Daniel mengawasinya dari kejauhan, memastikan Alarick tidak menyerang Dhanurendra seperti sebelum-sebelumnya. Keduanya duduk bersisian, saling berjarak. Dhanurendra di kursi roda, Alarick di bangku taman. Sejenak, tiada yang memulai bicara. Keduanya terdiam, hanya sesekali terdengar helaan napas berat masing-masing. Mereka sama-sama bingung untuk memulai, sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana. Menuruti ucapan Erick, Alarick diam, sengaja memberi kesempatan pria tua itu untuk memulai. Ia telah menjadi seorang ayah, sudah seharusnya bersikap bijaksana, mengontrol emosinya dengan baik dan berhenti menjadi pribadi yang meledak-ledak dan selalu mengedepankan emosi. “Bagaimana kabar ibumu?” tanya Dhanurendra, memulai percakapan setelah cukup lama terdiam. Namun, lurus pandangannya ke

