bc

THE RUSSIAN BEAST

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
family
HE
age gap
goodgirl
mafia
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
friends with benefits
widow/widower
like
intro-logo
Uraian

Aurora, gadis miskin yang terjerat utang ayah tirinya, dipaksa menjadi milik Dmitri—pria misterius yang kejam dan penuh kuasa. Dengan mata tertutup, Aurora pertama kali merasakan dunia gelap Dmitri yang penuh d******i, ketakutan, dan kendali mutlak.

#DarkRomance #ForcedFate #Misterius #d******i #AwalKegelapan 😈

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Pertemuan dengan Sang Monster
Dmitri Volkov, atau yang sering dikenal dengan Tuan Dmitri, sedang menunggu kedatangan Aurora, gadis tawanannya, di kamar hotel miliknya. "Bawa gadis itu ke dalam," perintah Tuan Dmitri kepada anak buahnya melalui sambungan telepon. Selang beberapa menit, anak buah Tuan Dmitri masuk sambil membawa Aurora dengan kedua matanya tertutup. "Tinggalkan kami," ujar Tuan Dmitri sambil mengibaskan tangannya, menyuruh anak buahnya pergi. Kemudian ia mendekat ke arah gadis yang matanya tertutup itu. "Siapa namamu?" tanya Tuan Dmitri sambil memperhatikan tubuh gadis itu. "Aurora, Tuan," jawab gadis itu dengan suara bergetar karena rasa takut yang menguasainya. Aurora, gadis miskin yang rela menjual dirinya demi membayar semua utang ayah tirinya, termasuk utang kepada Tuan Dmitri. "Lepaskan semua pakaianmu dan jangan coba-coba membuka penutup matamu, mengerti!" "Tapi, Tuan..." Aurora memegang erat kancing atas bajunya. Tuan Dmitri terus menatap gadis di depannya. "Ternyata kau cantik juga. Aku ingin segera menikmatimu," gumamnya lirih, tak ingin Aurora mendengarnya. Aurora Wijayanti, gadis dengan tubuh proporsional, paras ayu campuran Indo-Rusia. Tubuhnya mendekati sempurna. Tuan Dmitri tampak tak bisa menahan hasratnya. "Lepaskan sendiri atau kulepas paksa," suara Tuan Dmitri semakin meninggi. Aurora menelan ludahnya karena takut. "Baik, Tuan. Akan saya lepaskan sendiri." Perlahan, Aurora membuka kancing bajunya. Satu per satu pakaiannya jatuh ke lantai, hingga tersisa pakaian dalam saja. Dengan mata masih tertutup, Aurora mencoba membuka pengait bra-nya, namun terasa sulit karena ia tak bisa melihat. "Cepat atau kutembak kepalamu!" bentak Tuan Dmitri yang mulai naik pitam. Ia mendekat dan melepaskan paksa bra serta pakaian dalam Aurora. Kini Aurora berdiri tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya terasa nyeri saat tangan Tuan Dmitri mulai menyentuhnya. Aurora berusaha menolak, kedua tangannya bergerak menutupi bagian tubuhnya. "Kamu tak mau disentuh rupanya? Padahal aku sudah memberimu banyak uang. Maumu apa? Atau kau akan mengembalikan semua uangku?" Tuan Dmitri mencekik leher Aurora dan mendorongnya ke tembok. "Tidak, Tuan... saya tidak punya uang sebanyak itu untuk mengembalikannya. Mulai sekarang saya akan melayani Anda, Tuan," tangis Aurora tertahan. "Baiklah, layani aku sekarang." Tuan Dmitri memaksa Aurora berlutut. "Jongkok kamu!" bentaknya sambil mendorong kepala Aurora ke bawah. "Buka mulutmu," perintahnya dengan suara keras. Aurora terbatuk-batuk, mencoba menahan napas. "Uhuk... uhuk..." Namun Tuan Dmitri tidak peduli. "Telan, jangan kau muntahkan," ujarnya dingin. Aurora menahan rasa mual dan menuruti perintahnya. "Sekarang berdiri. Angkat satu kakimu ke atas dan bertumpu pada meja." Aurora menurut dengan tubuh gemetar. "Apa benar kamu masih perawan?" tanya Tuan Dmitri. "Iya... Tuan, saya masih perawan," jawab Aurora lirih, berusaha menahan suaranya. "Ah, Tuan..." suara Aurora nyaris tak terdengar. "Bahkan untuk berciuman pun saya belum pernah, Tuan," lanjutnya semakin pelan, namun tetap terdengar oleh Tuan Dmitri. Tuan Dmitri tersenyum tipis, lalu melempar tubuh Aurora ke atas ranjang. "Akan kuajari kau caranya berciuman yang baik." Tanpa memberi waktu, Dmitri langsung melumat bibir Aurora dengan kasar. Ciumannya menekan, menuntut, seolah ingin menguasai sepenuhnya. Ia bahkan tak menyangka rasa yang ia temukan begitu berbeda—manis dan memikat. Aurora terkejut, tubuhnya kaku di awal, namun perlahan ia merasakan sensasi asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Napasnya mulai terengah ketika Dmitri akhirnya memberi sedikit ruang. Bibirnya terasa perih, bahkan sedikit berdarah akibat gigitan kasar pria itu. Dmitri tak berhenti. Ia menurunkan ciumannya ke leher Aurora, meninggalkan jejak-jejak yang membuat tubuh gadis itu bergetar. Sentuhannya semakin berani, semakin menuntut. Aurora menggigit bibirnya, menahan suara yang hampir keluar. Tubuhnya bereaksi tanpa ia mengerti—antara takut, bingung, dan sesuatu yang lain yang sulit ia jelaskan. Dmitri memperhatikan setiap reaksi itu dengan sorot mata tajam, seolah menikmati kendali yang ia miliki. "Apa benar kamu masih perawan?" tanyanya rendah. "Iya... Tuan..." jawab Aurora lirih, suaranya hampir tak terdengar. Dmitri tersenyum samar, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia menarik napas dalam, lalu mendekat lagi, kali ini lebih pelan—namun tetap penuh tekanan. Aurora meringis saat rasa sakit mulai terasa di tubuhnya. "Aaaaa... sakit, Tuan... tolong hentikan..." suaranya gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya. "Sempit sekali..." gumam Dmitri pelan, masih mencoba menahan emosinya sendiri. Aurora mencengkeram sprei dengan erat, menahan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Sakit, Tuan... sakit sekali..." tangisnya pecah, tak lagi bisa ditahan. Namun Dmitri tetap pada posisinya, wajahnya dingin meski napasnya mulai berat. Sejak awal, Aurora sudah diperingatkan untuk tidak menyentuh tubuh Dmitri. Pria itu tak pernah mengizinkan wanita mana pun menyentuhnya—kecuali satu orang di masa lalunya. Bahkan setiap kali bersama wanita lain, Dmitri selalu memastikan identitasnya tetap tersembunyi. Aurora hanyalah satu dari sekian banyak rahasia yang ia simpan dalam gelap. Setelah beberapa saat, pertahanan Aurora akhirnya runtuh. Tubuhnya melemah, tak lagi mampu menahan tekanan yang sejak tadi memaksanya. Dmitri tak memberi jeda. Gerakannya cepat, penuh d******i, seolah ingin memastikan Aurora benar-benar berada di bawah kendalinya. Rasa sakit yang awalnya begitu kuat perlahan berubah menjadi sensasi asing yang membingungkan bagi Aurora. "Ahh... Tuan..." suara Aurora mulai terdengar, lirih namun tak lagi sepenuhnya tertahan. Napasnya memburu, tubuhnya bereaksi tanpa ia pahami. "A-ah... Tuan... saya..." ucapannya terputus, tak mampu menyelesaikan kalimatnya sendiri. Dmitri tidak menjawab. Ia justru semakin mempercepat ritmenya. Suara ranjang berderit pelan, berpadu dengan napas berat keduanya. "Argh..." Dmitri mengerang rendah, menahan puncak yang mulai mendekat. "Kamu... terlalu sempit..." gumamnya di sela napas yang memburu. Ruangan ber-AC itu terasa panas. Keringat mulai membasahi tubuh mereka. "Aaahhh... Tuan...!" tubuh Aurora melengkung, tak lagi mampu menahan reaksi yang muncul dari dalam dirinya. Dmitri meningkatkan intensitasnya untuk terakhir kali. "Arghh...!" ia menghentak kuat, lalu akhirnya mencapai puncaknya. "Kau... berbeda, Aurora," ucapnya pelan. Tak lama, tubuhnya ambruk di samping Aurora. Setelah Dmitri pergi, Aurora perlahan membuka penutup matanya. Pandangan terasa berputar, kepalanya pusing karena terlalu lama berada dalam gelap. Dengan tubuh yang masih lemas, ia turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Setiap langkah terasa nyeri. Aurora mencoba membersihkan dirinya, meski rasa perih masih terasa. Ia mengenakan kembali pakaiannya, merapikan rambutnya seadanya, lalu keluar dari kamar hotel itu. "Sudah seperti... w************n saja aku ini..." gumamnya pelan di sepanjang perjalanan pulang. Matanya kosong. "Tapi memang... aku sudah kehilangan segalanya... membayar utang dengan tubuhku sendiri..." Ia terdiam, menelan pahitnya kenyataan. Bus yang ditumpanginya hampir sampai. Aurora hanya menatap keluar jendela tanpa fokus. Beberapa menit kemudian, bus berhenti di halte dekat tempat tinggalnya. Ia masih harus berjalan sekitar lima belas menit menuju kos-kosan. Sesampainya di kamar, Aurora langsung merebahkan tubuhnya. Baru saja ia memejamkan mata, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Satu kali... dua kali... hingga empat kali panggilan, semuanya diabaikan. Hingga sebuah pesan masuk. "Kau berani mengabaikanku? Kau ingin mati!!" Aurora langsung tersentak. Dengan tangan gemetar, ia menerima panggilan berikutnya. "Y-ya, halo, Tuan..." "Kamu kenapa kabur?" suara Dmitri terdengar dingin dan penuh tekanan. "Saya hanya pulang ke kosan, Tuan... tidak kabur..." jawab Aurora gugup. "Sebentar lagi orangku akan menjemputmu. Ikuti perintahnya. Atau kalau tidak..." Suara Dmitri menurun, namun justru terdengar lebih mengancam. "Aku akan membunuhmu. Paham?" Telepon langsung terputus. Jantung Aurora berdegup kencang. Tak sampai sepuluh menit, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Aurora sudah tahu siapa itu. Tanpa banyak bicara, ia mengikuti dua pria tersebut. Ia masuk ke dalam mobil mewah, duduk di kursi belakang, sementara dua pria itu berada di depan. Mobil melaju menembus malam, menuju tempat yang tidak diketahui Aurora. Sekitar setengah jam kemudian, kendaraan itu mulai melambat. Tujuan mereka... hampir sampai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
704.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
944.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
338.8K
bc

Not just, the Beta

read
337.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook