"Kamu, aku, Anisa dan tentunya sekretaris kamu juga ikut." Jawab Ibrahim.
"Baik, nanti kita nginap dirumahku aja. Aku juga sudah lama tak berkunjung kerumah orang tuaku."
"Ya sudah, kalau begitu aku siapkan semuanya. Sore ini kita berangkat."
Tepat pukul lima sore, Arvi, Hasbiya, Anisa serta Ibrahim berangkat menuju Bandung. Tanpa mengabari Lintang ia pergi, untuk pakaian tentunya Arvi sudah meminta Pak Agus untuk membawanya.
"Ar, kau yang nyetir nih." Anisa memasuki barangnya dibekasi. "Has, barang kamu dimana." Tanya Anisa.
"Udah dibekasi." Sambung Arvi.
"Lintang udah kau mau kebandung." Tanya Ibrahim.
"Jangan bahas dia, bra. Rasanya kesal mendengar namanya." Gerutu Arvi.
"Masalah lagi???" Ibrahim masuk dalam mobil didepan.
Sedangkan Anisa dan Hasbiya duduk dibangku belakang. Sesekali Hasbiya melirik Arvino yang menyetir.
Hasbiya?? Tentunya masih kesal dengan Arvino, itu kenapa dia lebih untuk duduk disamping anisa.
"Hasbiya, daritadi diam. Ada apa." Tanya Anisa. "Ada masalah?!?"
"Tidak, Nis. Hanya lelah." Jawab Hasbiya.
"Benarkah??" Ucap Arvino melirik Hasbiya dari kaca mobilnya.
Hasbiya menyipitkan matanya kesal, ia memandang malas Arvino. Mungkin merasa masih kesal wajah Hasbiya tampak cemberut.
Setelah Hampir tiga jam dalam perjalanan, Akhirnya mereka sampai dikediaman keluarga Arvino yang tak kalah mewah dari rumah Arvino.
"Den Arvi." Sapa pembantu yang bekerja dirumah tersebut.
Kedua Arvino memang tinggal di Bandung sejak lima tahun silam. Karena melihat kesuksesan putra mereka Arvino. Mereka memutuskan untuk tinggal di Bandung dengan masa tuanya.
"Loh, kok enggak kabari mau datang." Tanya Bi Mira.
"Mama, Papa, mana." Tanya Arvino.
"Didalam, den." Jawabnya. "Enggak sama non Lintang."
Terlihat pasangan paruh payah yang sedang duduk santai diruang tengahnya. Mendapat kejutan kedatangan Arvino tentu sangat menyenangkan
"Arvi, senang melihatmu disini." Novi mama Arvi berucap riang. "Bersamaa Lintang."
"Tidak, ma. Aku ada kerjaan di Bandung." Arvino sekilas memandang ketiga orang yang sudah duduk diruang tamu. "Bersama Ibrahim, Anis dan.."
"Dan siapa??" Sahut Sigit papa Arvino.
"Dan Hasbiya, dia sekretaris baruku." Jawab Arvi.
Sebenarnya Arvino ingin sekali mengatakan jika Hasbiya istri keduanya. Sayangnya, itu tidak mungkin karena ada Ibrahim dan Anis bersamanya.
"Mari ku kenali pada Hasbiya." Seru Arvino kembali.
Arvino melangkah keruang tamu. Disusul kedua orang tuanya yang tersenyum ramah.
"Om, tante. Apa kabar." Sapa Anis mencium punggung tangan kedua paruh bayah itu.
"Alhamdulillah kami baik, Anis. Ibrahim, Bagaimana ta'aruf kamu." Ujar Sigit menduduki sofa. "Ini pasti Hasbiya."
Hasbiya tersenyum tipis, lantaran dia tak tau jika kedua orang ini orang tua Arvino.
"Hmm.." Arvi berdehem melirik Hasbiya seolah memberi kode untuk menyalam orang tuanya. Tapi Hasbiya sepertinya tak mengerti. "Hasbiya, dia papa dan mamaku." Ucap Arvino dengan suara halus.
Hasbiya terjengkit kaget, ia tersanduk ketika mulai berdiri hingga membuatnya hampir terjatuh. Untung saja dengan cepat Arvino menangkap sigap tubuh Hasbiya.
"Bisa bersikap normal saja. Jangan membuatku gila." Bisik Arvino menggeram.
Ya Tuhan!! Baru saja Arvi berhasil membuat jantung Hasbiya berdetak kencang.
"Astagfirullah, Arvi kalian bukan mahram." Tegur Ibrahim.
Mata Hasbiya terbelalak, spontan menolak tubuh Arvino dengan kuat.
"Hasbiya." Bentak Arvi. "Bukannya berterima kasih, kau malah menolakku."
"Maaf, Tuan." Hasbiya menyengir tak enak. "Salah sendiri, kenapa anda memeluk saya."
Wajah Arvino semakin menggeram dibuat Hasbiya, ingin sekali ia mencekik leher wanita ini.
'Apa salahnya memeluk istri sendiri.' pikir Arvino.
Hasbiya kembali menatap Sigit dan Novi yang terkekeh melihat kejadian tersebut. "Maaf, Bu, Pak." Hasbiya menyium punggung tangan keduanya secara bergilir.
Anis dan Ibrahim tentunya kaget dengan kelakuan Hasbiya, mereka tau Hasbiya selalu menjaga jarak pada pria asing, Apalagi bersentuhan. Tapi Sigit, kenapa Hasbiya menjadi mudah bersalam dengan pria paruh bayah itu.
"Hasbiya, kamu karyawan baru Arvi." Tanya Novi.
Sebelum menjawab Hasbiya melirik Arvino yang mengangguk padanya.
"Iya, Bu." Jawab Hasbiya.
Seakan membuat Anis semakin curiga dengan tingkah laku Hasbiya dan Arvino. Apalagi Anis sudah lama mengenal Arvino tentunya menjadi aneh untuknya.
Bi Mira mengantar masing-masing dari mereka untuk beristirahat dikamarnya. Arvino tidur dikamarnya bersama Ibrahim, sedangkan Hasbiya dan Anisa tidur di kamar tamu.
Hasbiya mendapat tatapan intens dari Anisa yang kini telah menjadi sahabatnya. Tentu saja merasa aneh, ia merunduk menghindar Anisa yang semakin mendekat padanya. Dirinya sendiri sedang berberes pakaian di kopernya.
"Ada apa, Has. Kau menyembunyikan suatu." Seru Anis duduk dikursi mejah rias samping Hasbiya.
"Ti---tidak." Tergagap Hasbiya. "Apa yang harus ku sembunyikan." Ucap Hasbiya seraya memasukan bajunya didalam lemari.
"Kalau begitu tatap aku, katakan jika kau tak menyembunyikan apa pun." Anisa menarik dagu Hasbiya agar menatapnya.
Hasbiya menghembus nafas kasarnya. "Anis, kenapa kau memaksaku."
"Jadi benar kau menyembunyikan suatu." Anisa meninggikan suaranya membuat Hasbiya menutup mulutnya.
"Kecilkan suaramu." Melepas pelan dekapan tangannya. "Aku telah menjadi istri kedua seorang." Ucap Hasbiya pelan dengan malas.
"Apa." Sontak kaget Anisa.
"Anis, aku sudah bilang kecilkan suaramu."
"Maaf, aku kaget. Jangan bilang kau menikah dengan Arvino." Tebak Anisa tak sabar menunggu jawabannya. "Jadi benar Arvino menikah lagi?!? Dan Lintang bagaimana." Simpul Anisa
Hasbiya mengerjapkan matanya seraya menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan kuat.
"Kau ingat kejadian Pak Theo. Tuan memintaku membayar semua itu dengan menikah dengannya, aku sendiri baru saja tadi pagi tau jika dia memiliki istri." Terang Hasbiya.
"Bukankah Arvi sangat mencintai Lintang. Apa yang membuatnya menikahimu."
"Entahlah." Hasbiya mengerdikan bahunya. "Aku tidak tau."
Anisa tak suka jika Arvino mempermainkan pernikahannya. Dan juga memainkan hati dua wanita sekaligus, apalagi dulu Lintang sahabatnya. Dan kini Hasbiya sahabatnya.
Tapi karena ini rumah Arvino, Anis enggan mempertanyakan hal itu pada bosnya.
"Hasbiya..!!!!!!" Jerit Arvi.
'Astaga baru saja Hasbiya bernafas lega, karena telah selesai berberes tapi harus mendengar jeritan Arvino.
Ia menghembus napas bosannya. "Ya.. tuan, sebentar."
Langkah Hasbiya berburu menghampiri Arvi yang sedang menonton televisi bersama Ibrahim serta kedua orang tua Arvi.
"A--" belum saja Hasbiya bicara tapi Arvino sudah dicelanya.
"Buatkan kopi sekarang..!!" Perintah Arvi.
"Loh.. Arvi, Bi Mira bisa membuatkannya, Hasbiya kan tamu." Impuh Novi mengeryit.
"Biar dia yang buat, ma." Jawab Arvi.
Novi sangat mengenal putranya, ia tau jika pria suka kopi buatan Hasbiya. Jika tidak mungkin Arvi menyuruh Hasbiya.
"Tapi, Arvi." Suara Novi menekan.
"Ma, kopi buatan Hasbiya pas dilidahku." Jawabnya.
Novi mengeryit, belum ada seorang pun yang bisa membuat kopi pas di lidah Arvi selain dirinya. Bahkan Lintang saja tidak bisa.
"Sepertinya kau sering sekali dibuatkan Hasbiya kopi." Sindir Anisa.
Namun ternyata Arvi memilih tak menggubris sama sekali. Ia lebih memilih memberi kode pada Hasbiya menuruti perintahnya.