3. Masih Bertahan

1754 Kata
Adam memasuki kamar Ara dengan membawa kotak berpita merah hati. Dia duduk di tepi ranjang Ara yang tertidur pulas. “Ra?... “ Panggil Adam lirih dengan mengusap pipi gadisnya. Ara mengerjapkan mata nya lalu duduk dengan menyandarkan kepalanya. Menatap bingung dengan kedatangan Adam di sisinya. “Kamu sakit Ra? Badan kamu panas.” Ucap Adam dengan menggenggam tangan Ara. “Nggak kok, cuma pusing aja nanti juga sembuh.” Ara menggelengkan kepalanya. “Aku bawa sesuatu buat kamu Ra” kata Adam seraya mengulurkan kotak kepada Ara. Ara hanya tersenyum kecil dan mengangguk. “Aku tau, hidup kamu telah berubah 180° tapi mata itu adalah milikku. Jadi kamu adalah milikku.” Kata Adam lalu mengecup pipi kanan Ara Ara selalu benci pernyataan itu. Karena matanya dia harus hidup terkekang dengan statusnya sebagai pacarnya Adam. Memang Adam tampan dan mapan, umurnya 23 tahun dan sudah menjadi pengusaha di bidang periklanan. Meskipun bukan perusahaan besar tapi sudah cukup untuk menghidupi keluarganya hingga anak cucu. Ara tersenyum getir, kalau bukan karena Adam dia tidak akan mendapatkan donor mata. Tahun lalu Ara mengalami kecelakaan yang merenggut kedua matanya. Dia membutuhkan donor mata, dan saat itulah Adam datang sebagai pahlawan yang menyelamatkan Ara. Ara dirumah dengan mbok Semi saat Adam datang. Wati dan Syifa sedang dirumah sakit menunggu ayahnya. “Aku mau ajak kamu keluar, tapi kamu malah sakit. Jadi kamu istirahat aja ya, aku tungguin disini.” “Iya” jawab Ara sambil menarik selimutnya. “Kamu harus sehat, semangat terus udah mau ujian kan. Biar cepet lulus, biar cepet jadi milik aku seutuhnya” kata Adam lalu mengecup puncak kepala ara. Setelah itu keluar dari kamar Ara dan menutupnya. Ara ingin sekali berteriak, dia sudah cukup lelah dengan semua ini. Mengedarkan pandangannya, mencari sosok Alexa yang belakangan ini menghilang seakan ditelan bumi. Ara sungguh penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi, mungkinkah itu alexa? Terka nya. Beberapa menit Ara menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Mengambil posisi berbaring, gadis itu mulai memejamkan matanya. Saat alam mimpi mengambil alih kesadarannya, sosok yang ditunggu pun datang. ****** Ara berdiri di balkon kamarnya, dengan memakai terusan putih dan kerudung yang masih ada di kepalanya dia termenung. Nasib. Mungkin itulah yang terngiang di kepalanya. Air matanya seperti sungai, tidak ada ujungnya. Kenapa kesialan terus datang dan menempa dirinya yang bahkan berdiri saja rasanya sudah tidak kuat. Hari ini adalah hari pemakaman ayahnya, Sukma Anandra. Rumahnya sudah sepi oleh pelayat, tapi Ara masih terjaga. Sudah lewat tengah malam dan dirinya masih menatap bulan diatas sana. Kenapa harus aku? Batin Ara yang terus menuntut keadilan atas kehancuran keluarganya. Hubungannya dengan Bundanya masih begitu-begitu saja, wanita itu seperti enggan berbicara dengan Ara atau Ara kah yang selalu menghindar? Entahlah dia juga bimbang dengan situasi ini. Sementara tidak ada salah satu dari mereka yang mencoba memperbaiki keadaan, atau sudah menyerah? Ara merasa tubuhnya sangat letih, dia menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu terpejam. Gadis itu merasakan kehadiran Alexa, namun karena lelah dia mengabaikanya dan tertidur. Tanpa disadari di sudut ruangan, ada sebuah tatapan tak berujung yang menuntut tanya. Ada gadis tanpa bayangan yang tidak mampu merasakan dinginnya lantai. Ada sebuah tarikan senyum di sudut bibir dengan kesakitan yang tak mampu terucap. Dia gadis yang pulang tanpa sambutan peluk, Alexa. *** “Ra? Ayo bangun. Kita pindah sekarang ya?” Kata Radit mengguncang bahu Ara. Kemarin masalahnya usai sudah, dengan surat wasiat Papanya, Radit bebas dari penjara. Dan semua harta kekayaannya menjadi milik Ara dan Radit. Intinya tujuh puluh persen harta kekayan telah di limpahkan kepada mereka berdua, kemudian kedua orang itu serta sisanya disumbangkan ke panti jompo depan kompleks. Radit tidak sudi tinggal satu atap dengan Wati, jadi dia memutuskan untuk membawa Ara nya pergi dari rumah dan memulai segalanya dari awal. Dia taidak mampu membenci Wati dan Syifa setiap hari dan setiap waktu. Apapun itu, Radit ingin bebas dari ikatan yang tidak perah di inginkannya. Ara mengelilingi rumah dengan senyum getir dibibirnya, ini rumahnya dulu saat dia merasa sangat bahagia. Rumah ia dibesarkan sejak kecil sebelum pindah ke rumahnya itu. Banyak sekali kenangan-kenangan disini. Tapi semua yang menyangkut tentang ayahnya sudah tidak ada. Radit seakan menghapus bayangan ayahnya dari rumah ini. Radit sekarang berada di kantor pusat, dia menggantikan ayahnya di perusahaannya. Dia dulunya adalah seorang selebgram jadi agak susah menyesuaikan dengan pekerjaannya saat ini. 'Yang penting usaha dengan disertai niat' itulah jawaban Radit saat ditanya 'Emang bisa?'. Mamanya juga sudah membaik jadi Ara membawanya pulang ke rumah, meskipun ada saat dimana Mama nya mengamuk dan histeris. Tapi semua hilang saat Mamanya melihat Radit. Seakan Radit adalah obat dari sakit Mamanya. **** 4 tahun sudah........ Kenangan buruk itu terjadi, sekarang semua sudah berubah. Ara yang dulu sangat terpuruk kini menjadi gadis kuat dan bertanggung jawab. Dia tidak menyangka akan sampai pada titik ini. Ara duduk dimeja bersandar pada punggung kursi, pandangannya tertuju pada pintu yang terbuka dan menampilkan sosok tegap dengan balutan jaket biru laut, celana selutut dan kakinya terbalut sepatu hitam polos. Sosok itu menghampirinya lalu duduk dihadapannya. “Udah lama?” Tanya pria didepan Ara. Ara melihat jam di pergelangan tangannya, “dari jam 8,” jawabnya. “Maaf..” lirih pria itu saat menyadari waktu menunjukan pukul 2 siang. “Santai aja Bry, emang gue nungguin lo dari jam 8 tadi? Ogah banget. Ini kan tempat kerja gue ya pantaslah datangnya pagi,” kata Ara dengan senyum manisnya. Bryan menghela napas, ia lupa kalau ini adalah caffenya Ara. Jika diingat lagi wanita yang kini duduk di depannya sudah berubah, benar-benar berubah. Bukan lagi Ara yang selalu depresi di kelas, bukan lagi gadis yang menangis di kamar sendirian. Rasanya dia telah membuang bayang buruk masa lalunya. “Ini Masha belum dateng ya? Lama banget udah kaya perawan aja dandannya,” seketika Bryan dan Ara menoleh mendapati Surati yang berdiri sambil menarik kursi disamping Bryan. “Itu mulut gak pernah berubah ya? Udah gede Rati, udah jadi orang penting juga mulutnya masih lemes aja,” tegur Fatih yang sudah duduk di samping Ara. Entah kapan keduanya datang dan sudah mulai berdebat. Begitu pula keduanya, semuanya berkembang sesuai waktu. Meninggalakan kesan memberontak pasca remaja. “Kenapa? Gak suka sama nih mulut? Yaudah jangan ngarep dapet jatah satu bulan!” Jawab Rati. “Enggak kok, itu mulut manis banget kok yakin. Rasanya tiap hari juga beda-beda,” Fatih memang menyandang status pacarnya Rati. Setelah sekian lama akhirnya mereka berpacaran, walau masih seumur jagung. “Udah ributnya lanjut nanti aja ya,” ujar Ara yang bisa mendeteksi hawa peperangan.Tak lama kemudian Masha datang dengan membawa makhluk lucu nan menggemaskan bernama bayi. Masha penganut nikah muda, jadi saat lulus SMA beberapa bulan kemudian dia dijodohkan dengan pilihan ayahnya. Banyak perubahan besar pada kehidupan teman-temannya sekarang. Surati yang menjadi model yang sedang naik daun dan berpacaran dengan Fatih yang sekarang mengelola hotel ayahnya. Masha yang terlihat bahagia dengan pernikahannya dan merubahnya menjadi ibu dan istri yang baik dan menghilangkan sifat manjanya. Bryan, dia sekarang menjadi atlet bulutangkis yang sudah beberapa kali menyabet gelar juara nasional maupun internasional. Well, semua baik-baik saja sekarang. Sebelum hari ini tiba. Tepatnya saat pria dengan setelan jas rapi yang sedang marah-marah pada pelayan cafe yang menumpahkan pesanan yang akan di makannya. Tangannya menunjuk-nujuk sepatu dan kemejanya yang basah dan kotor, setelahnya memaki sang pramusaji menggunakan telunjuk kanan. Matanya melotot seakan mau keluar dari sarang, urat nadi di lehernya bahkan sampai mengeras saking kerasnya dia berteriak. “Mana boss kamu? Kerja gak becus! Saya mau komplain sama dia!” ujarnya dengan nada tinggi. Ara geram sekali dengan pria kasar ini. Dia mendekati mereka yang mendapat perhatian dari pengunjung lainnya. “Permisi apakah ada masalah?” Tanya Ara dengan sopan, meski hatinya dongkol. “Kamu gak lihat? Makanan saya tumpah dan kamu bilang apa ada masalah? Apa mata kamu-...” Perkataannya tercekat saat tatapannya beralih ke Ara. Jantung Arvi berdetak tak karuan saat melihat mata gadis itu, dia merasa de Javu dengan cewek didepannya ini. Manik mata biru laut itu serasa familiar. Ingatan itu kembali. Kembali menyerang kepalanya. Alexa.. Pria didepannya membeku seketika, saat matanya menyelami manik biru gadis didepannya, Bee? Ingin rasanya ia memeluk gadis didepannya ini, dia sangat merindukannya. Ara menyelami iris hitam itu, dia merasa nyaman dengan mata itu padahal baru pertama kali mereka bertemu. Ara mengira pria didepannya sama dengan pria lainnya. Secara fisik seorang Ara bertransformasi dari gadis SMA menjadi gadis yang lebih matang saat umurnya sudah dua puluh satu tahun. Namun pria didepannya masih mematung saat seseorang menepuk pundaknya. “Sorry telat, eh kalian udah ketemu?” Katanya, dia adalah Adam tunangan Ara. “Euhm, kamu kenal?” Tanya Ara pada Adam yang sekarang merangkul pinggangnya posesif. “Oh, ini partner aku. Kenalin dia Arvito Bima Leonardo,” kata Adam. “Dan ini Aura Chika Anandra, tunangan saya.” Dari cara bicaranya Ara mulai tau bahwa pria didepannya ini orang penting hingga Adam menggunakan kata formal. Mengulurkan tangannya sambil tersenyum memikat ,” Ara, “ katanya dengan lembut. Bangun dari keterkejutannya pria itu menjabat tangan Ara ,”Arvi,” jawabnya singkat. *** “Aku tuh nggak suka sama temen kamu tadi,” Ara menggeleng mengingat kejadian tadi yang cukup menyebalkan, dia berharap tidak akan pernah berurusan dengan Arvi lagi. Sementara Adam hanya mampu tersenyum mendengar keluhan Ara, dia tahu betul sifat perempuan yang satu ini. Dia akan sangat membencinya hingga perlahan berubah menjadi rasa nyaman. “Hati-hati loh, kamu kebiasaan kalau benci sesuatu ujung-ujungnya bakal kamu suka.” Ditengah jalan kota yang padat merayap suara klakson bersahutan, memang kalau sudah jam pulang kerja keadaan akan menjadi membosankan seperti ini. Lagi, Ara merasa semakin membenci semua hal. “Kamu sumpahin aku buat suka sama dia? Serius nih? Nggak boleh ditarik lagi loh!” tantang Ara yang terdengar seperti ejekan. Seandainya Ara memang semenyebalkan yang dia pikirkan semuanya akan mudah, meninggalkan gadis ini seharusnya semudah memtuar langkah dan pergi. Tapi Ara punya segala hal yang tidak di punya gadis kebanyakan, dia sudah lama berada di posisi bawah roda kehidupan, betapa banyak kesulitan hidup yang dirasakannya selama ini. Adam bodoh jika meninggalkan Ara, jika gadis itu mampu melalui semuanya sendirian akan menyenangkan jika dia menemani sisa hidup Adam. Berbagi kesulitan dan kebahagiaan bersama, saling menguatkan jika salah satu patah dan saling memeluk jika salah satu bahagia. “Mana mungkin! Jangan asal bicara Ra, maksud aku kalian bakal cocok banget kalau berteman nanti.” “Padahal aku udah seneng banget kalau kamu diem kaya tadi, ku pikir kamu beneran ngerelain aku buat orang lain.” Ara memainkan ponselnya, menilik sebuah notifikasi pengiku baru di i********:. Dari username dan beberapa postingan yang cukup untuk menyombongkan diri seberapa kaya dia. Arvi. Setelahnya rentetan notifikasi spam like yang pria itu berikan. Membuat Ara menggelng, setidaknya dia punya wajah tampan. “Tunggu aku gila dulu baru mau mutusin kamu,” ucap Arvi penuh keyakinan. Tak kunjung mendapat jawaban, Adam menoleh untuk mendapati sang pujaan hati tengah tersenyum sembari menatap layar ponselnya. Tidak biasanya dia di abaikan begini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN