Part 5

900 Kata
Orang menyebutnya madesu, atau masa depan suram. Anak haram yang lahir tak diinginkan, ia digunjing dan dikucilkan. Hinaan dan cemoohan sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak kecil. Namun, sang ibu menampiknya. Tidak membenarkan anggapan orang-orang, bahwa ia adalah anak yang tak diinginkan. Ibu menyayangi dan mengasihinya. Ibu kerap kali menahan lapar asalkan anaknya bisa makan dengan kenyang. Benar, Alarick lahir dan tumbuh dibesarkan oleh orang tua tunggal. Dalam lingkungan yang masih menjunjung nilai ketimuran, hamil tanpa suami adalah aib yang sangat besar. Ia tidak memiliki ayah, tetapi ia bukan anak yang tak diinginkan. Ramalan orang-orang akan masa depannya yang suram, berimbas pada kepribadiannya. Alarick menjadi sosok yang menyeramkan, ia dikenal kejam, dingin, dan tidak memiliki belas kasihan. Entah berapa kali ibunya menangis setiap kali kepala sekolah memanggilnya sebab ia berkelahi dengan murid-murid lainnya, membuat mereka babak belur tanpa ampun. Ibu tetap menyayanginya, lembut memintanya untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun, Ibu tidak tahu bahwa Alarick melakukan semua itu sebab mereka yang memulai. Ia tidak terima teman-temannya mengejek ibunya sebagai p***k. k********r yang sangat menyakiti telinganya. Bagi Alarick, Ibu adalah perempuan terhebat dalam hidupnya, di usianya yang masih sangat muda, perempuan yang memiliki paras sangat cantik itu berjuang keras seorang diri untuk memberikan kehidupan yang layak untuknya. Tidak ada seorang pun yang boleh menghinanya. Alarick tidak akan ragu menghajar mereka jika berani melakukannya. “Ke mana Ayah, Bu?” tanyanya untuk ke sekian kali. Seperti biasa, Ibu hanya menjawabnya dengan senyuman sendu. Makin lama, Alarick makin enggan bertanya. Ia memilih mencari jawabannya sendiri. Ke mana perginya seorang pria yang telah menciptakan kehidupannya? Dia harus bertanggung jawab, tidak bisa lepas begitu saja dan membiarkan mereka menderita. Tahun-tahun masa remajanya digunakan untuk melakukan pencarian. Alarick bahkan mengorbankan sekolahnya. Ia malas pergi ke sekolah, tempat di mana hanya akan mendapatkan ejekan dan bully-an teman-temannya. Ibunya sedih, tetapi Alarick tidak peduli. Ia lebih memilih membantunya bekerja. Hingga suatu hari ibunya bertemu dengan seorang pria keturunan Tionghoa. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Ibu rela menjadi istri ke tiga pria itu. Rentang usia mereka sangat jauh, hampir 20 tahun. Namun, ayah tirinya terbukti mencintai ibunya. Alarick dapat melihat kebahagiaan ibunya setelah bertahun-tahun dalam kemurungan. Kehidupan baru Alarick dan ibunya dimulai. Ayah tirinya meminta Alarick untuk melanjutkan sekolah demi masa depannya. Ayah tirinya bukan orang sembarangan, ia seorang taipan Asia. Hidupnya suka berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Indonesia hanyalah tempat singgahnya untuk yang ke sekian kalinya. Tapat di hari kelulusan Alarick, ayahnya ingin membawa mereka pindah dari tanah air. Alarick diminta untuk masuk perguruan tinggi di luar negeri. Namun, Alarick menolak. Ia tidak ingin menjadi pengganggu kebahagiaan orang tuanya. “Aku ingin tetap tinggal di sini,” putusnya. Sang ayah menolak. “Kamu boleh tidak ikut dengan kami, tapi kami akan pilihkan universitas terbaik untukmu. Kami ingin kamu memiliki masa depan yang gemilang.” Tidak punya pilihan lain, Alarick menuruti kemauan pria yang terlah berbaik hati mengangkat status sosial mereka. Delapan tahun Alarick menghabiskan waktu di Amerika, menempuh pendidikan di salah satu universitas paling bergengsi. Selama itu, ia tidak pernah putus hubungan dengan kedua orang tuanya. Mereka masih tetap keliling dunia, hidup berpindah-pindah. Suatu hari, ayahnya datang mengunjunginya sendirian. Tidak bersama ibunya. Menurut ayahnya, Ibu sedang sakit dan membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Tidak bisa diajak bepergian jauh. Padahal, jika dilihat dari fisik mereka, seharusnya ayahnya yang sudah sering mengalami sakit-sakitan. Ibunya masih muda, masih cantik dan lincah, sementara ayahnya sudah tampak tua, kepalanya dipenuhi uban. “Pernahkah ibumu mengatakan siapa ayah biologismu?” tanyanya. Mereka duduk di ruang santai apartemen Alarick sambil menikmati secangkir teh. “Aku sering bertanya, tetapi Ibu tidak berkenan menjawab.” Ayahnya menghela napas dalam-dalam, pria itu menyerahkan sebua berkas kepadanya. “Ayah sudah tua, Nak. Selain kamu, Ayah masih memiliki dua orang anak lagi. Ayah ingin membangi seluruh harta kekayaan Ayah, untukmu dan dua saudara perempuanmu. “Ayah tidak bisa memberimu properti mewah, kapal pesiar, ataupun benda-benda berharga lainnya. Harta bisa habis terjual, tetapi tidak dengan ilmu dan keahlianmu. Untuk itulah, Ayah selalu memintamu untuk sekolah dengan serius. Ayah sedang bersaha mempersiapkan kamu untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Ayah hanya bisa memberikan saham padamu.” Alarick tidak peduli dengan warisan, ia sudah merasa sangat bersyukur dan berutang budi pada pria itu, untuk semua hal yang telah diberikannya pada ia dan ibunya. Ia sama sekali tidak mengharapkan warisan apa pun. Kala ayahnya memberinya saham, ia pikir itu hanya mainan yang tiada berguna. Namun, ternyata tidak main-main. Saham yang dimaksud adalah sebuah perusahaan raksasa yang beroperasi di bidang manufaktur. Namanya dikenal dalam masyarakat luas di tanah air, cabangnya ada ratusan yang teraebar di seluruh penjuru nuasantara. produk-produknya sangat akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari masyarakat kalangan bawah, menengah, hingga atas. “Satu lagi, Alarick. Ayah ingin bercerita mengenai ayah kandungmu selagi Ayah masih hidup. Ayah pikir, kamu berhak tahu.” Ayahnya meletakkan cangkir tehnya dan menepuk bahu Alarick pelan. “Ayahmu adalah seorang konglomerat tanah air. Kamu mungkin tidak asing dengan namanya.” Mendidih darah Alarick, mendengar keseluruhan cerita ayah tirinya. Ibunya tulus mencintai, tetapi dimanfaatkan dan dijadikan simpanan. Kala ibunya hamil, pria itu mencampakkannya dengan kejam, bahkan dihina, dibiarkannya menderia seorang diri mengandung, melahirkan, dan membesarkan Alarick. Detik itu Alarick bersumpah, ia akan mencari Dhanurendra dan keturunannya untuk membalas semua perlakuannya terhadap ibunya. Alarick tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, kala pada akhirnya menemukan ‘harta’ berharga Dhanurendra dalam wujud perempuan muda yang cantik bernama Alina. Pembalasannya akan segera dimulai. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN