6. Skandal

1675 Kata
Ara menikmati matcha tea nya dengan perlahan, sesekali menatap guyuran hujan dari jendela. Ini adalah kegiatan favoritnya . Menikmati hujan di temani matcha tea, menurutnya ini lebih menarik daripada menonton film. Tak terasa tiga Minggu lagi dirinya akan memulai kehidupan baru, ia sangat gugup memikirkan hal itu. Cafe sudah tutup dan hanya menyisakan para karyawan yang tengah membersihkan cafe. Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Ara. Disana berdiri pria dengan balutan formalnya yang selama seminggu ini menghiasi hari Ara. Arvi berjalan kearahnya dengan tatapan seperti biasanya, teduh. Arvi tersenyum hangat saat membalas lambaian tangan Ara. “Tumben udah tutup jam segini,” heran Arvi saat duduk di hadapan Ara. “Iya sekali-kali” jawab Ara,”mau minum apa?” Lanjut Ara. Pasti ada alasannya lah, iya restoran itu yang jadi masalahnya. “Yang kaya biasa aja,” jawab Arvi. “Kamu tiap hari minum capuccino terus nggak bosen?” Kernyit Ara. “Kamu tiap hari matcha tea terus nggak bosen?” Tanya Arvi balik. “Matcha tea itu bisa bikin rileks, kamu harus coba sesekali. Biar hidup kamu ada warna nya,” Ara menawarkan dengan antusias. “Kaya nya yang butuh itu kamu deh, kan yang mau nikah kamu,” balas Arvi. “Emang aku yang mau nikah tapi kok yang stres malah kamu ya?” Goda Ara dengan senyum manis. “Yaudah mana matcha nya?” Arvi tidak menjawab pertanyaan Ara. Ara bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dapur, dia bisa saja memanggil karyawanya untuk membuatkan Arvi matcha tea. Tapi entah kenapa ada perasaan senang ketika pria itu mau mencoba minuman favoritnya . Ara datang dengan segelas matcha di tangannya. Dia meletakkan matcha nya dihadapan Arvi, Ara menatapnya degan senyuman. Ara masih menatapnya saat Arvi masih belum menyentuh minumannya. Arvi yang ditatap seperti itu hanya bisa mendesah sebelum mendekatkan bibirnya pada gelas matcha nya. Dia menghirupnya sebelum meminumnya. Ara tersenyum puas mendapati Arvi yang memejamkan mata dan terus meminum matcha nya. “Persiapannya udah sampai mana Ra?” Tanya Arvi dengan meletakkan gelasnya pada meja. “Udah semua sih, tinggal nunggu undangannya jadi sama gaunnya juga,” jawab Ara. “Benar udah semua? Catering nya juga udah?” Tanya Arvi heran, pasalnya baru seminggu ini Ara menyiapkan semuanya.”Iya, lagian tamu undangan nya cuma keluarga dekat aja,” jawab Ara sambil menyesap minumannya. “Tapi aku di undang kan?” Goda Arvi. “Situ siapa ya minta di undang?” Jawab Ara terkekeh. “Hemm, aku lebih cocok jadi pengantinnya deh kayanya. Masa yang bantu urus pernikahan aku? Adam kemana aja nih? Serius nggak dia?” Tanya Arvi dengan bersidekap. “Ya serius lah! “ Jawab Ara. “Kalau aku bisa kasih bukti dia nggak serius sama kamu gimana?” Tanya Arvi menaikkan sebelah alisnya. “Eh, apaan sih, kok jadi bahas ini. Temenin aku ke makam Papa ya,” Ara mengalihkan wajahnya agar terhindar dari tatapan Arvi. “Oke,” Arvi tau Ara mengalihkan pembicaraan, tapi dia tidak membahasnya lagi. Ara masih memikirkan perkataan Arvi tadi, bagaimana jika Adam tidak serius dengan dirinya? Tapi Ara segera membuang jauh pikiran tersebut. Dia tau selama ini Adam yang ngebet nikah, Adam yang selama ini mendominasi hubungan mereka. Arvi yang melihat keraguan di wajah Ara hanya tersenyum, dia meraih tangan Ara untuk digenggam. Gadis itu menoleh kearah Arvi yang masih menatap jalanan didepannya dan sebelah tanganya memegang kemudi. “Kamu tenang Ra, nggak mungkin kok Adam nggak serius sama kamu,” ucap Arvi menenangkan Ara, meski dia berharap sebaliknya. “Iya aku tau kok. Adam nggak bakal neko-neko dia orangnya setia,” Ara berusaha tersenyum menutupi keraguan di wajahnya. Mobil Adam berhenti di parkiran pemakaman tapi keduanya belum beranjak turun. Saat membuka pintu, ponsel Ara berbunyi hingga mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Ara membuka ponselnya dan menemukan seseorang mengiriminya foto. Ara membukanya dengan enggan, orang yang mengiriminya pesan adalah kakak tirinya, Syifa. Disana berdiri Syifa yang tengah berpelukan dengan menggenggam mawar ditangannya. Suasana nya juga sangat romantis, dimana mereka dikelilingi lilin-lilin di tengah gelapnya malam. Ara mengernyit heran pasalnya dia seperti akrab dengan punggung pria tersebut. Tepukan di pundaknya mengalihkan fokus Ara. Disampingnya ada Arvi yang menatapnya heran. “Kamu kenapa Ra?” Tanya Arvi. “Ini kakak aku ngirimin aku foto. Kayanya kenal deh” kata Ara dengan menunjukan layar ponselnya pada Arvi. “Iya kaya familiar tuh punggung,” jawab Arvi. “Itu yang ngirim Radit ya?” Lanjut Arvi. “Enggak, ini kakak tiri aku.” “Hah? Aku nggak ngerti,” bingung Arvi. “Udah ah, ayo temenin aku ke makamnya Papa ya. Nanti minta kak Radit buat cerita ke kamu,” kata Ara membuka pintu mobil dan turun. Arvi segera mengikuti Ara dengan diam, dia tidak menanyakan maksud Ara. Dia nanti akan bertanya langsung kepada Radit. Mereka sampai di makam bertuliskan Sukma Anandra. Mereka terduduk dan Ara yang melantunkan doa sebelum menaburkan bunga di kuburan ayahnya diikuti Arvi. Mereka terus terdiam hingga kembali ke mobil. Arvi menatap wajah Ara heran, masalahnya Ara menatap ke arah jendela dengan sesekali mengusap air matanya yang terjatuh. Arvi yang bingung menghentikan mobilnya. Ara menatap pria disampingnya dengan tatapan heran. “Kok berhenti disini?” Tanya Ara. “Ra, aku tau kamu kuat, kamu tegar. Tapi plis jangan sok kuat di depan aku.” Kata Arvi mengabaikan pertanyaan Ara. Ara terdiam sesaat, lalu tanpa aba-aba menghambur ke pelukan Arvi. Ara menangis dengan keras dan Arvi yang memeluk Ara tanpa niat menenangkan. Arvi tau pasti berat berada diposisi Ara meski dia belum tau terlalu jauh kehidupan Ara. Ara terus menangis sesekali menarik ingusnya, Arvi membiarkan saja hingga terdengar ketukan di kaca mobilnya. “Mas?” Panggil seorang pria. Arvi menurunkan kaca mobil dan mendapati beberapa orang mengerubungi mobilnya. “Iya pak,” jawab Arvi. “Itu mbaknya kenapa teriak-teriak ? Mas nya m***m ya?!” Todong bapak berbaju hijau. “Oh, saya minta maaf ya pak, Ini calon istri saya. Kami baru pulang dari makam ayahnya , dia lagi sedih pak,” jawab Arvi tenang. Ara masih menangis meski tidak sekeras tadi, dia tidak menyanggah ataupun membenarkan Arvi. Dia sudah lelah menangis. “Mas lain kali jangan berhenti disini. Takut di kira aneh-aneh kalau mbaknya nangis sambil teriak,” kata bapak berbaju putih. “Iya pak. Maaf sebelumnya,” kata Arvi. Mereka pergi meninggalkan mobilnya. Arvi yang merasa Ara sudah tenang melajukan kembali mobilnya menuju rumah Ara. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani. Dengan Ara yang mengatur napas agar tangisnya tidak lagi pecah dan Arvi yang bingung untuk memulai percakapan. Hingga sampailah mereka di rumah Ara. Arvi memasukkan mobilnya di halaman rumah. Mereka berdua masih diam didalam mobil, tidak ada yang berniat turun atau memulai pembicaraan hingga Arvi melepas seatbelt nya dan melanjutkan melepas seatbelt Ara. Ara hanya diam tidak menoleh ke arah Arvi dan menatap kosong ke depan. Hingga Arvi menarik tengkuk Ara dan mendaratkan kecupan di kening gadis itu. Cukup lama mereka berada di posisi itu dengan Ara yang memejamkan mata dan Arvi yang mengecup mesra kening Ara. Arvi merasakan detak jantungnya yang memburu, dia merasa nyaman berada di dekat Ara, sama seperti saat dirinya dengan Alexa dulu. Ara merasakan pipinya memanas dengan perlakuan Arvi padanya. Dia tidak menolak atau pun membalas perlakuan Arvi, dia menikmatinya dengan perasaan senang. Dia merasa sangat dicintai oleh Arvi. “Arvi! Lo apain Adek gue?! Turun cepet!” Perintah Radit dengan menggedor kaca depan mobil Arvi. ***** Setelah adegan mesra mereka kepergok oleh Radit, mereka duduk berseberangan di sofa ruang tamu. Ara tampak menundukkan wajah dan memainkan jarinya sedangkan Arvi menampilkan wajah tanpa dosa nya. Radit tampak mondar-mandir didepan mereka dengan tangan di belakang punggung. “Dasar m***m! Baru nitip sehari aja udah main cium! Gimana kalau tiap hari ketemu? Pasti Lo udah narik Ara ke hotel!” Tuding Radit dengan tatapan tajam. “Minggu lalu Arvi udah ngajakin Ara ke hotel,” kata Ara dengan gugup. Arvi tersedak ludahnya sendiri saat Ara mengatakan hal tersebut. Dia segera menampilkan cengiran khasnya saat mendapat tatapan dari Radit. “Ara masuk kamar!” Titah Radit. Ara hanya menurut saja, dia melirik Arvi dengan tersenyum lebar. Dia sengaja mengatakannya pada Radit. Gadis itu ingin melihat Arvi yang terkena amukan Radit. Ara mengepalkan tangannya ke udara sambil berkata 'semangat' untuk Arvi, sedang yang ditatap hanya mendesah berat. Arvi kembali menatap Radit yang sudah duduk disampingnya. Dia tidak takut karena kepergok mancium Ara, dia hanya takut tidak mendapat restu dari calon ipar. “Oke, gue nggak akan panjang lebar. Maksud Lo apaan? Nyium Ara sembarangan, ngajak ke hotel lagi!” Radit membungkukkan badannya dan meletakkan siku pada lututnya. “Santai bro, masalah nyium Ara tadi gue nggak tega lihat dia nangis gitu, kelihatan rapuh,” jawab Arvi. “Jadi kalau adek gue nangis kekejer Lo bakal nelanjangin dia?!” Radit menaikkan suaranya. “Bukan gitu maksudnya. Ah udah lah, gue ada kabar bagus nih,” Arvi mengganti topik pembicaraan. “b*****t Lo emang. Apaan?!” Gerutu Radit. Radit terkekeh melihat sahabat dan juga calon iparnya ini sangat perhatian terhadap Ara. “Emang kalian berapa bersaudara? Kok kata Ara dia punya kakak lagi,” Radit terdiam mendengar pertanyaan Arvi. “Itu saudara tiri gue, bokap gue dulu nikah sama janda anak satu,” terang Radit. “Terus hubungan Lo sama mereka gimana?” Lanjut Arvi. “Nggak baik, bahkan terkesan buruk. Semenjak bokap meninggal kita pisah rumah. Dan mulai saat itu kita nggak dengar kabar dari mereka lagi.” “Lo salah dit. Siapa namanya?” Tanya Arvi. “Syifa.” “Nah iya itu. Buktinya si Ara aja nyimpen nomornya Syifa,” kata Arvi membuat Radit menoleh padanya. “Yang bener?” Kernyit Radit, “Iya, eh itu nggak penting lah. Lo tau kan kalau Adam ke Malang bukan urusan kantor?” “Iya, setau gue dia punya pacar di Malang, dan gue lagi cari bukti,” jawab Radit. “Tunggu, tunggu. Jangan bilang....” Lanjut Radit dan berdiri menghadap Arvi. “Duduk,” Arvi menarik pria di depannya . “Iya, sebenarnya gue udah tau ceweknya si Adam, tapi gue baru tau kalau dia saudara tiri kalian,” lanjut Arvi. “b*****t tuh cowok! Dia udah kenal lama sama Syifa. Apa jangan-jangan mereka udah ngerencanain ini dari awal?” Terka Radit. “Selow bro. Tadi Syifa ngirim foto ke Ara, kaya nya dia dilamar Adam deh,” duga Arvi. “Apa!? Sialan! b*****t!” Teriak Radit dengan membanting vas didepannya. “Gue nggak rela Ara diginiin sama b******n itu! Gak Sudi gue dia jadi suami Ara,” seru Radit. “Tapi kalau gue Lo setuju nggak?” Tanya Arvi menunjuk wajahnya. “Eh! Enggak. Lo aja belum move on sama mantan Lo,” tolak Radit. “Ini gue serius. Restuin gue dan gue bakal bahagiain Ara,” Arvi menepuk pundak Radit dengan tatapan serius. “Hemm.” “Ini restu kan?” Tanya Arvi dengan senyum girang. “Serah deh!” Kata Radit berlalu meninggalkan Arvi di ruang tamu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN