4. Hujan Dan Sebuah Senyuman

1627 Kata
Secangkir matcha tea hangat dan kue raspberry menjadi teman Ara lembur. Malam ini dia masih menekuni komputer untuk menyelesaikan laporan keuangan cafe freshA. Sesekali meminum matcha nya dan memakan kuenya dia mengurut pelipisnya yang ngilu. Laporan keuangannya tidak sesuai dengan targetnya, bulan ini dia mengalami penurunan. Semenjak ada restoran Jepang didepannya para pelanggan menurun. Dan sekarang dialah yang kena imbasnya. Memang dialah owner cafe ini, tapi kerugian yang didapatnya akan berdampak pada kemajuan cafenya juga. Dering ponselnya memecahkan konsentrasi Ara, dia berdecak lalu menjawab panggilan tersebut. “Iya hallo,” sapa Ara. “Bisa keluar bentar nggak? Aku udah didepan cafe tapi banyak wartawan. Jadi kamu langsung ke mobil?.” “Ngapain? Aku lagi kerja loh nggak main-main,” Jawab Ara ketus. Jika nada bicara Adam sudah berubah memerintah Ara sangat membencinya, sepertinya sifat itu tidak akan pernah lepas dari sosok Adam. “Kamu lupa? Ini jadwal kita dinner loh.” Lihat, ara yakin pria itu mulai mengepalkan tinjunya di setir kemudi, rahangnya akan mengeras. Perilaku yang Adam janjikan berubah setelah pernikahan, tapi Ara tahu manusia tidak akan berubah secepat itu. Dengan menghela napas dia menetralkan amarahnya. “Bisa di cancel gak? Ini aku lagi ngecek laporan keuangan.” “Kamu tuh selalu aja kaya gini. Bisa nggak sih kamu ngeluangin waktu kamu buat aku? Bulan lalu kamu juga bilang gini.” “Iya aku salah, tapi ini penting banget nggak bisa ditinggal. Kamu tau kan cafe lagi rugi.” “Lagian ngapain sih kamu? Udah aku bilang ga usah kerja. Keras kepala kamu tuh nggak berubah! Sekali aja nurut bisa nggak sih?!” “Kamu bilang aku keras kepala? Kamu yang egois nggak pernah mau ngalah! Kamu bisa nggak sih nurunin ego kamu! Malu punya pacar kerja jadi barista? Ya ampun aku tuh capek tiap ketemu tiap telponan harus aku yang ngalah!” Ara mulai frustasi saat kesabarannya habis. “Ini nih yang bikin aku pengen cepet nikahin kamu. Udah jadi kodratnya Ra wanita itu nurut sama laki. Udah kodratnya juga laki yang selalu menang. Kamu tuh harus belajar ngehormatin keputusan aku! Belum juga jadi istri!” “Kodrat? Kamu ngomongin kodrat? Terus dimana tugas kamu? Disaat seharusnya kamu jagain aku? Katanya aku ini tulang rusuk kamu tapi nyatanya? Kamu yang udah matahin aku Dam! Kamu! Kalo bukan karena mata ini aku nggak bakal bertahan sampai sejauh ini, rasanya aku pengen nggak punya mata aja sekalian. Biar buta aja daripada bisa ngeliat tapi bikin susah aja!” Ara mulai terisak saat meluapkan emosi yang sudah dipuncak. “Ara!!..” Adam berteriak sampai membuat Ara kaget. Ini yang Ara benci dari Adam, selain egois dia juga susah menahan emosinya sendiri. Ara mamatikan panggilan, konsentrasinya sudah hilang. Pikirannya yang kalang kabut mengurusi cafe nya yang sedang bermasalah ditambah dengan Adam. Ara mematikan komputer dan mengambil tasnya lalu pergi menuju parkiran. Melajukan mobilnya perlahan dan menuju rumahnya. Saat melewati restoran didepannya yang terlihat sangat ramai, Ara berpikir bagaimana caranya bisa menyainginya. “Sialan, baru buka aja udah rame gitu. Gimana kedepannya?” Ara bermonolog. Ara sudah bertahan selma bertahun-tahun mengelola caffe ini, dia tidak akan takluk dengan mudah. Bagaimanapun caranya dia harus menguasai kembali pasar di area ini. Entah itu menambah menu baru, menghadirkan live music dengan bintang tamu ternama, atau iklan melalui media online. *** Menjadi seorang barista harus mempunyai kesabaran yang berlipat, apalagi saat melayani pelanggan yang minta cepat dilayani. Namun bagi seorang Ara semuanya terasa menyenangkan. Ara sebenarnya ingin menjadi seorang psikolog yang handal, tapi dengan otaknya yang pas-pasan apalah daya. Ingin melamar pekerjaan menjadi staf perusahaan juga tidak bisa karena dia hanya lulusan SMA. Dia tidak melanjutkan kuliah karena sudah lelah berpikir. Dulu saat mengambil keputusan ini Radit selalu memarahinya, tapi Radit bisa apa? Dia juga tidak bisa memaksa Ara terus berpikir sedangkan kadar otaknya sudah mentok. Ara juga bingung dengan dirinya sendiri, kakaknya adalah seorang yang pintar. Bahkan saat sekolah selalu mengikuti perlombaan dan sekarang menjadi pemimpin perusahaan yang berbakat dan dihormati, lalu kenapa dia memiliki otak yang miris? Padahal kata Mama nya sewaktu dia masih TK, Ara adalah murid pintar dan terbaik dikelasnya. Ara masih mempercayainya sampai masuk SMP, karena tidak mengalami kemajuan dalam akademiknya Ara berpikir ulang. Apa yang membuatnya pintar dulu, ternyata karena dia tinggal kelas alias dia belajar tiga tahun semasa TK. Pembodohan seperti itulah yang membuat Ara percaya bahwa dia pintar, tapi tidak lagi. Dengan lapang d**a dia berusaha menerima betapa biasanya otak Ara. Sudah mampu naik kelas dan tidak berbuat kenakalan adalah kata ajaib untuknya. Adam melangkah menuju kearahnya dengan Arvi disampingnya. Setelah pertengkarannya beberapa hari lalu, Adam sudah meminta maaf dan Ara memaafkannya. Simpel bukan? Tapi rumit. “Hai Ra. Bisa temenin makan?” Tanya Adam “Bisa kok, mau makan apa emangnya?” Kata Ara keluar dari meja baristanya. “Kaya biasanya aja. Oh iya, ini Arvi mau ikut sekalian gak papa kan?” “Nggak papa kok,” Sebenarnya Ara agak kikuk saat harus duduk berhadapan dengan Arvi. Apalagi semenjak insiden boom like dari tersangka ini, tapi itu bukan salah Ara kan? Toh Arvi duluan yang mulai menunjukkan tanda ketertarikan padanya. Ara tidak bodoh apalagi pura-pura tidak peka, dia bahkan tahu semenjak pria itu menatap matanya cukup lama, seakan dengan satu tatapan itu ribuan arti ingin dia sampaikan. “Maaf sebelumnya saya mengganggu, tapi kata Adam capuccino disini recommended, jadi penasaran gimana rasanya,” ucap Arvi dengan tersenyum simpul. “Iya pokoknya kamu harus cobain,” jawab Adam. Ara hanya tersenyum mendengar obrolan mereka selanjutnya, Ara tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Sedangkan Arvi merasakan jantungnya berdetak lebih cepat melihat senyum memikat Ara. Dia sadar Ara adalah tunangan sahabatnya tapi Arvi rasa Ara bukanlah jodoh Adam. sorry bro, bukannya mau gimana-gimana tapi Tuhan sudah menggariskan Ara jadi jodohku, batin Arvi dengan senyum penuh arti. Mereka menyantap hidangan dengan mengobrol seru, maksudnya hanya Adam dan Arvi. Ara sesekali menanggapi kalau dirinya ditanya. “Dulu Ra, kita kalau main ke gudang sekolah, dia nggak pernah bisa tutup mulut. Intinya tuh ngajak dia bolos Cuma naikin gula darah aja,” cerita Adam, seakan peristiwa itu tengah terputar di meja. “Kalau aku tukang bocorin rahasia, dia nih tukang ledengnya. Parah dia kalau ketahuan dan di hukum guru nangis paling kenceng, malu banget punya temen kaya gitu. Apalagi kita cowok kan!” Mereka pernah sedekat itu semasa sekolah, sekarang karena kesibukan masing-masing semuanya mulai menjauh. Apalagi semenjak insiden kesalah pahaman rokok di kelas akhir, mereka tidak lagi main bersama ataupun bolos bersama. Mereka kembali bertemu akibat reuni sekolah yang di adakan beberapa bulan lalu, lagi pula itu masa lalu untuk apa terus berkelahi. Tapi sepertinya hubungan retak yang di satukan ulang tidak begitu sempurna. Bekas itu masih ada, apalagi Arvi sepertinya tidak akan melepaskan Ara dengan mudah. Dia akan menghancurkan hubungan mereka sekali lagi, kali ini bukan karena sebatang rokok, namun oleh seorang, Aura Chika Anandra. Setelah selesai, Adam berencana pergi karena ada klien yang menunggunya di kantor. “Maaf sayang, aku pergi dulu ya,” kata Adam sambil memeluk tubuh Ara . “Iya hati-hati,” jawab Ara melambaikan tangan ke arah Adam yang berlalu. Ucapannya tulus tapi dalam hati terus menggerutu, dia tidak ingin terus berada di sekitar Arvi. Apalagi duduk berdua menikmati hujan melalui jendela. Hei dia bukan anak senja yang akan jatuh cinta klise seperti itu. Kenapa juga Arvi tidak ikut pergi, pokoknya semua salah Arvi. Sedangkan Arvi masih setia disana sambil meminum capuccino nya. Dia tampak tidak terganggu dengan tatapan Ara. Rasanya gadis itu sangat ingin memukul wajah tampan dengan sikap nya yang menyebalkan, lihat dia tersenyum! “Mau menemani saya minum kopi?” Tanya Arvi. Ara tidak menjawab, dia menarik kursi dan duduk dihadapan Arvi. Mereka menatap jalanan ibu kota yang diguyur hujan. Sesekali Arvi menatap Ara yang memejamkan mata dan tersenyum. kamu cantik Ra. Ara melakukannya karena terpaksa ya, tidak mungkinlah dia mau menemani pria ini, tapi entah kenapa mulut dan tubuhnya berkata lain. “Kamu suka hujan ya?” Tanya Arvi. Masih memejamkan mata Ara menjawab “Iya hujan itu seperti kasih yang tak terbatas. Dia akan tetap jatuh meski tau resiko jatuh itu sakit. Hujan juga tidak pernah membenci awan yang menjatuhkannya. Karena hujan tau dia sangat dibutuhkan oleh bumi, meski dia yang harus menderita.” Topik mengalir begitu saja, membahas masalah hujan terlintas begitu saja. Jika dia bisa dengan mudah membenci Arvi kenapa dia bisa dengan mudah berbicara dengannya seperti ini? “Tapi kamu jangan pernah jadi hujan. Karena kamu tidak pantas dilepas dan dijatuhkan,” Ara membuka mata mendengar jawaban Arvi. “Kenapa?” “Karena saya pernah sebodoh awan, melepaskan orang yang paling berharga dan rela berkorban untuk saya. Dan akhirnya? Saya yang menjadi gila dengan keputusan yang pernah saya buat,” bukannya Ara tidak paham dengan arah pembicaraan Arvi. “Emangnya kamu pernah melakukan kesalahan? Setahu aku Arvito Bima Leonardo orang yang sempurna tanpa celah,” kekeh Ara. “Itu kata orang, dan jangan pernah percaya apa yang orang lain katakan. Buktikan sendiri,” Arvi menarik napas, “Saya juga manusia, orang hanya melihat apa yang baik dari diri saya. Mungkin kalau mereka tau siapa saya sebenarnya mereka pasti akan membenci saya,” lanjutnya. Mungkin pepatah yang tidak boleh menilai buku dari sampulnya adalah benar. Entah apa yang menanti Ara kedepannya, apakah buku berisi durian atau sampah. Dia hanya harus menunggu, mempelajari dan membacanya seiring waktu. Menunggu sang tuan menceritakan kisah bukunya atau menunggu orang lain mengulas tentang buku tersebut. Dan Ara harap dia tidak sampai pada tahap itu, tahap diama dia mengenal Arvi lebih jauh. Dia tidak ingin semakin membenci Arvi atau bahkan jatuh dalam pesonanya dan berakhir mencintai pria itu. Dia hanya tidak mau terlibat. “Aku juga punya sisi gelap yang tidak seorang pun bisa masuk,” jawab Ara. “Memang nggak ada yang bisa masuk Ra, tapi saya sudah didalam sana dan nggak bisa keluar,” jawab Arvi dengan senyum yang sangat manis. Lihat! Pria ini bertingkah semakin menyebalkan, seharusnya Ara tidak berharap pada pria sepertinya. Sebaiknya dia tidak duduk di sini untuk menikmati tetes hujan di jalanan dan ulai mengembun di jendela. Dan hal tak terduga terjadi, senyuman Arvi membalikkan kekesalannya selama ini, dia tersihir untuk menikmati senyuman Arvi dengan sebuah senyuman yang sama hangatnya. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN