Part 16

1448 Kata

Keduanya duduk di balai kayu dapur yang sangat sederhana, menunggu sambil terkantuk-kantuk sementara Alina duduk di depan tungku kayu yang menyala, menunggu mi instan yang digodognya matang. Sementara Rani sibuk menyiapkan mangkuk untuk mereka. Sudah lewat jam 11 malam, di saat sebagian orang sudah terbang ke alam mimpi, mereka baru akan mulai makan malam sambil terkantuk-kantuk. Alina menelan ludah, menahan kesedihan di dalam hatinya. Matanya memanas, tetapi ditahannya air mata agar tidak tumpah. Sungguh menyedihkan nasib mereka. Di atas panci yang telah menghitam, ia memasak tiga bungkus mi instan untuk mereka. Sekedar mengganjal perut agar dapat tidur dengan nyenyak, untuk sejenak dapat melupakan segala kesengsaraan hidup. Sudah matang, Alina mengangkatnya dari atas tungku bakar, lan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN