Part 4

623 Kata
Ketika ranjang rumah sakit terasa lebih menyenangkan, warisan 60 miliar pun terlupakan begitu saja. Tersebab ada sosok yang selalu menjaga dan memperhatikannya. Kondisi itu mengingatkan Alina akan mendiang ayahnya. Dulu, setiap ia sakit, Ayah akan datang ke kamarnya dan menungguinya hingga ia tidur pulas. Berapa usianya? Entah, Alina tidak dapat memastikannya. Mungkin kisaran awal 40an. Ia sosok pria yang matang dan sangat luwes. Pembawaannya tenang, tetapi sangat cekatan dan memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Daniel tidak selalu berada di sisinya, menemaninya. Terkadang malah tidak terlihat, tetapi ia selalu ada. Setiap Alina membutuhkannya, ia datang. Pria itu memberi kabar baik mengenai kondisi Bu Yani, bahwa ibu angkarnya itu telah mendapatkan perawatan yang layak. Alina diminta untuk tidak memusingkannya dan fokus pada kesembuhannya sendiri. Meski terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan banyak luka di tubuhnya, tetapi baru kali ini Alina merasa benar-benar tenang, tidak ada keresahan apa pun. Mendengar kondisi Bu Yani dan ketiga adik-adiknya tidak terlantar, sudah cukup membuatnya sangat lega. Segalanya terasa baik-baik saja, hingga kemudian sebuah pertemuannya dengan pria pemilik mata mengerikan, bak pembunuh berdarah dingin yang mampu membuat bulu-bulu romanya meremang. Pria yang mengaku ingin melenyapkannya. “Ya, memang aku yang menabrakmu. Lalu, kamu mau apa?” tantangnya bak monster. Ia datang menerobos masuk ke ruang inapnya, seusai Daniel berpamitan untuk makan siang. "Sayang sekali kamu tidak mati." “Me—mengapa?” gagapnya. Alina menatapnya ngeri, sosoknya begitu suram dan mengerikan, tinggi dan mengintimidasi berdiri menjulang di sisi tempat tidurnya. “Karena aku ingin kamu mati.” Berat dan dalam suaranya terdengar begitu dingin, membekukan. Alina menelan ludah, merasa gugup. Entahlah, ia merasakan sebuah kebencian yang begitu besar dalam netra kelamnya kala menatap Alina. Bak psikopat melihat calon korbannya. Tajam siap merajang, membuktikan ucapannya. Bulu di sekitar tengkuk Alina meremang karenanya. Alina melirik pintu yang tertutup rapat, berharap Daniel muncul di sana dan menyelamatkannya dari pria itu. Demi Tuhan, ia ketakutan. “Apa salahku?” “Kamu hidup di dunia dengan menukar penderitaan banyak orang.” Kalimat itu terus tengiang-ngiang, memenuhi kepalanya dan berputar-putar di dalam sana. Alina hidup di dunia dengan menukar penderitaan banyak orang? Tidak salahkah? 18 tahun hidup menderita di bawah kekejaman kakak-kakak tirinya, ditambah tujuh tahun hidupnya yang serba sulit. Apa yang dilakukan Alina pada mereka, sedang ia sudah kerepotan memikirkan hidupnya yang serba sulit sejak dulu? Tidakkah pria itu salah orang? Alina tidak mengenal pria itu, sebelumnya pun tidak pernah saling berkenalan. Tahu-tahu datang dengan aura ancamannya yang begitu pekat, tidak main-main ia mengancam Alina akan membunuhnya. Apa yang dilakukannya di masa lalu selain dijadikan bahan bully-an oleh kakak-kakak tirinya yang jahat, hingga seseorang begitu benci dan mendendamnya? “Aku akan datang kembali, untuk menuntut balas,” geramnya sebelum meninggalkan Alina. Gemetar jari-jari Alina mencengkeram ujung selimut, ia hanya berusaha tidak menampakkannya di depan pria itu. Usai sosoknya menghilang dari kamar rawatnya, Alina tak lagi menahannya. Bahunya terguncang hebat. Ia ketakutan. Seseorang yang mengaku sengaja menabraknya datang, mengancam akan datang kembali untuk menuntut balas untuk sesuatu yang bahkan ia tidak tahu. “Nona, apakah Anda baik-baik saja?” Alina menengadahkan kepala, mendapati Daniel menerobos masuk. Pria baik hati itu menatapnya cemas, terlebih kala melihat tubuhnya gemetar. “Apakah dia macam-macam pada Anda?” Alina menggelengkan kepala. Gemetar bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala ketakutan. Entah bagaimana mulanya, tahu-tahu ia sudah berada dalam dekapan Daniel. Pria itu membelai kepalanya menenangkan. Oh Tuhan, Alina rindu sekali dengan sosok yang dulu kerap sekali membelai kepalanya demikian, menenangkannya, dan memberinya rasa aman. Memejamkan mata, dibiarkannya rasa aman mengaliri dadanya. Lembut tangan Daniel bergerak di kepalanya, lantas terdengar bisik lirihnya yang menjanjikan keamanan untuknya. “Jangan takut, Anda aman, Nona. Tidak ada yang bisa menyakiti Anda.” Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN