11

1297 Kata

Duduk di antara ratusan atau mungkin ribuan orang yang beralu lalang membuat Uci sedikit lebih tenang. Orang-orang di sini, di bandara ini tidak menganggapnya penting sehingga Uci tidak perlu memasang senyum pada siapapun, itu karena mereka tidak berniat menegur sapanya. Masih teringat jelas oleh Uci ketika pagi menjelang siang kemaren waktu Uci pulang dari acara menginap dadakannya di rumah Papa Erwin. Indah menatapnya gelisah dan mengajak bicara di dalam kamar. Kakak iparnya itu bahkan mengunci kamar Uci dari dalam agar tidak ada yang mengganggu mereka. “Kenapa?” tanya Uci bingung pada Indah. Ekspresi kakak iparnya itu sudah membuat Uci mulas duluan padahal Indah belum bicara sepatah katapun. “Gue ga maksud bawain bencana buat rumah tangga lo tapi gue perlu lo untuk cek ini.” Uci mene

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN