Pukul 10 malam dan ia masih di sana, di meja makan sambil uring-uringan. Alina tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya, tetapi sangat keterlalua menyiksanya seperti ini. Apa pun permasalahan Alarick, tidak sepatutnya ia melampiaskannya pada Alina. Pria itu menahannya pulang, memintanya untuk memasakkan makanan yang cocok di lidahnya. Namun, hingga lelah Alina mengganti makanannya dan nyaris menguras isi kulkas, tak satu pun makanannya dapat diterima Alarick. Pria itu terus saja marah-marah, ekspresi wajahnya terlihat sangat mengerikan. Netra monsternya berkilat tajam. Alina cemas ia kalap dan berakhir membunuhnya. “Sabar, ya, Neng,” hibur Bi Murni berbisik. Perempuan itu terkejut kala datang ke dapur dan melihat Alina masih saja di sana, belum pulang. Bi Murni iba melihatnya disiksa

