Bukan halusinasi seperti yang biasa ia rasakan, kali ini keberadaannya sungguhan ada. Nyata dalam dekapannya. Malam-malam panjang telah ia habiskan dengan kesendirian, bersama sepi yang menyakiti, hampa yang menerpa, dan rindu yang membelenggu. Ia habiskan malam-malam itu untuk meratapi, tidur di kamar Alina sembari membayangkan keberadaannya nyata. Alarick berharap Alina ada di sisinya, meringkuk untuk dipeluk. Lantas, sesal itu kembali datang menghajarnya mana kala ia sadar, Alina benar-benar telah pergi. Perempuan yang dirindukannya pergi sebab Alarick yang meminta, mengusir dan menyakitinya. Kini, ia dapat memeluknya, memerhatikannya duduk di balai bambu dapur dengan perut besarnya. Di mata Alarick, Alina dengan perut besar adalah pemandangan terindah, ciptaan yang begitu sempurna

