23 “Pernikahan harus tetap dilaksanakan,” perintah Mbah Sena dingin. Hanya ia satu-satunya yang tidak terlihat panik dengan menghilangnya Alina. “Bagaimana akan dilanjutkan jika mempelainya menghilang, Mbah!” seru Amira, ia menjadi yang paling panik setelah Daniel. Suasana yang semula ceria penuh tawa, mendadak diliputi ketegangan. Amira mencari Alina ke sana-kemari, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Alina. Mereka hanya menemuka Rani di teras rumah dalam keadaan tidak sadarkan diri terkena obat bius. “Kita memiliki mempelai lain.” Mereda, keriuhan di sana seketika senyap. Semua orang menatap Mbah Sena dengan bingung. Tidak ada kemarahan maupun kekhawatiran yang ditunjukkan dalam wajah tuanya. Bak Kutub Utara, ekspresinya dingin membaku. Entah, tidak seorang pun yang tah

