63

1371 Kata

Alina tersenyum lebar, keharuan membuncah di dalam dadanya melihat Alarick akhirnya bersedia akhir dengan Mbah Sena. Keduanya sedang mengerumuni dua bayi mungil yang diletakkan di kasur bayi, mengaguminya bersama Dito, Damar, dan Rani, lesehan di atas karpet tebal. Sementara Daniel memilih bersiaga seperti biasa setiap mengawal Mbah Sena ke mana-mana. “Damar boleh menyentuhnya, Kak Alin?” “Boleh, yang penting sudah cuci tangan.” “Kalau Dito menggendongnya juga boleh?” “Boleh,” jawab Amira. “Dito duduk sini, biar Kak Mira bantu menggendongnya.” Girang, Dito duduk di sofa, Amira meletakkan bantal di pangkuan Dito, lantas memindahkan tubuh mungil Emir ke atas bantal. Semula Dito tampak tegang, tetapi lama-lama ia santai, bahkan terlihat menikmati. Ia mengajak Emir bicara meski bayi itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN