Ara menatap Adam yang duduk dihadapannya, saat ini mereka berada di kamar Ara. Adam terlihat tampan dengan balutan jaket army nya. Ara akui benih cinta mulai bersemi dihatinya untuk Adam. Setelah lima tahun bersama pasti akan tumbuh juga perasaan itu. Meski Ara sudah membatasi dirinya agar tidak terlalu jatuh pada pesonanya. Ara tidak ingin bernasib sama seperti ibunya.
Pernikahan mereka telah ditetapkan bulan depan, meski usia Ara baru dua puluh satu tahun tapi usia Adam sudah dua puluh tujuh tahun. Ara masih ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan tapi melihat kondisi Mamah nya yang menginginkan penerus sementara kakaknya yang tidak tertarik dengan pernikahan.
“Ra, kamu mau undangannya pesan dimana? Aku udah ada WO yang bagus buat kita, kamu tinggal kasih tau aja mau konsep yang gimana” kata Adam membuyarkan lamunan Ara.
“Aku ikut kamu aja ya, yang penting temanya putih abu gitu” jawab Ara dengan antusias. Ini hanya sekali seumur hidup, batinnya
“Terus kamu mau gaunnya yang gimana? Sama tempatnya mau outdoor apa indoor?”
“Aku mau yang indoor aja ya, biar kelihatan privasinya.”
Adam sangat antusias mempersiapkan ini, perjuangan mereka selama ini akan berakhir beberapahari lagi. Mereka akan membuka kisah baru dan dunia baru milik Ara dan Adam.
Terdengar dering ponsel yang membuat fokus Ara beralih pada layar ponsel Adam. Awalnya Adam ragu, bahkan mematikan panggilan itu berulang kali, karena risih Ara meminta pria itu untuk menjawab panggilan berulang itu.
Tukang Las is calling.
“Bentar ya Ra.”
Kenapa bisa tukang las menelepon Adam? Ada urusan apa Adam dengan mas tukang las?. Sesaat perasaan curiga bersarang dihati Ara, kalau tidak penting kenapa diangkat. Namun Ara segera menepis perasaan tersebut. Kata orang godaan pranikah memang sangat berat.
+62823xxxxxxxx : Saya mau bicara sebentar, ada waktu?
Siapa?
Ara menatap pesan tersebut dengan Perasaan ragu, namun rasa kepo nya sudah menyeruak. Ara menunggu balasan pesan tersebut hingga alam mimpi menjemputnya. Ara tidur dengan ponsel ditangannya, dia lupa saat tidur benda berharga tidak boleh berada disekitarnya.
***
Ara menatap nanar ponsel miliknya yang tergeletak di lantai, layarnya sudah bermotif garis-garis. Ara sejenak berpikir, berarti Adam tidak kembali setelah menjawab teleponnya bahkan untuk berpamitan dengannya. Bukan seperti Adam yang dia kenal, dulu apapun kegiatannya, apapun kesibukannya dia pasti akan menyempatkan waktu untuk sekedar melambaikan tangan.
Sementara itu, Ara masih menatap nanar benda pipih yang terkulai tak berdaya. Keteledoran kecil seperti inilah yang harus dia hilangkan agar tidak menjadi kebiasaan nantinya.
“Aduh ini gimana sih? Kok bisa ketiduran gitu,” gerutu Ara kembali fokus pada ponselnya.
Ara mengambil ponselnya dan meletakkan nya pada kotak kecil, dia berencana untuk memperbaiki ponselnya. Ara menuruni tangga dengan wajah kusut, moodnya sudah buruk.
“Itu muka kenapa Ra? PMS ya?” Tanya Radit yang tengah menonton perkembangan saham di televisi.
“Nggak!” Jawab Ara ketus, memang dirinya tengah kedatangan tamu bulananya yang membuat dirinya cepat emosi.
Radit tersenyum kecil, penolakan Ara menunjukkan sebaliknya. Lihatlah caranya berjalan dan bicaranya yang kontras.
“Kamu kenal sama Arvi ya Ra?” Ara yang tengah menarik kursi meja makan menghentikan gerakannya. Ruang makan dan ruang tv memang tanpa sekat sehingga Radit bisa melihat Ara yang menghentikan gerakannya.
“Arvito? Yang punya saluran tv swasta itu?” Tanya Ara.
“Hem iya, “ jawab Radit yang masih menatap layar televisi.
“Kenapa emang?” Ara duduk dan memakan nasi goreng yang sudah tersedia disana.
“Kemarin nelpon kakak, tanya kamu baik-baik saja apa enggak, soalnya kamu dihubungi nggak bias,” kata Radit.
Aneh melihat Arvi yang dikenalnya bertanya kabar sang adik jika mereka tak saling mengenal. Pasti ada yang mereka sembunyikan tanpa sepengetahuannya, dia tidak pernah mengenalkan keduanya jadi bagaimana Arvi bisa bertanya seperti itu?
Ara tampak berpikir, jadi kemarin itu arvi Ara manggut-manggut sendiri.
“Tadi Adam juga kesini, katanya dia ada urusan ke luar kota dua Minggu. Dia nitip pesan supaya kamu yang urus persiapan pernikahan,” lanjut Radit.
Memang benar Adam tadi sempat mampir untuk mengabari bahwa ada pekerjaan di luar kota, Radit tidak begitu menanggapi karena memang dia tidak terlalu suka dengan Adam, tapi apalah dayanya. Jika melarang toh dia sendiri masih menjomlo, lagipula yang menjalani saja tidak keberatan kenapa dia harus sok sok an melarang?
Ara mendesah berat, dia paling tidak suka jika semua pekerjaan dilimpahkan pada dirinya.
“Santai aja kali, nanti aku bantuin. Buat my sugar apa sih yang enggak?” Lanjut Radit.
“Thanks ya kak, untung aja ada kakak. Coba kalau nggak ada, mending di undur aja. Terus tadi kak Radit enggak nanya kenapa dia berangkatnya dadakan?” tanyanya memutar wajah.
“Enggak lah, ngapain.” Sahutnya enteng.
Suasana hening saat Ara yang memakan sarapannya dengan lahap dan Radit yang berfokus pada layar televisi. Ara sudah membuang jauh pikiran tentang Adam yang pergi ke luar kota dan Arvi yang menghubunginya, pikirannya terfokus pada ponselnya. Ara meringis membayangkan jika data ponselnya tidak terselamatkan, disana terdapat banyak sekali data penting dan juga kenangan lamanya.
Ara merasakan ada lengan yang melingkari lehernya, dia juga merasakan aroma melati yang menguar.
“Ara sayang, Mama kangen!” Seru Mama nya, Ara merasakan rangkulan di lehernya semakin menguat hingga membuatnya tersedak nasi gorengnya.
“Maaa...” Cicit Ara
“Ma, Ara lagi makan Ma, nanti ya mainnya.” Kata Radit yang melepaskan rangkulan Mama nya.
“Radit!, Mama kangen sama Ara. Masa peluk anak sendiri nggak boleh,” Mama nya menghentak-hentakkan kaki kesal.
“Bukan nggak boleh Ma, nunggu Ara selesai makan dulu yah,” pinta Radit sambil menuntun Mama nya duduk di sofa depan tv.
“Ara cepetan ya makannya! Mama mau ngomong sama Ara,” seru Mamanya saat duduk di sofa.
“Iya Ma,” sahut Ara. Dia segara menghabiskan makanannya dan menyambar segelas air putih yang diteguk habis olehnya.
Ara segera menghampiri Mama nya, duduk di karpet depan lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan sang Mama. Dia suka Mama nya apapun keadaannya, apapun kondisinya, yang jelas mereka hanya hidup bertiga dan dia tidak akan mengecewakan sang Mama lagi.
“Anak Mama udah gede ya,” kata mama nya dengan mengusap rambut Ara, bukan mengusap lebih tepatnya menarik rambut Ara. Tapi Ara membiarkannya saja, meski sesekali meringis. Dia tahu maksud Mama nya tidak seperti itu.
“Iya Ma, bulan depan aku udah mau nikah. Mama bahagia kan?” Tanya Ara.
“Mama bahagia kok, tapi Mama punya firasat nggak enak sama Mas Adam,” Mamanya punya ingatan yang terbatas, hanya Ara, Radit, Papanya, mbok Semi - pembantu sekaligus yang merawat Mama Ara- , dan beruntung nama Adam masih diingat oleh sang Mama.
“Nggaklah Ma, nggak mungkin Adam kenapa-napa,” sahut Radit cepat, sambil tersenyum menyeringai.
“Hayuk Ra main yuk!” Seru Mama Ara spontan berdiri hingga Ara terjungkal.
Ara manegelus-elus kepalanya saying, “ Mama kepala Ara sakit ini,” keluh Ara.
“Oh,” balas Mama nya menatap Ara sekilas kemudian beranjak menuju kamarnya.
“Astaghfirullah, kudu sabar, kudu kuat, ingat pesan Mama dulu, orang sabar suaminy a ganteng. Semua akan indah pada waktunya,” Ara mengelus d**a nya.
“Sabar ya Ra, Mama kita itu,” sahut Radit dengan terkekeh.
Ara melirik sinis, dia tahu maksud Radit tidak tulus dia sedang mengejeknya saat ini. Sesekali dia ingin memukul kepala Radit yang sayangnya sangat pintar itu. Senang sekali melihat orang lain menderita.
“Ara cepetan! Pokoknya Mama mau belanja banyak!” Seru Mamanya dari dalam kamar.
Ya main yang dimaksud Mamanya adalah menghabiskan uang Radit untuk berbelanja. Walaupun mendapat gangguan mental tapi urusan belanja masih segar diingatan Mamanya.
“Radit! Kamu juga ikut,” lanjut Mamanya, sedangkan Radit hanya mendesah.
***
“Ma, hati-hati!” Seru Ara saat melihat Mama nya berlari kearah toko baju dengan edisi terbaru.
“Kamu ikutin Mama ya Ra, aku capek nih. Aku tunggu di resto depan yah,” kata Radit menepuk pundak Ara. Ara hanya berdehem pelan, dia mengikuti Mama nya memasuki toko dan melihat Mama nya yang sudah beranjak menuju ruang ganti. Ara hanya bisa pasrah, tenaga Mama nya benar-benar luar biasa untuk wanita seusianya. Padahal sudah banyak tempat yang mereka kunjungi. Saat menunggu mamanya, Ara melihat gaun didepannya dengan mata berbinar. Ini adalah gaun yang Ara idam-idam kan tapi belum sempat Ara membelinya.
Gaun berwarna soft Pink selutut dengan bagian belakang sedikit terbuka dan tidak berlengan. Ara meraih gaun itu dan menuju ruang ganti, dia tidak sabar ingin memakainya. Ara melihat penampilannya di cermin, dirinya tampak begitu cantik dan terkesan kalem. Ara ingin menunjukan gaun ini pada Mama nya untuk meminta pendapatnya.
Saat keluar dari ruang ganti Ara dikejutkan dengan Arvi yang berdiri didepan pintu. Pria itu membelakangi nya dengan satu tangan di saku celana dan tangan kanannya menggenggam ponsel.
“Arvi..” lirih Ara yang membuat Arvi memutar tubuhnya menatap Ara.
Arvi diam membisu, dia melihat mata Ara lalu wajahnya hingga memindai penampilannya. Arvi sangat terpesona dengan penampilan Ara saat ini. Dia bahkan ingin menyeret gadis ini ke hotel, 'sialan!. Kenapa kita ketemu saat kamu udah mau nikah Ra!' geram Arvi.
“Eehem..” Ara melihat Arvi yang terkejut dengan penampilannya, dia berdehem untuk mengembalikan kesadaran Arvi.
“Ke hotel yuk?” Ajak Arvi lalu meggenggam jemari Ara.
“Hah?!” Ara refleks berteriak.
Arvi yang kepalang bingung hanya mampu menggaruk kepalanya kikuk, memang kadang mulutunya berkata terlalu jujur, “Kesini sama siapa?”
Ara mengangguk, sambil mengecek keadaan gaun di tubuhnya, “sama Mama sama Kak Radit.”
“Jangan bilang kakakmu kalau kita ketemu disini ya?” ucap Arvi meringis.
Ara menatap pria di depannya dengan tatapan curiga. Apa-apaan, kemarin dirinya bahkan menanyakan kabar Ara pada kakaknya, kenapa sekarang pengecut sekali.
Arvi duduk di kursi yang di sediakan, dari sana dia tersenyum melihat Ara yang memutar tubuhnya di depan cermin. Kalau saja dia bertemu Ara lebih cepat, mungkin saja keadaan sekarang akan jauh berbeda. Keduanya akan berdiri di sini dengan saling tersenyum, mengatakan dengan lantang betapa sempurna gadisnya. Tetapi Arvi kembali tersadar, semuanya tentang proses. Bukan siapa yang datang dan singgah lebih dulu, tetapi siapa yang berjuang hingga akhir. Arvi ingin di ingat sebagai petarung, dia tidak akan gagal dan menyerah sebelum mendapatkan hati gadis itu. Dia sudah berjanji, melihat senyuman itu dari jauh dia ingin merasakan yang lebih. Bagaimana jika dia nanti yang membuat gadis itu tersenyum padanya?
Hari dimana Ara mengatakan bahwa dia mencintainya, Arvi yakin hari itu akan tiba, pasti.
*****