Rima tidak menyangka bahwa ini adalah takdir nya. Rasa nya seluruh air mata nya sudah tak tersisa lagi. Pikiran nya menembus dinding kamar nya, fokus pada satu nama Sukma Anandra. Apa yang di lakukan nya saat ini?.
Seperti nya dia lupa, sudah ada madu di sana. Sekarang dirinya adalah masa lalu yang seharusnya menyingkir. Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Rima harus membuat keputusannya sekarang. Meninggalkan atau ditinggalkan.
Dia sudah membulatkan tekad nya. Meninggalkan!. Dihadapannya sudah ada beberapa benda, dihadapkan pada pilihan lagi yang teramat sulit. Sudah cukup ia tersakiti , dirinya juga ingin merasakan bahagia. Dia tersiksa? Jangan ditanya. Rasanya melihat kondisi nya saja sudah menjelaskan. Di bawah terdengar tawa putri kecilnya Ara dan anak tirinya Syifa. Entah dia harus bahagia atau tidak mendengar kedekatan mereka.
Sekarang dia harus memilih. Meninggalkan untuk bahagia dengan orang lain di dunia atau meninggalkan keluarga nya untuk menghadap sang pencipta.
Tangan kirinya memegang tali tambang, dan tangan kanannya memegang ponsel. Dia mendesah berat.
“Maafkan Mama sayang. Mama udah nggak kuat lagi...” Ucap nya lirih dengan memandangi foto Ara dan Radit yang sedang berpelukan.
“Hallo” dia menunggu jawaban di seberang sana.
“Iya. Ada yang bisa saya bantu?.” Terdengar sahutan dari pengacara nya.
“Saya ingin mengajukan perceraian dan kirimkan ke suami saya besok pagi.”
“Baik. Apakah ada lagi?.”
“Tapi kirimkan jika besok saya masih hidup.” Ia mengatakannya dengan terisak.
Tutt...tutt..
Kini pandangan nya tertuju pada tali tambang di genggamannya. Rima menarik kursi di depannya. Dia berdiri di atas kursi dan mengalungkan tali di lehernya setelah memastikan tali itu terikat kuat di jendela kamarnya.
Tanpa aba - aba dia melompat dari kursi itu dan memejamkan mata. Berdoa agar ini cepat selesai.
*******
“Kak Radit. Ke kamar Mama yuk!” Ajak Ara sambil menarik lengan kakaknya.
“Waktunya Mama minum obat, tapi ini udah 2 jam Mama nggak keluar kamar. “ Ucap Ara lagi sambil melangkah kan kaki menjauhi ruang keluarga.
“Mama udah tidur Ara, mungkin kecapean.” Ucap Radit dengan mengusap rambut adiknya.
“Kalo Mama udah tidur berarti udah minum obat dong.”
“Ya udah lihat Mama nya besok pagi aja ya, nanti kalau Mama bangun nggak bisa tidur lagi.” Kata Radit saat sampai di depan kamar Ara.
Ara hanya mengerucutkan bibir nya saja.
“Sleep well, my sugar.” Kata Radit lalu mengecup singkat dahi Ara.
Ara memasuki kamar nya dengan wajah lesu. Ada yang mengganggu pikirannya sejak tadi, tapi apa.
Dia menjatuhkan tubuhnya di kasur, menarik selimutnya hingga ke leher. Ingin sekali dia memejamkan mata nya tapi hatinya sungguh gusar.
Hatinya terus bergejolak ada yang salah pikirnya.
“Papa udah tidur, Tante Wati juga, kak Syifa lagi baca buku, kak Radit pasti lagi tidur, Mama?... “ Dia bermonolog sendiri.
“Mama udah minum obat belum yah. Tapi kaya nya udah tidur, di lihat aja kali yah.”
Ara melangkahkan kaki menuju kamar Mamanya , saat membuka pintu terlihat lampu kamar kakaknya masih menyala. Pasti lagi nge - game pikirnya.
Dia mengetuk pintu Radit, tanpa sadar dia mengalihkan pikirannya dari sang Mama.
“Masuk” terdengar sahutan dari dalam.
“Kak Radit ngapain? Kok belum tidur? Udah belajar belum? s**u nya udah diminum?” Radit menggeleng mendengar adiknya yang mulai bawel.
“Ara ngapain belum tidur?” Mengabaikan pertanyaan Ara , Radit bertanya pada adiknya.
“Nggak bisa tidur, nggak tau kenapa kok hati Ara nggak enak ya” jawab Ara yang duduk di sebelah Radit.
“Aku juga nggak bisa tidur. Sini tidur sama kakak aja.” Kata Radit menepuk sebelahnya agar Ara menaiki kasur nya.
“Bacain buku tapi ya! Cerita tentang Pangeran yang di kutuk menikahi janda kembang kampung rambutan.” Kata Ara dengan terkekeh.
Radit menarik selimut untuk dirinya dan juga adiknya.
“Mana ada? Yang ada Pangeran menikah dengan Putri tidur dan bahagia selamanya.”
“Sekarang nggak ada, tapi nanti ada kok. Lihat aja nanti ya pasti kak Radit nikah sama janda kembang.” Kata Ara sambil menoel noel pipi kakaknya.
“Oke, tapi nanti kamu juga nikah sama om om tua dan jadi istri kedua. Terus istri pertama mati meninggalkan anak - anak yang bandel dan nakal.” Sahut Radit dengan mencubit hidung Ara.
“Nggak mau! Ara nggak mau dapat sisa. Ara nggak mau jadi nomor dua Ara juga nggak mau di duakan. Ara maunya jadi the only one. “ Kata Ara dengan gemas, ia membalikkan badan dan memunggungi kakaknya ini.
“Marah ya?.”
“...”
“ Ya udah maaf.”
“....”
“Besok beliin panda deh.”
“...”
“Yang besar juga, jadi nanti dua.”
“....”
“Nanti mau minta apa aku beliin kok”...”
“Ara.”
Ara membalikkan badannya dan memeluk kakaknya.
“Ara nggak marah kok. Ya udah ayo tidur.” Katanya sambil memeluk sang kakak.
Radit menghembuskan nafas lega,”Iya sekarang Ara tid-”
“Jadi besok pulang sekolah, beliin oanda tiga yang besar-besar ya”
Radit menelan Saliva nya sendiri. Bodoh, dia memakan umpannya sendiri. Sudah tau Ara mesin pembuang uang. Bagaimana ini?.
***
Satu Minggu kemudian.....
“Mama makan ya” Sudah kesekian kali nya Ara membujuk Mama nya.
“Mama kalo nggak makan nanti sakit gimana? Ara mau sekolah loh ma, nanti siapa yang jagain Mama kalo sakit?.” Akhirnya sang Mama mengangguk setuju.
Sudah seminggu ini Mama nya ada dirumah sakit. Luka di leher nya sudah kering, tapi ada yang hilang sekarang . Mama nya mengalami gangguan jiwa dan sekarang dirawat di rumah sakit jiwa.
Ara tersenyum perih. Hatinya hancur, benar-benar hancur. Melihat Mama nya yang menangis dan tertawa secara bersamaan membuatnya miris. Sekacau ini lah hidup nya sekarang, Radit sekarang berada di kantor polisi, dia di penjara karena melakukan kekerasan terhadap Papa nya.
Setelah mengetahui Mama nya mencoba bunuh diri, Radit menyerang Papa nya dan memukulinya tanpa ampun. Sekarang Papa nya koma di rumah sakit karena mengalami pendarahan di otak, tempurung kepalanya retak. Tak hanya itu, ke dua tulang rusuknya patah.
Ara belum menemui Papa ataupun Radit, dia lemah dan rapuh. Kalau dia menemui sang Papa dia pasti akan mengumpat kasar dan membuat kegaduhan dengan Wati, bunda nya. Sekarang tidak ada setitik rasa hormat kepada Wati. Hanya ada kebencian yang semakin menjadi.
Alasan dia tidak menemui Radit sangat klasik, bahkan terkesan drama. Dia tidak ingin hancur untuk kedua kalinya, melihat orang yang disayangi nya mendekam di penjara.
*****
Ara memasuki kelas dengan lemas, dia lelah hati lelah pikiran. Saat sampai di kursinya, cewek itu menghempaskan punggung nya kasar. Memejamkan mata nya, peristiwa demi peristiwa mulai memenuhi penglihatannya.
Dia melihat wajah seorang laki-laki yang sangat tampan, mata nya sangat indah. Laki-laki itu menggenggam tangannya dan mengecupnya. Dia membawa setangkai mawar, wajahnya yang tampan terlihat sangat bahagia.
Namun sesaat kemudian, ada air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dari gerakan bibirnya Ara melihat dia mengucapkan kata maaf berungkali. Ara bingung, kenapa?.
Perhatian Ara beralih menatap seorang pria disampingnya. Pria itu memegang pistol dan menyeringai ke arahnya. Ara terdiam saat ujung pistol itu menempel di dahinya. Ara melihat remaja tadi memalingkan wajahnya, dia tidak menatap Ara. Gadis itu melihat pistol itu ditekan dan pandangan nya menggelap, darah mengalir dari dahinya.
“Aaaaaaaaghhh.....” Ara berteriak saat membuka mata nya.
Semua siswa menatapnya, ada kebingungan dari tatapan teman-temannya. Nafas Ara memburu, dia berkeringat dingin.
Sialan!. Batinnya
“Ara!” Teriak Bryan, temannya.
Ara merasakan seseorang mengguncang bahunya, bahkan saat kedua tangan Bryan menepuk pipi nya pelan dia masih belum sadar dari keterkejutannya.
Air mata Ara lolos sudah, tapi Ara segera menghapus nya. Tidak saat ini Ara! Dia menguatkan hatinya. Ia merasakan tangannya digenggam kuat.
“Kamu kenapa Ra?” Tanya Bryan pada Ara.
“Nggak papa kok, tadi ada kecoa di laci aku.” Jawabnya.
“Kamu sakit yah? Ke UKS aja ya?” Tawar Bryan dengan mempererat genggamannya.
Ara hanya tersenyum tipis lalu menganggukan kepalanya. Dia beranjak dari kursi nya menuju UKS. Lorong yang tampak sepi membuatnya bergidik, aroma melati menguar bersama derasnya hujan. Dia melirik Bryan sekilas, tampaknya hanya dirinya yang mersakannya sedangkan Bryan tidak.
Di depan pintu UKS nafasnya tercekat, seakan aura hitam tengah melingkupinya. Gadis itu merasakan bulu roma nya berdiri, siapapun tolong, lirihnya.
***
Ara hanya memutar bola mata nya malas saat mendengar ocehan Surati dan Masha. Keduanya terus mengoceh tidak jelas.
“Makanya kalo dibilangin gausah ngeyel!. Udah gede, udah perawan!.” Surati mengoceh sambil menyuapi Ara dengan soto.
Sialan bocah!. Udah perawan? Emang dulu gak perawan apa? Enak aja, batin Ara . Dia hanya bisa diam saat menerima wejangan dari sahabatnya itu. Menjawab pun salah.
“Denger tuh! Lo tuh udah gede Ra, masa makan aja harus diingetin harus disuapin. Kayak bocah aja Lo!” Kini Masha yang mengoceh.
Terus saja mereka mongecoh dengan Surati yang menyuapi nya.
Surati, dia adalah gadis cantik, dan dewasa dengan rambut hitam sebahu. Dia murid pindahan dari solo. Surati adalah nama panggilan kesayangan dari sang ibu. Nama sebenarnya adalah Susan Herawati, tapi ibu nya memanggilnya Surati, awalnya Rati ngambeklah marah-marah gak jelas. Tapi sekarang dia menyukai nya. Bahkan teman-temannya memanggilnya seperti itu.
Sedangkan Masha dia adalah gadis cerewet dan sifatnya yang kadang Lola berbanding terbalik dengan penampilannya yang terlihat sexy dan elegan. Masha memiliki rambut panjang kecoklatan dan berponi, Masha Ricka Salim. Ayahnya adalah pengusaha yang juga sebagai pengurus masjid. Ayahnya juga yang mengajar mengaji saat hari Minggu sore. Ibunya juga seorang yang taat agama. Tapi entah bagaimana anaknya malah jadi seperti itu.
Mereka berhenti mengoceh saat soto nya habis, Rati meletakkan mangkuknya di atas meja. Pintu terbuka menampilkan dua makhluk antah berantah, Bryan dan Fatih. Sebenarnya Ara enggan mengakui kalau kedua makhluk ini adalah sahabatnya.
“Lo ngapa Ra? Sakit?.” Tanya Fatih saat berdiri disamping ranjang.
Ara hanya menganggukan kepalanya dengan wajah yang dibuat selucu mungkin.
“Pusing?”
“Iya”
“Mual?”
“Tadi sih”
“Udah berapa hari?”
“Dari kemarin”
“Gila! Ra kok Lo jadi kaya gini sih? Siapa yang ngebuntingin Lo? Siapa biar Abang Fatih yang jotosin.” Kata Fatih dengan suara menggebu-gebu.
Seketika sandal UKS melayang di dadanya. Ara melempar sandal dengan penuh semangat.
“Apa sih Ra? Sakit tau!” Kata nya mengaduh.
“Ra... Bilang sama gue cowok mana yang ngehamilin Lo? Siapa Ra?.” Tanya Masha sambil mengguncang bahunya.
“Masha sayang, siapa yang hamil? Otaknya ketinggalan dimana? Hayuk diambil lagi. Dasar b**o! Mau aja dikibulin!”. Kata Rati sambil menjitak kepala Masha.
“Uhhh sakit tau!, awas aja ya! Gue aduin sama Bunda tau rasa ya!” Kata Masha sambil mengerucutkan bibirnya.
“Udah Fatih, kantin aja yuk!!” Ajak Masha menggandeng lengan Fatih.
*****