“Erick, aku akan pergi dengan Mbah Sena dan Pak Daniel!” pamitnya, memasang wajah masam. Amira tidak suka melihat adik iparnya di sana, sedang sibuk bersama suaminya menekuri laptop di tangan masing-masing. Amira merasa begitu jengkel melihat sikapnya yang masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak memiliki perasaan bersalah sedikit pun telah merusak kehormatan seorang gadis polos seperti Alina. Alarick datang untuk urusan pekerjaan, lagi pula ia adalah adik Erick, berhak untuk datang mengunjungi kakaknya. Amira tidak bisa memgusirnya. Namun, Amira tetap saja kesal melihat keberadaannya, merasa jijik setiap melihat wajahnya. Akhirnya, yang dilakukannya hanyalah mengomel-ngomel setiap Alarick datang. “Mau ke mana?” “Pak Daniel ingin mempercepat hari pernikahannya dengan Alin, a

