chapter 2

1087 Kata
Kulangkahkan kaki ini lebih masuk lagi kedalam sebuah apartemen yang baru saja aku singgahi bersama seorang sopir yang papa tugaskan untuk mengantarku. Ya.. Mengantarku menuju kediaman uncle zhio. Saat masih dirumah, berbagai nasihat papa sampaikan kepadaku. Dilarang merepotkan uncle zhio Jangan membuatnya marah Berhati hati Jangan sampai aku lecet sedikitpun Dan bla bla bla masih banyak lagi yang harus aku ingat tentang nasihat papa. Sedangkan mama?. jangan menanyakan mama ku itu! Dia masih abg! Bahkan ia hanya mengucapkan "Yaa sampai jumpa satu bulan yang akan datang sayang.. Mama dan papa pasti akan merindukanmu.." Mama nick menyebalkan! Dan kini? Aku sudah berada 20 menit lamanya menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Berdiri, jongkok, berdiri lagi, duduk, dan begitulah seterusnya. Bahkan hampir separuh permen karet yang aku bawa sudah habis-_- Sebal, Kesal, bete. Itu saja yang aku rasakan saat ini, ohh bahkan aku sudah seperti gelandangan saja dengan duduk di ubin dingin apartemen ini. Sebenarnya aku sudah memiliki goold keysnya, tapi aku malas! Seharusnya pemilik penthouse inilah yang membukakan pintu ini terlebih dahulu. Dugh.. Dugh.. Dugh.. Kaki ini sudah kembali menendang nendang pintu penthouse. Mamaaa.. Aku terlantar disini, sudah 1 setengah jam aku duduk menunggunya. Sampai langkah cepat seseorang kembali terdengar memenuhi pendengaranku. "Sorry, apa aku sudah terlambat?" ucapnya. Hah? Mataku membulat, segera aku bangkit dan mendekat kearahnya. "Menurut om!" desisku dengan kedua tangan di lipat dan sedikit memasang wajah garang untuk om om ini. Tampan! Aku fikir teman papa yang sudah tua dan bangkotan. Tetapi? Nyatanya seorang single man yang mampu membuat ilerku menetes kebawah! Aaah sudahlah kaeel, lupakan itu dan tuntut pembalasan untuknya. Aku melihat ia mengeryit dan senyuman manisnya perlahan lahan memudar terbiaskan kembali oleh wajahnya yang.. Rrr.. "Bukankah aku sudah memberimu kunci?" ucapnya. "Tidak sopan! Aku tidak mau masuk tanpa pemiliknya." Ceklek.. "Ya sudah ayo masuk!" serunya lagi saat aku masih saja terpaku dari luar. Mataku kembali mengekor kepada 2buah koper besar yang masih tersimpan diluar. "Apa?" serunya "Menurut om apa? Apakah harus aku yang membawanya?" tanyaku dan aku langsung saja masuk tanpa menghiraukan pria itu lagi. "Siaal" "Om aku masih mendengarnya!" Dan kami kembali berjalan lebih dalam lagi di panthouse ini. "Om, dimana kamarku?" tanyaku dengan kembali berbalik kearahnya. "Om! Yaampun dari tadi om mandangin pantatku?!" ujarku terus terang dan menuduhnya. Karena matanya masih tertuju kepada tubuh bagian bawahku. "T-tidak! Mana mungkin" elaknya. " aku tahu om!" jawabku yang kembali berjalan lebih cepat lagi dan meninggalkan dirinya yang masih tertinggal di belakangku. ... "Maaf Tuan, anda akan pergi kemana?" seseorang yang sedaritadi mengikuti setiap pergerakanku sudah mulai gencar bertanya. Memangnya apa urusannya dengan mereka? "Aku harus segera pergi" "Apa anda membutuhkan seorang ajudan?" "Tidak perlu" Setelah mengucapkan demikian, aku segera berlari. Berlari kearah lift dan memencet tombol G disitu basement berada dan dimana mobilku berada saat ini. Ohh ayolah aku sudah terlambat untuk menunggu tamuku dirumah.. Sebuah porsche putih sudah berada di depanku saat ini. Dalam laju kecepan yang bisa di bilang maksimal aku menginjakan pedal gasku. "Oh ayolaah! Jangan macet seperti ini di waktu yang tidak tepat!" erangku. Tepat sekali di pertigaan jalan menuju apartemen terjadi kemaceten yang lumayan parah, bahkan mobilku stuck di tempat itu. To : anzhio From : kak Xavier. Cester! Apakah kau sudah bertemu dengan putriku? Mungkin dia sudah sampai di apartemenmu 1 jam yang lalu. Tapi ia sama sekali belum memberiku kabar. Sebuah pesan dari kak xavier berhasil membuat hatiku mencelos, mataku membulat dan juga lidah ini yang terasa kelu. Bagaimana mungkin sampai 1jam lamanya? Aku arahkan kembali mata ini kepada jam kecil yang bertengger di pergelangan tanganku. Astaga.. Ini sudah pukul 2? Mataku kembali terbelalak, tentu saja aku langsung menginjak pedal gas sekuat tenagaku dan memacu porsche menuju apartemen. Mungkin aku belum mengenalkan diriku kepada kalian, tetapi kalian sudah mengetahui namaku. Ya.. Namaku Anzhio Alexandra Lucester. Usiaku 29 tahun dan tinggiku sekitar 1,89 m. Kini aku sedang menjabat sebagai CEO di beberapa perusahaanku. Apalagi yang ingin kalian ketahui tentangku? Statusku atau apapun itu.. Beritahukan saja kepadaku agar kalian tidak terlalu penasaran. Dan saat ini aku sedang memenuhi tugasku yang di berikan oleh kak xavier beserta istrinya. Aku tidak pernah melihat pasangan suami istri yang memang seaneh mereka. Mereka itu lucu, gokil dan tingkahnya selalu seperti pasangan baru menikah saja. Sudah beberapa kali mereka menitipkan buah hatinya kepadaku. Tidak tidak, mungkin baru dua kali. Pertama sewaktu buah hati mereka berumur 1tahun. Dan hanya selang waktu 2hari saja mereka menitipkannya kepadaku. Yang kedua sewaktu mereka akan pergi ke uni soviet, dan anaknya baru saja berusia 11 tahun. Sudah lama juga ya? Kira kira sudah 7 tahun lamanya kami tidak kembali berjumpa. Dan kemarin malam ia mengirimku email sampai bervideo call. Kak xavier memang menetap di indonesia, tetapi ia berada di bumi lombok. Dan kini, kaki jenjangku sudah melewati beberapa lorong sampai satu lorong lagi maka pintu penthouseku akan terlihat keberadaannya. Mataku tak sengaja melihat siluet seseorang yang sedang berselonjoran di lantai. Apakah anak itu yang akan tinggal bersamaku? Mataku dan matanya saling bertubrukan. Damn it! You'are so beautyful. "Sorry, apa aku sudah terlambat?" seruku saat tepat berada di depannya, dengan sesungging senyum manis yang terpaut di bibirku. Ia kembali bangun, dan menatapku tajam. Why? What's wrong with me? "Menurut om?" wow! Sebuah kejutan. Cantik dan galak seperti macaan. "Bukankah aku sudah memberimu kunci?" ucapku sekedar mencairkan suasana. "Tidak sopan! Aku tidak mau masuk tanpa pemiliknya." that's good baby.. Ceklek.. "Ya sudah ayo masuk!" ajakku lagi, namun ia masih mematung di tempatnya. Apa lagi? Dan kulihat matanya mengekor kepada 2buah koper besar yang masih berada diluar. "Apa?" gumamku dengan halis yang tertaut. "Menurut om apa? Apakah harus aku yang membawanya?" Astaga.. "Siaal" "Om aku masih mendengarnya!" dan aku mengutuk ucapanku sebelumnya. Gadis ini-_- Kamipun kembali masuk lebih dalam lagi di panthouse. Walaupun ia sangat sangat garang! like her mother Tapi dari sisi penampilan. Wajahnya yang imut memang berbanding terbalik dengan sifatnya. Jangan lupakan, tubuhnya yang sekal dan goyangan pinggulnya saat ia berjalan! Damn it! Itu sudah berhasil membuat sesuatu menyesakkan celana bahan yang sedang aku kenakan. "Om, dimana kamarku?" tanyanya membuat aku terlonjak dan tersadarkan dari lamunanku. "Om! Yaampun dari tadi om mandangin pantatku?!" Telingaku ya ampun! Suara anak ini sangat luar biasa! Dan berhasil membuat dengungan nyaring terdengar di telingaku. Tertangkap basah! Ya.. Tubuh bagian bawahmu sangat menggoda imanku, darling. "T-tidak! Mana mungkin" namun aku mengelak, bagaimana mungkin aku berkata jujur kepada bocah mercon ini? " aku tahu om!" jawabnya.. Tetapi? Gadis itu kembali berjalan dengan meninggalkanku yang sedang kesulitan membawa koper besar ini? what the hell? Sejak kapan tanganku memegang koper ini? Hufft.. Ya sudahlah..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN