Meski sesekali masih enggan dan menolak sentuhannya, tetapi Alina sudah bersedia menerima keberadaan Alarick di sisinya, membiarkannya tidur di sampingnya dan membelai perutnya, mengajak anak mereka berbicara. Namun, hal tersebut bukan berarti ia telah melupakan semua perbuatan buruk Alarick begitu saja. Sepenuhnya sadar, Alin menderita trauma mana kala ia menolak diajak masuk ke dalam rumah. Menghabiskan lebih dari lima jam perjalanan menggunakan kereta api, sudah malam kala mereka tiba di kediaman Alarick. Terpaku, Alina sama sekali tidak mau beranjak sedikit pun dari tempatnya seusai keluar dari mobil yang menjemput mereka di stasiun. Wajahnya tampak pucat dan lelah sebab perjalanan panjang yang mereka tempuh dari Batang ke Jakarta, tetapi alih-alih lelah, sorot matanya justru mena

