1. Kesialan Pertama

1497 Kata
Ara memasuki rumah dengan langkah gontai. Tampak wajahnya yang lesu dan tak bersemangat. Saat kakinya menapak pada lantai berwarna cream di ruang tamu, dilihat nya sofa abu - abu dengan meja kayu klasik. Di depan sofa terdapat TV LED . Dibelakang ruang tamu nya tampak meja makan dengan bentuk oval dengan delapan kursi yang menghadap langsung pada dapur rumah. Dibelakang rumah terdapat kolam renang yang di kelilingi taman indah nan asri. Di sampingnya juga terdapat kolam ikan mas dengan pancuran di atasnya. Damai , itu yang terlintas saat memasuki rumah barunya yang lebih besar dari sebelumnya. Dilantai atas terdapat 5 kamar. Saat menaiki tangga langsung di hadapkan lorong dengan 2 kamar saling berhadapan dan satu kamar berada di ujung. Kamar Ara berada di sebelah kiri tangga dan didepan kamar nya terdapat kamar Radit. Kamar di sebelahnya adalah kamar milik mama dan papa nya . Sedangkan kamar utama adalah milik papa seorang. Didalam nya terdapat ruang kerja dan perpustakaan pribadi milik papa. Ara memasuki kamar dengan pintu bertuliskan ‘Aura Chika Anandra.’ Ara meletakkan tas di kursi meja belajar nya. Melepas sepatu dan menaruh nya di rak sepatu, setelah itu memasuki kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya. Sesaat kemudian dia keluar dengan baju tidur bergambar panda dan dengan kepala masih terlilit handuk. Gadis itu menyisir rambutnya setelah itu menjatuhkan dirinya ke ranjang dengan sprei berwarna abu - abu putih, yang pasti dengan gambar panda. Kamarnya ini sudah seperti kandang panda saja. Dia hanya ingin memejamkan mata nya untuk sebentar, tapi pikirannya berkelana ke masa lalu. Di mana seperti pemutaran film dengan dirinya dan Adam sebagai tokoh utama tengah di putar dengan di temani lagu Asal kau bahagia dari Armada.Dia merasa hanya Adam yang bahagia dalam hubungan ini. Tidak ada setitik rasa cinta untuk Adam. Yang ada hanya Rasa terimakasih karena setelah menyelamatkan hidupnya. Baru saja dia memejamkan matanya, terdengar teriakan di bawah sana. Gadis itu mempertajam pendengarannya dan terdengar sayup - sayup Mama nya yang menangis pilu. Dia melangkahkan kaki dan menuruni tangga. Hati nya tersentak saat dia melihat Papa nya yang sangat imarah dengan Mama nya yang sudah terisak di bawah sofa dengan manangkup wajah nya dengan kedua tangan. Ara melihat Papa nya sedang meneriaki Mama nya dengan emosi yang tersulut. Tapi ada yang salah di sana, ada yang berbeda dari pertengkaran ini. Di belakang nya terdapat seorang wanita cantik berjilbab biru dengan kaos panjang pink dan celana kulot putih. Wanita itu memeluk gadis yang seumuran dengan Ara. Mereka menangis dalam diam, tanpa suara. Hanya terlihat beberapa kali meneteskan air mata. Ara bingung, dia ingin menenangkan Mama nya tapi dia sangat takut dengan kemarahan Papanya yang tercetak jelas di wajah nya. Gadis itu memberanikan diri menghampiri Mama nya dan memeluknya. Membiarkan Mamanya menangis dipelukan nya. “Ada apa ini Pa?.” Pertanyaan Ra sangat halus dan membuat hati sang Mama makin teriris. “Maafkan Papa, Ara” Papa nya meneteskan air mata mendengar pertanyaan putri kecil yang sangat disayangi nya. Dia tidak tega melihat putri nya menangis. “Mereka siapa?.” Suara Ara bergetar dengan dagu nya yang menunjuk dua wanita di belakang Papa nya. “Maafkan Papa.” Hati sang Papa mulai trenyuh. “Ara mau nganterin Mama ke kamar, Mama nggak enak badan.” Gadis kecil itu memapah Sang Mama menuju kamar nya. Dia memapah nya dengan hati hati, hingga sampailah di depan kamar Mamanya. Ara mendudukkan sang Mama saat berada dalam kamar. Dia membiarkan Mama nya menangis, meraung, berteriak, bahkan dia memberikan pundak nya kepada sang Mama. “Mama tidur ya, nanti Mama sakit Lo, kalo nggak tidur.” Dia menidurkan Mama nya sambil menyelimuti tubuh Mama nya sampai di leher. Dengan sabar Ara menunggu hingga Mamanya tertidur pulas. Dia melihat di pintu berdiri pria paruh baya yang dengan pandangan sayu. Terlihat penyesalan di mata nya. “Papa ingin bicara sayang.” Kata nya. “Ara capek, Ara mau tidur dulu. Kak Radit pulang malem, dia lagi ngerjain tugas dirumah temennya,” Entah kenapa dia begitu kesal dengan pria di depannya , pria panutannya. “Papa minta maaf sayang. Dia Wati, sekarang dia bunda kamu. Sama Chika juga, dia jadi kakak kamu sekarang.” Mendengar ucapan Papanya Ara tersenyum pilu,Karena namanya sama dengan saudara tirinya. Saudara tiri membayangkannya saja sudah membuatnya jenuh. “Oh” ucapnya dengan air mata yang mengalir bebas di pipi. “Ara...”Panggilnya lirih . “Ara capek Pa, Ara mau tidur. Jangan sampai Mama bangun. Biarin Mama bahagia walaupun hanya di mimpi aja, setidak nya mimpi nya tidak seburuk kisah hidup nya.” Kata nya dengan melangkah kan kaki keluar menuju kamarnya. Dilihat nya depan kamar Mama nya ada seorang gadis dengan membawa koper memasuki kamar nya. Gadis itu melambaikan tangan dengan tersenyum kaku. Ara membalas nya dengan senyum juga. Dia tidak marah dengan nya, toh dia tak tahu apapun. Ara menuju kamar nya menutup pintu dan mengunci nya, menjatuhkan tubuh nya di samping kasur, meringkuk memeluk lutut nya. Dia menangis melepaskan beban nya. Ara juga lelah pura pura tegar di hadapan Mama nya. Gadis itu juga sama terluka nya. Dia mengambil ponsel nya, sudah tidak kuat lagi. Ara mencari kontak seseorang lalu menelponnya. “Hallo....” Suaranya lirih. “.....” “Pulang! Kalo nggak pulang awas aja ya, aku Gibeng!” Kata nya sambil terisak. “.....” “Pulang!.” Teriaknya kesal. Setelah menutup telfonnya dia naik keatas kasur, memeluk panda nya. Ara lelah, sangat lelah. Ingin dirinya beristirahat sebentar saja. Namun, langit malam tidak membiarkannya terpejam walau sesaat. Ara merasakan pening dikepalanya, suara tangisan, tawa, bahkan meminta pertolongan memekakkan gendang telinganya . “Plis, aku mau tidur... aku capek” katanya lirih Tapi suara tangisan tersebut tak kunjung hilang, bahkan makhluk itu menampilkan wujudnya di depan Ara. Gadis itu termenung menatap wajah sendu namun cantik, Ara menerka-nerka usia dari makhluk didepannya. ***** Ara menggenggam tangan Radit dengan erat, sesekali melirik raut wajah nya yang tegas dan tampan. Tampak amarah yang akan terluapkan dengan hebat. Kini mereka duduk di ruang keluarga, menanti sang kepala keluarga menjelaskan duduk permasalahan nya. Tampak suasana yang canggung dan tidak hangat sama sekali. Ara melepaskan genggamannya dan beralih memeluk Mama nya untuk menyalurkan kehangatan. Di lihatnya wajah Sang Mama dengan mata sembab dan rambut acak acakan. Terlihat air mata yang siap meluncur bebas namun sekuat tenaga dia menahannya. “Radit mau Papa jawab yang apa Radit tanyain” Kata Radit sambil melirik sang adik. “Apa yang ingin kamu tanyakan?.” Ucap sang Papa dengan menggenggam tangan madu nya. Radit tersenyum sinis, sorot matanya penuh kebencian,”sejak kapan Papa nikah lagi? Papa dulu selingkuh ya?,” kata nya dengan acuh. “Radit, Papa masih ayah kamu ya! Kalau bicara yang sopan!” bentaknya “Loh, terus yang sopan itu yang gimana? Anda yang menikah lagi tanpa persetujuan istri pertama?” Radit menekankan ucapannya dengan melirik madu Papa nya. “Radit! Apa ini yang diajarkan Mama kamu?! Melawan orang tua” Sukma memalingkan wajahnya “Anda salah, anda lah yang mengajari saya untuk setia dan sekarang karena sikap anda, hormat saya pada anda hilang sudah” Radit memeluk Sang Mama yang mulai terisak. “Terserah kamu, kalau kamu nggak terima silahkan keluar dari rumah saya” Kata Papa sembari menunjuk pintu dengan dagu. “Pah!” Teriak Ara Papa nya terdiam, Mama nya meraih lengan Radit dan mengusap nya. Berharap bisa meredam emosinya. Percuma, Radit semakin emosi dengan kebisuan Papa nya. “Tenang Pa, Radit bakal pergi dari sini. Tapi Mama sama Ara ikut Radit” Ara memeluk Radit. Ara tahu hanya dialah yang bisa meredam emosi Radit. Dia mengusap punggung kakak nya. ****** Langit malam menyelimuti kota Jakarta, dari balkon kamarnya hanya bulan yang tampak gagah menerangi bumi. Ara memutar kembali ingatannya tadi malam, merenungi kehidupannya. Baru pertama kalinya Ara dapat melihat Makhluk astral, dan baru pertama kalinya dia melihat hantu yang secantik itu. Biasanya hantu yang di film begitu menakutkan, tapi dia sangat cantik. Setelah kecelakaan itu Ara dapat mendengar suara-suara aneh, tapi dia selalu membuang jauh pikiran buruk tentang alam lain. “Nggak usah dipikirin, mungkin berkat mata itu kamu bisa lihat aku” Ara terlonjak kaget hingga terjengkang yang membuat hantu itu tertawa. “Kaget ya?” Tanya nya lagi Ara bangkit berdiri, dia mengusap bokongnya yang terasa ngilu. Dia hanya diam saja tanpa berniat membalas ucapan hantu itu “Biasanya kalau aku muncul, orang-orang takut. Kamu kok nggak?” Tanya makhluk itu yang kemudian duduk di smping Ara “Kamu Ara kan? Jawab dong, mungkin kita bisa jadi teman” dia melanjutkan saat tidak mendapat respon gadis itu “Kamu tau nggak kenapa aku nggak takut lihat kamu?” Tanya Ara “Nggak tau” “Kamu itu cantik, blasteran. Intinya kamu nggak kaya hantu yang ada di film-film” katanya. “ “Kamu mau lihat wujud aku yang sebenarnya?” Makhluk itu menatap serius Ara “Emang wujud asli kamu gimana?” Tanya Ara serius “Kalau kamu lihat, mungkin kamu nggak mau temenn sama aku” ucapnya lirih Ara hanya terdiam, benar juga. Kalau Ara melihat wujud aslinya apakah ia masih mau melihatnya lagi? Mungkin gadis itu tidak ingin mejumpai makhluk menyeramkan itu lagi. “Kamu kenapa ganggu aku?” Tanya Ara sarkastik “Aku nggak berniat buat ganggu kamu, aku cuma mau minta tolong” hantu itu terkekeh “Minta tolong? Emang kamu siapa sih?” Tanya Ara penasaran “Alexa, aku Alexa. Dan kenapa aku minta tolong sama kamu karena mata ku ada di kamu” jawabnya Ara mencerna setiap kata yang dilontarkan Alexa, dia mulai paham sesaat setelah dia menyadari Alexa hilang dari hadapannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN