Part 7

884 Kata
“Kak Alin habis gajian, ya?” tanya Dito, mengulum senyum, ekspresinya malu-malu. Alina tahu, bocah itu sedang menginginkan sesuatu. Menghela napas, Alin tidak tega membuatnya kecewa. Sekedar memberinya uang jajan yang hanya dilakukannya sebulan sekali usai gajian pun, ia kini tidak mampu. Gajinya benar-benar dipangkas untuk menggantikan bunga dan vas yang dirusah oleh pria pembunuh berdarah dingin. Alina tipikal gadis yang mudah tersentuh, melihat wajah Dito tertunduk kecewa kala ia mengatakan, gajiannya dipotong, Alina tidak tega. Diambilnya selembar puluh ribuan dan diberikannya pada bocah tersebut. Setelah ini Alina harus ektra keras memikirkan pekerjaan paruh waktu untuk menambah pemasukannya agar cukup hingga bulan berikutnya. “Kak Alin!” seru Rani. Gadis 18 tahun itu berlari masuk ke dalam rumah dan memeluknya bahagia. “Ada berita gembira!” Alina tersenyum. Hanya Rani yang sudah bisa diajak berjuang bersama. Ia ikut bekerja, tetapi sebab tidak memiliki ijazah sekolah, ia hanya bisa melakukan pekerjaan kasar. Sudah setengah tahun ini ia bekerja sebagai pembantu tak jauh dari rumah mereka. Rani sering diminta menjadi asisten juru masak, satu hal yang cukup menguntungkan untuk mereka. Kala ada makanan sisa, Rani meminta ijin untuk dibungkus pulang sehingga adik-adiknya bisa sesekali menikmati makanan enak. “Berita apa, Ran?” “Pak Trisna, koki di rumah Bu Dita bilang, katanya mulai bulan depan salah satu temannya akan mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan dia diminta untuk mencari pengganti. Kak Alin bisa masak, kan? Kalau Kak Alin bersedia, aku mau minta tolong Pak Trisna untuk memasukkan Kak Alin.” Alina memang bisa memasak. Ia pandai melakukannya, meski kemampuannya tidak bisa disandingkan dengan kemampuan seorang koki. Namun, ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya di toko bunga sementara masih terikat kontrak. “Aku ‘kan sedang kerja di toko bunga, Ran.” “Itulah, Mbak! Kata Pak Trisna, majikan temannya hanya pulang ketika malam hari, dia tidak pernah di rumah kalau siang. Jadi, masaknya hanya ketika makan malam. Kak Alin bisa ambil sebagai pekerjaan paruh waktu,” jelasnya bersemangat. “Gajinya gede lho, Mbak. Kerjanya juga enggak full, habis masak makan malam boleh pulang. Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali mengambilnya. Aku ingin kerja di beberapa tempat sekaligus agar kita bisa hidup dengan layak, Ibu bisa dapat mengobatan yang bagus. Sayangnya, majikan teman Pak Trisna ini mewajibkan tukang masaknya minimal harus lulus SMA, sementara aku nggak punya ijazah apa-apa.” Di antara kekalutannya, Alina seperti menemukan oase di padang gurun yang tandus. Berita yang dibawa Rani menjadi harapan yang membubung tinggi. Mungkin akan sangat melelahkan, bekerja di dua tempat. Namun, Alina tidak peduli, ia sudah terbiasa lelah. Baginya, yang terpenting keluarganya dapat hidup dengan layak, Bu Yani bisa berobat tanpa khawatir uang belanja yang akan terpangkas dan mereka harus menahan lapar. “Aku mau, Ran. Tolong, bilangin sama Pak Trisna.” Alina tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia akan menjajal semua peluang untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Rani mengangguk semangat. “Pak Trisna bilang, kalau berminat langsung bikin surat lamaran. Nanti Pak Trisna yang akan menyampaikannya ke temannya, Kak.” *** Pria itu datang lagi. Alina sudah memasang sikap waspada kalau-kalau ia berusaha memecahkan vas kembali, atau sika papa pun yang akan membuat Alina dalam masalah. Cukup sekali pria kurang ajar itu membuatnya kehilangan separuh gaji untuk membayar hasil perbuatan tidak bertanggung jawabnya. Seperti sebelum-sebelumnya, kelam matanya tanpa sinar menatap tajam Alina. Tetap ramah menyambutnya, tetapi kali ini tanpa senyum. Alina muak dengan kelakuannya. “Selamat siang, ada yang bisa kubantu? Kuharap tidak ada keonaran lagi yang kamu buat,” ujarnya terang-terangan. Mata pria itu kian menajam. Sejujurnya Alina gentar, mata itu terlalu menakutkan, membangkitkan bulu-bulu di sekitar tengkuk Alina. Namun, sebisa mungkin ia tidak menampakkannya, menahan gemetar tangannya dengan meremas kencang ujung bajunya. “Apakah seperti itu cara pelayan menyambut tamu? geramnya. Alina tersenyum lebar. “Tamu yang baik tidak akan membuat keributan, terlebih tidak bertanggung jawab terhadap perbuatannya.” “Keterlaluan!” “Aku tidak tahu kamu punya masalah apa denganku, tapi membalas dendam dengan cara seperti ini sungguh kekanakan,” kritik Alina. “Pria dewasa tidak akan berbuat sesuatu yang kekanakan. Apakah kamu tidak tahu cara yang lebih baik dari sekedar membuat seorang karyawan kecil kehilangan separuh gajinya?” Alina memberanikan diri menatapnya, kelam netranya kian menggelap. Emosinya tersulut mendengar kata-kata Alina. Sungguh pria yang buruk. “Aku akan melayanimu dengan baik, jika tujuanmu datang memang ingin membeli, tapi aku tidak akan meladeni semua sikap kekanakananmu.” “Kamu ingin aku membalas dendam dengan cara yang dewasa?” geramnya rendah. Alina terksesip. “Aku bisa melakukannya dengan mudah. Sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan.” Pria itu berjalan mendekat, lekat matanya bak seekor monster menatap mangsanya dansiap mencabik-cabiknya. Alina mundur selangkah sambil menelan ludah. “Apa yang dimiliki gadis lemah sepertimu? Tidak ada! Menghancurkanmu bisa kulakukan dengan sangat mudah, tetapi tujuanku lebih dari itu. Aku ingin melihatmu hancur pelan-pelan, merasakan sakit dalam setiap helaan napasmu.” “Mo—monster,” gagap Alina. Pria itu bercedih sinis. “Kubeli seluruh bunga yang ada di sini!” serunya pada Lenna. Perempuan itu melongok dari meja kasir. Pria itu mundur beberapa langkah menjauhi Alina, lantas bergerak ke meja kasih dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membayarnya. “Aku ingin semuanya sudah diangkut ke dalam mobilku dalam waktu sepuluh menit!” Alina gelagapan, terlebih setelah melihat tatapan tajam Lenna-tunggu-apa-lagi. Segera ia bergerak untuk memenuhi permintaan merepotkan pria itu. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN