“Aku lebih suka melihatmu marah-marah, Alin.” Alarick menghembuskan napas kasar, kian erat ia mendekap sang istri. Sesekali dengan lembut ia mengecup puncak kepala Alina, mencoba menenangkannya. “Tangismu membuatku semakin merasa bersalah.” Sudah cukup lama ia menghentikan mobil di pinggir jalan, menanti kekesalan Alina mereda. Namun, belum ada tanda-tanda perempuan itu akan segera menyudahi tangisnya. Ia mengaku marah, tetapi tidak memaki, menyerukan sumpah-serapah, yang dilakukannya hanyalah menangis tanpa suara. Entahlah, melihat air mata Alina membuat perasaan Alarick tak karuan, ada rasa nyeri di dalam sana. Sakit menghujam ulu hatinya. Air mata Alina mengingatkannya pada perbuatan-perbuatan buruk Alarick terhadapnya. Deras tangisnya tak ia hiraukan, sedu-sedannya yang memilukan p

