--
Sebuah ruangan gelap dengan kaca balkon yang masih terbuka, membuatku beberapa kali mengerjabkan mata.
retina mataku sedikit demi sedikit mulai menyesuaikan dengan ruangan gelap ini.
Tidak seperti biasanya.
Aku tidak mendengar ada riukan suara ombak pantai lombok.
Tidak ada pula suara desingan angin yang biasanya sempat membuat jendela kamarku terbuka lebar, hingga sesekali papah-lah yang turun tangan untuk membetulkan atau menutupkannya kembali.
Tidak..
Aku tidak menemukan itu semua.
Disini hanya ada semilir angin yang sesekali membelai kulit wajahku dengan mesranya.
Ingatanku kembali kepada kejadian tadi siang.
Dimana barusaja aku bertandang dikediaman teman papa.
Aah ya aku ingat sekarang!
Tapi, Kemana ia saat ini?
Berbagai pemikiran yang mulai memusingkan kepalaku segera ku tepis jauh jauh.
Lantas, aku segera bangkit dan berjalan menuju pintu balkon.
suasana malam di jakarta.
Bising suara klakson masih bisa aku dengar, orang orang masih menjalankan aktifitas malamnya. Namun sejujurnya aku kurang menyukai suasana seperti ini.
Huuft.. Mungkin untuk kurun waktu yang sangat lama aku akan berusaha membiasakan telingaku.
Oh pantai..
Aku merindukanmu..
Bukankah baru beberapa jam aku meninggalkan pantai indah itu?
Rasanya seperti sudah beberapa tahun aku meninggalkan pantai indah milikku.
Aku kumpulkan jiwaku untuk kembali melangkahkan kedalam closet.
Aku ingin berendam dalam beberapa menit saja, setelah itu kembali keluar kamar ini untuk mencari sesuatu yang bisa aku makan.
Karena tak terasa rasa lapar sudah mulai mendera.
MyOccean
"Hai papa!" gumamku darisini sembari memakan beberapa kripik dalam bungkusan.
Oh ayolah jam sudah menunjukkan pukul 7 tapi om itu belum juga kembali kedalam penthouse yang memang bisa dibilang cukup megah ini.
"Hai sweety, do you miss me?" ujar seseorang yang jaraknya berada jauh di dekatku.
Aku hampir saja akan menangis, oh ayolah papah.. Bahkan aku tidak memiliki teman lelaki lagi selain dirimu.
Perkenalkan,
Namaku Kylie aludra occeana. Aku terlahir dari keluarga terpandang dan mapan di generasinya.
Ayahku bernama Xavier aludra serrano.
Ayah yang sangat sangat memanjakanku, tapi dirinya takan bisa berkutik jika seorang dominick sudah berkata, ya dominick aludra itu adalah ibuku sendiri.
Aku tidak mempunyai saudara.
Aku terlahir sebagai anak tunggal, papah dan juga mama tidak mau memberiku seorang adik yang lucu nan menggemaskan. Ntahlah aku tidak tahu alasannya.
Tetapi, disisilain aku bersyukur.
Itu tandanya kasih sayang mereka akan berlimpah ruah hanya untukku.
"I really really miss you daddy!" ungkapku dengan suara nyaring.
Dilayar iphoneku papa malah tertawa.
Di umurnya yang sudah berkepala 4, kharisma papa masih saja memancar.
Pantas saja mama dan papa saling possessive.
Menjaga rumah tangganya agar bisa awet seperti kecantikan dan ketampanan yang mereka miliki.
Aku iri kepada mama! Kenapa mama menikahi papa bukannya aku saja yang menikah dengan papa!
Bodoh
Inilah salah satu sifat asliku.
"Papa baru sampai?" tanyaku dengan sangat detail aku memandangi papa yang sedang rebahan.
Papa mengangguk.
"Ya honey, rasanya tubuhku sudah kaku dan sakit" ungkap papa selalu dengan senyuman yang merekah di bibirnya.

"Segera bergegas ke kamar kecil papa, mandi setelah itu istirahat yang cukup" jawabku sesekali menyuapkan kripik kedalam mulutku.
"Pasti honey, kamu jaga diri baik baik disana. Sepertinya disini terdapat macan yang sedang cemburu kepada kita"
Ya.. Satu lagi,
Aku dan mama sering kali berebut perhatian papa.
Bukankah aku pernah berkata?
Jika mama memang masih abg, sama sepertiku?
Usia mama nick masih terbilang muda, bahkan kini ia berusia 35 tahun.
Mama dan papa menikah diwaktu mama berusia 17 tahun dan papa 22 tahun.
Tiba tiba layar ponsel papa bergerak kearah sebuah sosok mama yang sangat aku sayangi.

"Hey! Kamu mengganggu waktu mama dan papa saja!" ucap mama dengan wajah yang terlihat garang.
Namun, aku hanya tertawa dan menjawab ucapannya.
"Mama! Aku kan kangen kalian."
"Iyaa mama tahu!" grutu mamaku namun ia kembali tersenyum lebar.
"Jaga diri kamu sayang, om baru kamu mana? Kenapa mama nggak lihat?" tanya mama.
Aku menggeleng dan menjawab.
"Kael bertemu dengannya hanya tadi siang ma.."
"Yasudah.. Biar papa kamu yang bertanya langsung. Mama matiin ya? Disini sudah petang"
Aku mengangguk, ya lebih baik seperti itu.
"See you honey"
"See you to ma.."
.
Dan baru saja aku menyimpan ponselku di atas meja.
Suara derap langkah kaki sudah berhasil menyita perhatianku.
Disana om tampan itu terlihat berantakan!
Mungkin ia kelelahan..
Laah mana aku tahu?
"Kau sudah makan?" suaranya yang terdengar dalam membuatku sedikit menoleh.
Ia tampan, dengan setelan tuxedo yang sudah berantakan dengan kancing teratas terbuka dan juga dasi yang sedang ia longgarkan ikatannya membuat ia semakin..
Astaga!
tak lupa dengan rambutnya yang tidak tertata rapi seperti sebelumnya.
"5 bungkus makanan ringan sudah berhasil membuat laparku hilang" jawabku sekenanya.
Dan
Boom!
Itu berhasil membuat dirinya terlonjak.
Matanya kembali menyipit kearahku, dan aku kembali membalas tatapan sinisnya.
"Apa yang kau lakukan dengan makanan tak sehat itu?" tanyanya
Memang akan aku apakan lagi jika tidak memakannya.
"Om.."
" om lolot ya? Ya aku makan lah! Masa aku buang!" ucapku kasar
Sebuah luapan kekesalan aku lihat dari wajahnya, karena saat ini bibir tipis milik om ini sudah terbuka lebar selebar lebarnya.
"A-apa?" ulangnya.
Aku hanya menggerakan bahuku dan meneruskan untuk memakan kripik ini.
"Darimana kau dapat kripik sialan ini? Aku tidak pernah menyimpannya di dapurku" ucapnya membuat aku kembali menatapnya tajam.
"Ayolah om! Aku membelinya tadi di minimarket apartemen ini. Aku lapar!"
"Kau lapar?" tanyanya sarkastik.
Aku mengangguk, tentu saja aku lapar bodoh!
Namun? Apa yang dia lakukan?
Pria ini malah berlalu begitu saja di hadapanku.
Yeah! Kalian tidak salah melihat!
"OMM TUAA BANGKAA!!" jeritku menahan kesal.
"Aku mendengarmu honey!" balasnya lagi dari dalam kamar yang entah kamar mana saat ini ia berada.
...
Suara dentingan garpu yang bertubrukan dengan sendok lebih terdengar mendominasi ruangan dapur.
Hening, dan teratur.
Baik zhio maupun kael, tidak ada yang ingin mengeluarkan suara di sela sela makannya.
Dan lihatlah, kali ini yang mendominasikan suasana hanyalah kylie.
Gadis itu terlihat bersemangat untuk memakan masakan yang di masak oleh zhio.
Zhio memasak?
Ya! Awalnyapun kylie tidak percaya. Lelaki lajang yang sangat lihai memasak.
"Apa kau tidak takut?" tanya zhio disaat makanan diatas piringnya sudah habis dengan pola teratur 5sempurna.
"Takut apa?" jawab kylie disaat makanan yang ia kunyah sudah berhasil masuk kedalam tenggorokannya.
Dan itu adalah suapan yang terakhir dari 3kali mengalasnya.
This is Amazing women.
"Gendut, maybe"
"Bahkan aku ingin mempunyai tubuh seperti itu! Lihat lah payudaraku saja masih kecil om, aku ingin besar seperti punya kebanyakan teman sekolahku dulu."
Glek!
Dengan susah payah zhio menelan ludahnya sendiri.
Anak ini betul betul mengacaukan juniornya!
"Maksudmu?"
"Ah sudahlah! Om kan lolot!" ujar kylie dengan tatapan mata menajam kemudian beranjak dari dapur menuju sofa putih yang sebelum sebelumnya ia berada disana.
Sementara zhio? Disini lelaki itu masih mengumpat perkataan yang barusaja di lontarkan kylie.
Demi tuhan! Gadis itu tidak semanis wajahnya!.
Hatinya gusar!
Bahkan karena tak sengaja melihat bongkahan daging kenyal yang tertutup pakaianpun, juniornya sudah memberontak!
Itu karena gadis si mulut mercon itu.
Dengan tenaga yang sudah terkuras banyak, zhio kembali mengikuti langkang kylie.
Ia ikut duduk disebelah kylie yang sudah larut kembali kedalam sebuah tontonan disney anak kecil yang sudah beberapa kali di ulang ulang.
Ekhemm..
Deheman dari zhio di buat sengaja hanya karena ingin menyadarkan kylie dari film disneynya.
Dan kini zhio sudah seperti menonton dengan gadis cilik.
"Seingatku, dulu kau sangat menyukai film ilmiah"
suara itu memang terdengar sexy. Dan Sudah berhasil membuyarkan konsentrasi kylie pada kartun kesayangannya.
"So tahu! Mana mungkin aku menyukai film itu!" elaknya tanpa memalingkan matanya dari film.
Hening..
Tidak ada lagi obrolan obrolan yang tidak penting untuk mereka obrolkan.
Sampai dimana wajah kylie berubah memerah tatkala ia menyaksikan langsung dimana seorang princess yang akan di cium oleh sang pangeran.
That's not good! Batin kylie.
Biasanya jika sedang bersama papanya, papanya pasti akan pura pura pergi atau tidak, ia akan berusaha mengalihkan topik lain agar kylie tidak melihat adegan itu.
Namun disini? Ini sangat berbeda sekali.
Disini ada omnya yang mungkin rrr sudah biasa menonton, oh tidak! Mungkin merasakannya pun sudah pernah.

"Ada apa dengan wajahmu yang blushing?"
Tanya zhio dengan mata menyipit dan suara yang sinis.
"Apa? Aku tidak apa apa!" elak kylie membuat zhio menahan tawanya.
"Aku tahu, pasti kau belum pernah merasakan kissing kan?" tebaknya
Itu sama sekali bukan pertanyaan, melainkan itu adalah pernyataan yang sesuai dengan ekspetasinya.
Kylie menampik semua itu.
"Sok tahu! Jelas saja aku pernah merasakannya dengan teman lelakiku!" dalam hati, kylie sudah mengumpat bibirnya yang memang belum pernah merasakan itu.
Mana mungkin papa membiarkan anak gadisnya berpacaran?
"Really?" gumam omnya dengan alis terangkat sebelah dan sesungging senyuman tipis tergambar di bibir sexynya.
"Hoaaamm! Sepertinya aku mengantuk om! Aku akan bergegas kekamar dan segera tertidur. Selamat malam om"
Cup!
Kylie sengaja mengecup pipi omnya, itu hanya sebuah kecupan ringan.
Tidak ada hal spesial menurut kylie sendiri.
Dengan gayanya yang sudah kebarat baratan kylie dan keluarganya memang terbiasa melakukan kecupan sebelum akan tidur.
Namun tidak biasa untuk zhio sendiri, bahkan juniornya yang sudah tenang kini kembali brontak dan meminta untuk secepatnya di puaskan.
..
Ugh.. Aahh.
Faster honey! Aaaghh..
Mmmhh.. Aaahh ahh
Berbagai desahan dan rintihan seseorang membuat kylie kembali terjaga di dalam tidur nyenyaknya.
Amarahnya sudah mengumpul menjadi satu.
Ia berdecak dan sangat kesal!
Tetapi, dengan nekatnya kylie beranjak untuk mengintip suara desahan orang orang dewasa itu.
Matanya melirik kearah arloji.
Dan jam sudah menunjukkan angka 2.
yatuhan sudah petang.
Kreekkeett
Dengan perlahan kylie membuka knop pintu.
Dan disana, sebuah pemandangan yang menakjubkan sedang berlangsung.
Omnya kini sedang tak berdaya dibawah tubuh jalang yang di bawa.
Pantas saja aku di bawa ke apartemen ini! Toh tempat ini untuk dijadikan one night standnya!
Rasa kesal menelusup kedalam hatinya.
Bahkan matanya kini melotot, disaat om zhio sudah tak sadar, dan wanita itu? Oh tuhan!
"Ekhem!" dehem keras ini sengaja kylie buat.
Hingga jalang itupun terkejut dan memandang kylie malu bercampur kesal.
"Pulanglah dan jangan membawa sepeserpun uang dari suamiku!" ujarnya penuh antimidasi.
"K-kau? Istrinya?" tanya jalangnya.
"Mana mungkin aku babunya disini! Cepat keluar atau akan aku tarik rambut blondemu!" kecam kylie benar benar seperti ibu tiri.
Dan itu berhasil membuat sang jalang dengan cepat memakai pakaiannya untuk bergegas keluar.
Bahkan ia sempat terjatuh beberapa kali dari lari pontang pantingnya.
Disini kylie tertawa, tertawa tanpa beban yang sangat membisingkan.
Itu membuat zhio sedikit terusik.
"Rasakan itu wanita jalang!" gumam kylie, dan tatapannya kembali kepada wajah lelap zhio.
"Yatuhan!, aku lupa menyuruh jalang itu untuk memakaikan kembali celana si bandot tua ini!"
Dengan langkah lebar kylie mendekat kearah zhio.
Aroma alkohol sangat mendominasi tubuh pria ini.
Pantas saja tidak sadarkan diri.
"Heh om! Pakai celanamu dan beranjaklah ke kamar!" suruhnya sedikit memaksa dan menggoyang goyangkan tubuh zhio.
Sempat zhio mengumpat, dan ia sendiri sedikit menurut.
Ia hanya menaikkan boxernya, tidak dengan pindah kekamar.
"Aku tahu! Ini akan sangat merepotkan ku!" lirih kylie dengan mencoba membantu Zhio pindah kedalam kamarnya.
"Menyusahkan!" bentaknya yang sudah berhasil membawa zhio kedalam kamar dan ia sendiri menjatuhkan dirinya ke ranjang yang sama dan langsung kembali terlelap menyusul zhio ke alam mimpi.