja disana. Mungkin lagi sibuk,” Ara tersenyum menenangkan pikirannya. “Ada yang tulus menyayangimu dan ada yang menyayangimu hanya untuk menyakitimu. Aku termasuk yang pertama.” “Dasar sok bijak,” Ara memukul bahu Arvi. Arvi menatap dalam Ara, dia menggeram. Entah Ara yang tidak peka atau dirinya yang terlalu terbelit-belit. Arvi merasa nyaman menatap wajah cantik Ara, dia selalu menjadi obat resahnya. Ara yang ditatap intens hanya memalingkan wajahnya. Dia menyembunyikan rona merah di pipinya. “Ra?” Panggil Arvi dengan lembut. “Hem,” spontan Ara menoleh dan mendapati wajah Arvi begitu dekat dengannya. Hidung mereka bersentuhan dan Ara melihat Arvi menutup matanya. “Jangan nikah sama Adam. Disini perasaan aku yang terluka,” masih memejamkan matanya Arvi mengurut dadanya yang terasa sesak. Ara memandang takjub Arvi. Dilihat dari manapun dia sangat tampan, bahkan dibanding Adam dan Radit, Arvi lah yang paling tampan dan memikat. Arvi menarik wajahnya , membuka perlahan matanya. Entah apa yang membuat Ara tidak rela Arvi menjauhkan wajahnya. Ara mendekatkan wajahnya pada Arvi, dia memejamkan matanya saat mendaratkan ciuman di bibir Arvi. Hanya kecupan tapi cukup lama. Hingga saat Ara menarik dirinya dari Arvi, dia masih memejamkan matanya. Dia malu untuk sekedar membuka mata. Ara merutuki dirinya sendiri yang mudah tergoda dengan pesona Arvi. Ara perlahan membuka matanya dan melihat Arvi masih diam dengan ibu jari mengusap bibirnya. Arvi bangkit dari duduknya dengan wajah datar dan mengusap bibirnya, berlalu keluar dari kamar Ara. Ara membisu di tempat, menatap nanar punggung Arvi. 'aku keterlaluan ya? Salahnya juga sih punya bibir seksi gitu!' Ara mengerucutkan bibirnya dengan tangannya yang meremas selimut dengan kasar. “Boleh minta lagi Ra?” Bola mata Ara hampir terlepas melihat Arvi yang tersenyum lebar di ambang pintu. Dasar laki! Setelah punggung Arvi menghilang dari pintu, gadis itu merutuki kebodohannya sendiri. Buat apa dia bertindak bodoh seperti itu? Terutama pada pria gila seperti Arvi. Ya bisa dibilang, dia ingin lagi, hihi. “Dasar Ara gila! Gila! Bodoh banget nji!” *** Setelah pertemuan pertamanya dengan Alexa empat tahun lalu, mereka belum bertemu lagi. Jujur, Ara sangat penasaran dan hanya Alexa lah yang dapat membantunya. Dan Ara mulai terbiasa dengan suara dan hawa aneh disekitarnya. Seperti minggu lalu, dia sedang lembur di kantor saat dirinya mendengar tangisan seorang wanita di parkiran. Tapi karena dikejar target Ara mengabaikan suara tersebut. Dan ini pertama kalinya Ara melihat ada hantu yang sangat marah padanya karena gadis itu mengabaikannya. Saat hendak pulang, dirinya dikejutkan dengan kedatangan wanita paruh baya yang mengis dan meminta tolong. Tapi Ara masih mengabaikannya hingga gadis itu di buat terkejut saat hantu itu menampakkan wujud aslinya. Ternyata dia adalah korban kecelakaan, dengan kaki dan tangan yang patah. Kepalanya juga tidak utuh lagi dengan isi perut yang mencuat keluar. Ara ingin memuntahkan isi perutnya saat itu juga, namun dirinya tetap acuh dan kembali menuju rumah. Barulah saat di rumah, gadis itu melmpiaskannya di kamar mandi **** Adam membisu ditempatnya saat Syifa datang dan duduk disampingnya. Adam memejamkan matanya, membayangkan nasibnya setelah ini. Tapi nihil, bukan teriakan ataupun pukulan yang diterimanya. Melainkan keheningan yang sukses membuat setetes keringat jatuh dari pelipisnya. Ara bangkit dari duduknya, menetralkan nafas yang terus memburu. Menghiraukan tetesan air mata yang berjatuhan di pipi dan sakit di dadanya yang serasa ditikam ribuan belati, gadis itu berjalan ke arah Syifa yang memeluk erat lengan Adam. Syifa yang ditatap sendu dan tajam Ara merinding, dia merasa akan di cabik oleh Ara, tapi salah!. Ara menampilkan senyuman termanisnya yang sukses membuat Adam mendesah. Adam tidak pernah bisa mengalihkan tatapannya saat menatap senyum Ara yang menawan. “Oke, aku nggak akan panjang lebar lagi. Sekarang hubungan kita udah selesai dan anggap nggak ada apapun diantara kita.” Ara mengambil undangan yang tergeletak di lantai “Aku cuma mau bilang. Tarik semua undangan yang sudah disebar dan cancel semua persiapan pernikahan ini. Satu lagi” Ara mendekatkan wajahnya pada Adam, hingga Ara merasakan hembusan nafas Adam yang memburu “Semuanya masih berupa tagihan, tolong dilunasin ya!” Ara melemparkan undangannya tepat di wajah Adam. “Sekarang tolong anda pergi dari rumah saya. Disini tidak menerima para mantan” kata Ara mengibaskan tangannya “Ayo beb, kita pergi aja. Mending nggak usah di cancel aja, aku siap kok gantiin dia jadi pengantin kamu” kata Syifa menarik lengan Adam dan pergi dari ruang tamu “Ara, maaf. Kamu harus bahagia” kata Adam tersenyum sambil berlalu meninggalkan rumah Ara Saat deru mobil Adam berlalu meninggalkan rumah, Ara memukuli Radit yang duduk di depan tv memakan cemilan. Gadis itu melemparkan vas bunga kelantai “Dasar b******n. b*****t lo!!! Wanita nggak tau diri! Lakinya banci!” Ara menendang sofa dengan sekuat tenaga “Apaan sih alay Lo!” Radit melemparkan keripiknya ke Ara “Kak Radit jahat! Adiknya lagi menderita juga” “Terus salah aku gitu? Udah aku bilangin ya dari seminggu yang lalu kalau Adam nggak bener!” “Tau ah! Ngomong sama kak Radit ngabisin urat!” Ara menghentakkan kakinya sambil berlalu menuju ke kamarnya Radit segera mengambil hp nya dan menelpon seseorang. Raut wajahnya yang semula jahil berubah memerah. Nafasnya tak beraturan dengan salah satu tangan mengepal. “Hallo” “Ya?” “Gimana? Udah semua kan?” Tanya Radit “Siap Dit, tinggal tunggu berita nya besok. Semuanya udah beres, gue udah nyiapin surprise buat mereka” “Oke, let's begin the karma” “Im ready” ***** Ara memasuki kamarnya dengan menyeret kedua kakinya seakan ribuan baja hinggap di kakinya. Gadis itu menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan debuman keras. Ara menjatuhkan dirinya diatas kasur, menarik nafas sebanyak mungkin sebelum menghembuskan ya bersama dengan isakan pilu yang keluar dari bibir manisnya. Ara duduk dan berteriak-teriak tidak jelas, dia menyiksa panda di hadapannya, Ara bahkan. Menggigit boneka nya untuk meredakan teriakan tangis nya yang membahana. Dia menjatuhkan tubuhnya lagi, kali ini menarik selimut hingga sebatas d**a, dia menangis sambil memeluk panda kesayangannya hingga tertidur. Jarum jam terus berputar, hembusan angin menerbangkan tirai jendela kamar. Terdengar ketukan pada jendela kamar yang membuat Ara seketika membuka matanya. Posisi nya sekarang sedang membelakangi balkon, ingin rasanya gadis itu berbalik dan melihat ke jendela. Namun, sebelum dia melakukannya bulu halus di lehernya berdiri tegang. Terdengar lagi ketukan, kali ini tiga ketukan beruntun. “Astaghfirullah, ya Allah “ lirih Ara dengan bergetar. Ara menaikkan selimutnya hingga menutupi wajahnya, sekujur tubuhnya memanas. Menegang dari ujung kaki hingga kepala, keringat membasahi dahinya. Mau lihat tapi takut, tapi kalo nggak dilihat penasaran,batinnya Terdengar lagi tiga ketukan di kaca jendela, kali ini cukup keras hingga membuat jendela nya bergetar. Ara sudah membulatkan tekadnya untuk melihat apa yang terjadi diluar. Gadis itu menurunkan selimutnya dengan perlahan , lalu bergerak menatap jendela dan- Ara berteriak, sangat keras hingga tenggorokannya sakit. Bukan hantu yang dilihatnya, bukan pocong yang berdiri di pojok kamar melainkan saat dirinya berbalik lampu di kamarnya mati. Sangat gelap hingga cahaya bulan dapat menembus tirai tipis kamarnya. Ara ketakutan saat melihat tidak ada yang dapat dilihatnya, mengingatkan dirinya saat tidak mempunyai mata. Menutup mata maupun membukanya, tidak akan ada perbedaanya semuanya sama, Hitam. Menangis, hanya itu yang dapat dilakukannya. Hanya suara jarum jam yang dapat didengarnya, menambah kesan damai dan menenangkan. Cukup lama keadaan sunyi senyap ini terjadi, hingga jendela kamarnya terbuka lebar dengan sapuan angin yang menerbangkan tirainya. Di kegelapan, bayangan hitam berdiri di balkon membelakangi nya. Ara terkejut dan berlari kearahnya, tapi saat tinggal berjarak beberapa langkah, sosok itu menghilang digantikan kikikan nyaring. Saat sorot senter dari daalm kamar menyorot matanya. Ara berkedip untuk melihat siapa yang tengah menyenterinya. Dan seketika matanya membelalakkan kaget dengan apa yang dilihatnya. Disana berdiri Radit dengan sang Mama yang sama terkejutnya disana. Suara itu makin terdengar jelas bersamaan dengan bergoyang nya pohon mangga di pelataran rumah. “Maah, kak Radit. A.. Araa tak.. takut” lirihnya Namun suaranya kalah dengan suara cekikikan dari makhluk itu. “Aaaaaaaaghhh....” Ara merasakan pusing dikepalanya, pandangannya mengabur dan dia merasakan tangan kekar tengah memeluknya. Nyaman, itulah yang dirasakannya sebelum dirinya sampai pada alam mimpi **** “Ara,” Ara merasakan tepukan pada pipinya, semakin lama semakin kencang hingga sebuah tamparan diterima pipi kirinya. “Awwwww” teriak nya, Ara membuka matanya dan terkejut saat melihat Mama nya dihadapannya . “Kok Ara ditampar sih ma?” Tanya Ara memanyunkan bibirnya. “Habisnya dari tadi malam nggak bangun-bangun sih” sekarang malah Mama nya yang memanyunkan bibir. Ara hanya memutar bola matanya. Dia turun dari ranjang dan memasuki kamar mandi, dia ingat hari ini dia ada janji dengan Arvi. Btw, makasih mbak Kunti. Kalo bukan karena mbak tadi malam aku nggak bakal tidur selelap itu. Ara terus saja cekikikan hingga kakinya membentur dinding kamarnya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN