"Sejauh langkah mu menjauhi masa lalu, sedekat itulah kamu dengan masa lalu mu. Sejauh kamu melupakan masa lalu, semakin kamu mengingat masa lalu mu."
_____________________
Seorang gadis bermata biru yang sedang menunggu pergantian malam di ujung senja. Duduk dibawah pohon ditemani secangkir kopi hangat. Senyumnya yang menawan mempercantik dirinya yang tampak mengesankan.
Remaja ini terlihat sedang menanti seseorang. Saat langit mulai membiru, kebosanan melanda. Dia memilih memainkan cangkir kopinya. Disaat keadaan semakin memburuk satu-satunya kunci ialah menikmati semua prosesnya, sampai saat ini dia masihpercaya bahwa akan ada manis dibalik ratusan sepah pahit yang di makannya.
Tak lama datang seorang lelaki tampan dengan membawa setangkai mawar.
Lelaki itu duduk disampingnya, mereka bercengkrama seakan tiada lagi hari esok. Terlihat raut bahagia terpancar dari keduanya.
“Udah dibilangin nggak usah bawa mawar lagi, aku kan nggak suka mawar,” ucapnya menggerutu.
“ Yang enggak suka kan kamu, bukan aku.”
“ Tapi kan apa yang aku suka kamu pasti suka, jadi yang nggak aku suka kamu juga harus nggak suka!”
“Kalau gitu pola pikir kamu salah, aku suka semua hal yang kamu suka karena itu menyenangkan. Aku percaya aku enggak akan salah pilih. Tapi lain hal dengan satu itu, karena, Alexa. Nggak semua yang kamu benci itu buruk.”
Alexa mendesah kecewa, dia kan tidak berniat memancing perdebatan seperti ini. Harusnya momen seperti ini di lalui dengan kesenangan.
“Iya-iya, aku salah lagi. Aku minta maaf.”
“I love you,” lanjutnya.
Melihat pria dihadapannya masih bergeming dan menghiraukannya membuat Alexa menutup matanya untuk berpikir. Biasanya dia tersentuh oleh hal-hal kecil yang tulus, “Ke rumah yuk,” ajaknya kali ini.
“Aku dah siapin camilan buat nonton, katanya mau nonton, hem?”
Bagaimana dia bisa menolak gadis semanis ini?, ujung-ujungnya dia akan terus menyerah jika berhadapan dengan Alexa, “I love you too.”
Meski terlihat geli Alexa tetap tersenyum, “Udah kadaluarsa!”
Mereka tertawa bersama, kemudian si lelaki mengajak gadisnya berdiri, dia memberikan mawarnya. Mereka berdiri saling berhadapan. Bulir air mata menetes di mata si pria, tapi disembunyikannya dari gadisnya.
Hingga seseorang datang, menodongkan pistolnya ke dahi si gadis. Terlihat rasa takut,gelisah,bingung, kecewa menjadi satu pada tatapan gadis itu.
Saat peluru menembus kepala gadisnya, si lelaki jatuh terduduk dengan deraian air mata. Dia memeluk mayat yang berlumuran darah.
“Maafin aku Lex, maaf ya. Ini yang terbaik buat kita. Biar kamu nggak menderita,” katanya dengan air mata terus mengalir.
“Biar saya yang mengurus mayatnya, Alexa,“ kata pria yang masih membawa pistol ditangannya.Lelaki itu diam saja saat mayat gadisnya dibawa menjauh, dia seperti hampa. Raganya ada disini tapi jiwanya terbawa pergi.
Dia Arvito Bima Leonardo, jiwanya pergi bersama Alexa. Cintanya, hidupnya, masa depannya telah pergi. Sekarang hanya tersisa tempat gelap yang tak tersentuh.
******
Suasana terlihat mencekam, dinginnya malam terasa menusuk kulit. Namun keramaian di rumah sakit membuat pria itu kesepian. Hatinya resah, air mata terus mengalir dari kedua matanya. Dia duduk bersandar didinding dengan keadaan kacau, rambutnya lusuh bajunya kotor dengan lumpur bercampur darah.
Kejadian satu jam yang lalu cukup membuatnya kehilangan semangat, dimana dia dan adiknya hampir meregang nyawa. Disini dirinya di rundung keterpurukan, dia bahkan belum memberitahu kedua orang tuanya. Rasanya lututnya melemas saat membayangkan bagaimana ia menghadapi kedua orang tuanya.
Suara pintu ruang operasi yang terbuka membuatnya terjaga, segera dia berlari menghampiri pria berjas putih.
“Bagaimana dok?” Tanyanya.
“Pasien kehilangan banyak darah, dia membutuhkan donor darah,” ucap sang dokter. Saat tidak ada sahutan si dokter melanjutkan.
“Tapi anda tidak perlu khawatir, stok darah kami masih tersedia. Yang perlu di khawatirkan sekarang adalah kondisi pasien,”
“Maksudnya?” Tanya Radit - kakak pasien.
“Karena pecahan kacanya masuk ke dalam mata, sehingga membuatnya tidak bisa berfungsi secara normal.”
“Ma... Maksud doktter adik... Saya buta?” Tanya Radit ragu.
“Benar, dan kita membutuhkan donor mata,” terang sang dokter.
“Tapi tidak ada donor mata,” sambung Radit lirih.
Tubuh Radit melemas, bahkan untuk menopang dirinya sendiri dia tidak bisa. Sekarang kehidupan gadis kecilnya akan hancur, begitu juga dengannya.
“Ara... Maafin kak Radit,” katanya lirih.
“Permisi dok, kita sudah mendapatkan donor mata untuk pasien” seketika Radit mendongak, menatap perawat yang tengah berbincang dengan dokter.
“Baik, siapkan untuk operasi selanjutnya,” ucap sang dokter yang dibalas anggukan oleh perawat.
“Saya harap anda kuat untuk adik anda. Dia akan baik-baik saja,” kata sang dokter seraya memasuki ruang operasi, lagi.