Part 6

906 Kata
Denting lonceng di atas pintu masuk, terdengar. Alina segera meletakkan bunga-bunga yang sedang dirangkainya untuk menyambut pembeli. Mereka bibirnya membentuk senyuman indah, kala melihat sosok pria yang memasuki pintu toko bunganya. “Selamat siang,” sapanya. Daniel membalas tipis senyumannya. “Bunga seperti biasa, atau mau melihat koleksi baru?” Pria itu menganggukkan kepala, lantas menyusuri vas-vas yang penuh berisi bunga. Alina mengekorinya di belakang, sambil sesekali menjelaskan jenis-jenis bunga segar yang mereka lewati. Sejak Alina keluar dari rumah sakit, pria ini boleh dibilang menjadi langganan tetap toko bunga tempatnya bekerja. Setiap akhir pekan ia datang untuk memesan bunga, katanya untuk dibawa ke makam. Terkadang Daniel memesan satu buket besar, tak jarang dua sekaligus. Hubungan mereka semakin dekat, tetapi Daniel masih saja suka memperlakukannya dengan formal, memanggilnya nona meski Alina bukan seorang nona. Tersebab itu, Alina pun tidak berani memanggil namanya. Ia juga ikut formal memanggilnya pak. Sejujurnya Alina lebih senang jika pria itu bersedia memanggil namanya langsung, bersikap layaknya teman alih-alih seperti memperlakukan anak bosnya. Ia bukan Amira, anak dari bos pria itu. Diperlakukan demikian, membuatnya merasa sedikit kurang nyaman. “Satu bunga lili dan satu lagi bunga krisan.” “Baik, Pak.” Cekatan, Alina mengambil bunga-bunga yang diminta Daniel, lantas membawanya ke meja untuk diikat menjadi buket. Daniel mengekorinya, memerhatikan pekerjaan Alina, membuatnya merasa grogi. Entahlah, Alina tidak dapat memahami perasaannya. Ia bukan seorang perempuan berpengalaman yang sudah terbiasa menghadapi pria. Ia seorang gadis cupu, di sekolah nyaris tidak memiliki teman. Satu-satunya pria yang dekat dengannya hanya ayahnya. Satu-satunya pula yang selalu memberinya perhatian, memberinya kasih sayang, dan ketulusannya. Kala 25 tahu usianya, untuk pertama kalinya ada pria lain yang memberikan hal yang dulu diberikan oleh ayahnya, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia kembali merasa memiliki seorang ayah, tetapi debaran di dalam sana tidak sama seperti yang dirasakannya terhadap sang ayah. Ini terasa lain, dan Alina tidak memahaminya. Tak berani Alina mengangkat kepala, tatapan Daniel menjadi sebabnya. Menunduk, Alina pura-pura menyibukkan diri menata bunga-bunga pesanan pria itu. Namun, tangannya bergetar. Ia memarahi diri dalam hati, tidak dapat menyembunyikan kegugupannya. Seperti memahami, Daniel segera berlalu, meninggalkannya untuk menatap bunga-bunga di sekelilingnya. Diam-diam Alina menghela napas lega, secepatnya ia menyelesaikan pesanan pria itu. Daniel segera membayarnya, lantas pria itu meninggalkan toko setelah mengucapkan terima kasih. Sebuah sikap yang sangat wajar, tentunya selain pelukannya di rumah sakit guna menenangkannya. Setiap mengingat pelukan pria itu, debar jantung Alina berpacu lebih cepat. Wajahnya memanas dan kedua pipinya pasti merona. Entahlah, apakah Daniel menyadarinya atau tidak. Jika iya, betapa memalukannya. Alina menggosok-gosok kedua pipinya sembari menggelengkan kepala, mengenyahkan bayangan Daniel dari benaknya. Mendistraksinya, ia memutuskan untuk mencari kesibukan menata bunga-bunga yang telah rapi, sambil menunggu pembeli datang. Duduk di balik meja kasir, mata Lenna awas mengawasinya. Perempuan itu tidak senang melihatnya bersantai. Ada pembeli atau tidak, tangan Alina harus selalu bekerja. Makanya Hesti lebih suka bertugas di belakang, tidak ikut langsung melayani pembeli, aman dari tajam mata Lenna. Hesti datang membantu hanya pada saat banyak pengunjung. Denting lonceng kembali terdengar. Alina berbalik dan menyiapkan senyum terbaik untuk menyambut pembeli. Namun, sekatika bibirnya kembali terkatup kala melihat sosok yang datang. Menelan ludah, kali ini debaran jantungnya bukan sebab gugup, melainkan takut. Apa yang akan dilakukannya? Memenuhi ancamannya waktu itu untuk membunuh Alina? Seharusnya ia sangat tampan dengan wajah blasteran Eropa yang memikat, kalau saja auranya tidak seperti pembunuh berdarah dingin. Suram dan seram. Mata hitamnya begitu pekat, sorotnya tajam seolah ingin mengoyak Alina hingga ke tulang-tulangnya. Ancamannya kala di rumah sakit membuatnya merasa ngeri dipertemukan kembali dengan pria itu. Meremas ujung bajunya, Alina memaksakan sebuah senyuman kaku. Menyambut pria itu sebagai pelayan yang dituntut ramah kepada pembeli, meski ia tidak yakin pria ini datang untuk membeli. “Selamat siang, ada yang bisa kubantu?” ujarnya. Ia merasakan suaranya bergetar, semoga saja matanya tidak memancarkan ketakutan yang dapat ditangkap pria itu. Tak menjawab, ia melangkah mendekat. Intens tatapannya tak sedikit pun lepas menatap Alina. Alina menahan diri untuk tidak melangkah mundur, walau detak jantungnya berjumpalitan dilanda ketakutan. Namun, rupanya pria itu tidak berusaha menyakitinya. Ia menunjuk vas kaca besar di belakang tubuh Alina. “Aku mau lihat itu.” Suaranya menyerupai geraman. Alina berbalik, gemetar tangannya meraih vas tersebut dan menyerahkannya kepada pria tersebut. Namun, ia seperti sengaja menghindar, membuat vas kaca tegelincir dan jatuh. Pecah berderai di atas lantai keramik. Mendengar bunyi nyaring, Lenna segera bangkit dan menghampirinya. Matanya melotot melihat pecahan kaca vas di atas lantai, berserakan dengan tangkai-tangkai bunga segar. Beberapa kelopaknya ada yang gugur, terlepas. “Kamu bisa kerja tidak!” bentak Lenna. Ia menendang tangkai-tangkai bunga di lantai, hingga kelopaknya semakin banyak yang terlepas. “Dasar karyawan tidak becus!” Alina tidak akan membela diri, percuma, ia hanya menghela napas pasrah. Lenna pasti akan mengamuknya, memaki-makinya, mengeluarkan sumpah-serapah kasar sambil menunjuk-nunjuknya. “Aku tidak mau tahu, kamu harus mengganti semua bunga-bunga itu beserta vasnya. Bulan ini, gajimu habis dipotong!” Lagi, Alina menghela napas, menahan luapan kesedihan di dadanya. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis teringat adik-adiknya yang harus diberi makan. Membuang pandangan, Alina justru melihat pria itu duduk santai di kursi kayu yang disediakan untuk tamu. Sikapnya sangat kurang ajar, sama sekali tidak memiliki sopan-santun. Ia mengangkat kedua kakinya, selonjor di atas meja, mementara kedua tangannya disilangkan ke d**a. Tajam matanya menatapnya dimaki-maki, seolah itu merupakan pemandangan yang sangat menyenangkan. Alina semakin yakin, pria itu sengaja mengerjainya agar mendapat kemarahan Lenna, kala melihat salah satu sudut bibir pria itu tertarik ke belakang membentuh decihan sinis. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN