Hari yang sangat membosankan untuk Hasbiya, berbagai keluhan terbesit dibenaknya. Apalagi yang bisa dilakukannya selain itu.
Sudah sepagi rasanya malas untuk menemani Arvi ke proyek. Tapi mengingat ia adalah sekretaris Arvi, pastinya sudah di haruskan menemani pria itu.
Melihat waktu menunjukkan pukul 07.30 pagi, Hasbiya segera berberes ranjang yang di tiduri bersama Anis.
'Uhh.. semoga hari ini tidak menyebalkan seperti pernikahanku sekarang.' Gumam dalam hati Hasbiya.
Tak lama Hasbiya keluar dari kamar tersebut, memandang Novi sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
"Mau dibantu, Bu." Tawar Hasbiya yang baru saja datang.
"Tentu, kalau tidak merepotkan." Jawab Novi dengan senyumannya.
Dengan sangat cekatan, Hasbiya menyiapkan piring yang hendak di letakkan atas meja makan.
"Selamat pagi." Ujar Anisa menghampiri kedua orang ini. "Akur sekali."
"Pagi."
Tak lama dengan itu, Arvi dan Ibrahim datang dengan mengontai kakinya. Tidak sapaan dari Arvi, ia langsung menduduki kursi berhadapan Hasbiya.
"Hasbiya, buatkan aku roti." Suara Arvi menggelegar ketika hendak duduk.
"Baiklah." Sejenak Hasbiya memasang wajah cemberut. "Anda mau rasa apa?"
"Coklat." Singkat Arvi seketika ia memainkan ponselnya.
Hasbiya dengan cepat mengoleskan selain coklat diroti tawar untuk Arvi. Tidak ada yang curiga dengan hal itu, terkecuali anisa yang telah mengetahui segalanya.
"Makanlah." Ucap galak Hasbiya seraya memberikan roti.
Setelah bersarapan Arvino pergi ke proyek bersama Hasbiya, Anisa dan Ibrahim. Sedari tadi di dalam ruangan yang sesak sesekali Arvino melirik Hasbiya.
Sadar atau tidak sadar, dirinya tidak henti mencari perhatian pada Hasbiya. Arvi ingin sekali menjelaskan suatu pada Hasbiya tentang Lintang, namun kesempatan sepertinya tidak ada sama sekali.
"Hasbiya, ambilkan laptop aku." Pinta Arvino.
"Dimana??"
"Dalam mobil."
"Kenapa tidak tuan ambil sendiri." Seru Hasbiya seketika. "Lagi pula tuan punya kaki dan tangan sendiri."
Arvi melotot pada Hasbiya, rasa kesal menghinggap didadanya. "Beraninya kau membantahku." Sergah Arvino menghampiri perempuan itu.
Hasbiya melangkah mundur hingga ketembok. 'Oh tuhan tidak..!! Selamatkan aku, kenapa harus ada tembok disini. Apa yang harus kulakukan.' jerit hati Hasbiya.
Wanita itu mengerjapkan mata ketika Arvi semakin dekat padanya. Arvino merengkuh pinggulnya, ia menghirup wangi khas tubuhnya. Seperti ada suatu yang ingin mengejolak ditubuhnya.
"Kau takut." Arvi menarik dagu Hasbiya. "Bagaimana jika aku mencuri bibirmu disini. Hasbiya kau lupa aku suamimu. Jangan macam-macam padaku." Gertak Arvi dengan senyum miris.
Jika saja Arvi menyadari jantung Hasbiya berdetak kencang atas perbuatannya. Bahkan Hasbiya melotot dengan perlakuan Arvi.
Jujur saja, Hasbiya tidak bisa menolak dengan perlakukan Arvino setiap saat. Dirinya menginginkannya, namun ia sadar Arvi milik Lintang.
Selama ini juga Arvino juga belum menjelaskan apapun pada dirinya. Tentang Lintang? Tentang kenapa dirinya dijadikan istri kedua?
"Aa--aaku akan am--bilkan." Gugup Hasbiya.
Ceklek..
Tanpa sengaja Anisa memasuki ruangan yang ada Arvi dan Hasbiya.
"Oh Maaf." Sesal Anisa, sepertinya ia masuk diwaktu tak tepat.
Raut wajah Hasbiya memerah karena malu. Seperti sebuah ombak besar telah menghantam dirinya.
'Astaga.. malu sekali rasanya.' batin Hasbiya.
Secepat mungkin Hasbiya berlari dari hadapan Arvino, tubuhnya merasa hal aneh seakan tersengat lebah.
Hasbiya menyembunyikan perasaan cemasnya, ia berjalan kearah mobil Arvino dengan pikiran yang melayang.
Hembusan nafas panjang merasa ketenangan sesaat. Dirinya bisa gila tiap hari harus berhadapan Arvino dengan sifatnya yang seperti bunglon untuk Hasbiya.
"Hasbiya." Tegur Ibrahim membuat Hasbiya terjungkit kaget.
"Astagfirullah." Hasbiya mengelus dadanya melihat Ibrahim yang berdiri didepannya.
"Maaf, aku mengagetkanmu." Desis Ibrahim merunduk.
"Uhh.. tidak masalah, saya pikir tadi tuan Arvi makanya kaget." Desah Hasbiya lega.
"Sekali lagi maaf." Ucap Ibrahim. "Mau kembali ke proyek."
"Iya, tadi Tuan Arvi minta ambilkan laptopnya." Ujar Hasbiya berjalan sejajar dengan Ibrahim.
Kalau boleh jujur Hasbiya adalah tipe wanita idaman Ibrahim, sholeha, cantik hatinya dan wajahnya.
Tapi menyadari jika dirinya telah berta'aruf dengan wanita lain, tidak mungkin melamar Hasbiya.
Tentu saja tidak.mungkin Ibrahim, lantaran Hasbiya telah menjadi istri Arvino.
Hari sudah semakin sore, mereka kembali kerumah orang tua Arvi. Terlihat lelah diwajah Hasbiya.
Ketika sesampainya dirumah, Hasbiya mendapat kejutan luar biasa.
PLAK..
Tamparan menghantam wajahnya saat memasuki rumah. Bahkan dirinya belum sempat mengucap salam.
"Lintang." Bentak Arvi melototinya. "Cukup, kau menamparku kemarin. Sekarang kau menamparnya."
"Wanita sialan itu pantas mendapatkannya." Umpat Lintang.
Arvi hendak ingin membawa Lintang kedalam untuk bicara berdua dengan dirinya.
"Arvi, tunggu."Sigit menghentikan langkah Arvi dengan tatapan tajam. "Apa benar kamu telah menikahi Hasbiya tanpa sepengetahuan Lintang." Tanya Sigit.
Arvi tersentak kaget, lalu menatap Lintang. Dia berusaha menyembunyikan prihal ini. Namun Lintang dengan sengaja memberitahu orang tuanya.
Semua orang seolah menghakimi dirinya menunggu jawaban. Bibirnya mengatup dihadapan kedua orang tua.
Tapi siapa sangka, Hasbiya memberikan ketenangan pada Arvi.
Wanita itu mengenggam jemari Arvi dengan lembut. Ia berbisik "Tarik nafas dan keluarkan perlahan, jangan lupa awali dengan bismillah."
"Pa, Ma, Maaf. Aku memang telah menikahi Hasbiya diam-diam." Pasrah Arvi tertunduk.
"Perempuan laknat..!! Lepaskan tanganmu dari suamiku." Caci Lintang.
"Alhamdulillah." Ucap Novi seraya memeluk Hasbiya. "Akhirnya matamu terbuka lebar."
Reaksi Novi sangat mengejutkan semua orang, termasuk Hasbiya. "Ibu tidak marah."
"Panggil mama seperti Arvi dan Lintang." Sahut Novi dengan senyumnya. "Tentu saja tidak, justru senang. Ya selama ini aku ingin cucu namun sayang Lintang tak dapat memberikan."
"Mama.. jangan bicara seperti itu." Arvi bernotasi tinggi.
"Mama bicara dengan fakta."
Lintang merasa sakit hati, ia menangis berlari kekamar Arvino. Sungguh ia kecewa dengan Novi yang tak bisa menerima keadaannya.
"Aku memiliki alasan sendiri dengan pernikahan ini. Jadi aku harap jangan ada yang terlalu ikut campur." Gertak Arvi.
Ibrahim tak kalah kagetnya mengetahui Hasbiya istri kedua Arvino. Baru saja dirinya mulai mengagumi perempuan itu.
Arvino memandang Lintang dengan tangisannya. Ia tak tega, Lintang memang sangat sensitif jika mengenai seorang anak.
"Mau apa." Ketus Lintang. "Kau puas, mamamu telah mempermalukan ku."
"Maafkan mama. Dia--"
"Dia apa?? Dia mengharapkan cucu dari ku? Kau bahkan tau itu tidak mungkin." Sungut Lintang.
"Mamamu ingin anakkan. Minta pada istri keduamu." Pekik Lintang.
Arvi menghadapi Lintang dengan tenang, tak sedikit pun menunjukkan rasa kemarahannya, walau tau kelakuan Lintang pada Hasbiya keterlaluan.
"Lintang, dengar ak---"
"Cukup, Ar. Mamamu benar, hamili istrimu." Lintang mengusap air mata yang telah berderai dipipinya. "Selama ini aku tidak bisa memberi keturunan padamu."
Arvi menghembus nafas panjangnya, seperti dirinya juga menginginkan itu.
Anak?? Ya.. itu cukup keinginan terbesar Arvi. Tapi bukanlah itu yang membuat Arvi menikahi Hasbiya.
Sebenar sikap Lintang yang membuat Arvi ingin membuat Lintang cemburu. Sepertinya Arvi lupa jika ia juga bersalah pada Hasbiya.
***