10.PENJELASAN

1077 Kata
Di Jakarta 07.15.PM Setelah kejadian penamparan Hasbiya enggan untuk memulai bicara bersama Lintang. Ya mungkin Hasbiya merasa tidak enak karena kehadirannya selalu memicu pertengkaran Arvi dan Lintang. "Non Hasbiya, tidak makan bersama tuan dan nona Lintang tadi." Tanya Bi Siti. "Tidak, Bi. Lagi pengen makan malam sendirian." Jawab Hasbiya yang tengah duduk di meja makan. "Tapi, kan tuan sudah minta non Hasbiya makan bersama. Kenapa menolak?" "Malas ah.. ntar saya ditampar lagi." Jawab asal Hasbiya. Bi Siti tertegun ketika Arvi berada dibelakang Hasbiya. Seakan memberi kode untuk tidak memberitahu jika ia berada di sana. "Memangnya enak apa ditampar." Decak kesal Hasbiya. "Seharusnya jika sudah memiliki istri kenapa harus menikahi saya. Saya kan sebagai perempuan jadi rugi. Sudah dibohongi.. Jadi istri kedua pula." Gerutu Hasbiya tiada henti menceritakan apa yang ada didalam hatinya. "Jadi kamu mau jadi yang pertama." Celetuk Arvi dibelakang Hasbiya. "Astagfirullah, Tuan." Pekik Hasbiya terperanjat mendengar suara Arvi secara tiba-tiba. "Bukan gitu, Tuan." Salah tingkah Hasbiya. "Lalu seperti apa kalau bukan begitu." Arvi mencekak pinggang dengan matanya berlotot. 'Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. Selamatkan aku dari tuan ini.' jerit hati Hasbiya. "Tu--tuan. Maksud saya--" "Bohong dosa, Hasbiya." Sergah Arvi. Hasbiya menggigit bibir bawahnya. "Maaf, tuan." "Tuan, saya mohon jangan marah. Saya hanya bicara sesuai dengan kenyataan." "Kenyataan??" "Iya, tuan. Itu faktakan, saya di tampar, saya jadi istri kedua, wajar saja saya merasa di bohongi." Gumam polos Hasbiya seraya meremas ujung jilbabnya. "Hasbiya, cukup..!!" Bentak Arvi. Sepertinya mood Arvi sedang tidak baik. Ia sangat kesal dengan setiap ucapannya Hasbiya. "Kenapa tuan? Saya hanya berusaha kata jujur. Bukannya tadi tuan sendiri mengatakan bohong itu dosa." Sekat Hasbiya. "Hasbiya berhenti bicara omong kosong." Cela Arvi. "Darimana omong kosongnya. Tuan, memang enggak ada otaknya. Otak tuan terbuat dari batu hamparan." Celetuk Hasbiya lalu pergi dengan larian kecilnya. "Has,--" "Beraninya dia bilang otak aku terbuat batu hamparan." Kesal Arvi melihat kepergian Hasbiya. Bi Siti tentu saja terkekeh melihat Hasbiya berhasil membuat Arvino marah. Wajah Arvi memedam amarahnya. "Aku akan memberi peringatan padanya..!!" Merengut Arvi kesal lalu pergi kearah kamar Hasbiya. Arvi menaiki anak tangga dengan raut muka menggeram seakan ingin meluapkan amarahnya. Sementara Hasbiya justru berusaha menghindar. Perempuan itu mengurung dirinya sendiri di kamar mandi agar tidak mendapat cacian dari suaminya. Suami?? Apa iya Arvino pantas disebut suami. Pria itu sendiri belum bisa bersikap adil pada Hasbiya. "Hasbiya." Teriak Arvi masuk kamar Hasbiya. "Hasbiya." "Jangan main-main sama aku." Gertak Arvino. "Hasbiya, kau jangan memancing kemarahanku. Keluar sekarang juga..!!" Arvi mengetuk pintu kamar mandi Hasbiya dengan kuat. Hasbiya memondar-mandirkan dirinya, ia semakin takut dengan kemarahan Arvino. 'Hasbiya, Kenapa kau harus terjebak menikah dengan pria seperti tuan ini.' Hasbiya membatin kesal. Hasbiya terus saja mengerutu sendiri. Tapi tak lama dari itu suara Arvi menghilang begitu saja. Pikiran Hasbiya jika Arvino telah pergi dari kamarnya tersebut. Hasbiya menghembus nafas lega, ia keluar kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya yang lelah. Nyarisnya saja ia berada seharian dikamar mandi. "Sudah puas berdiam diri dikamar mandi." Kontan Arvi duduk di sofa besar. Oh Tidak..!!! Ternyata Arvino masih berada dikamar Hasbiya. Hasbiya sepertinya harus pasrah dengan kemarahan Arvino. "Aku akan tidur disini." Ucap Arvino. "Dan jangan berpikir macam-macam." 'Ah.. sepertinya dia sudah lebih tenang. Terserahlah dia mau tidur disini. Aku tidak perduli.' Hasbiya membuka hijabnya, ia bersender dan membaca sebuah buku tentang sejarah yang pernah mantan suaminya berikan. Sesekali tanpa disadari Hasbiya, Arvino memandang Hasbiya yang tergerai rambut panjangnya. "Hasbiya, bisa kita bicara." Tanya Arvi dengan suara tegasmya. "Bicara saja, tuan. Ini kan rumah tuan bukan rumah saya." Ucap asal Hasbiya. "Aku minta maaf karena aku.. kamu ditampar Lintang." Kata Arvi bangkit mendekat pada Hasbiya yang di ranjang. 'Ya Tuhan.. mau apa lagi tuan ini.' Ucap Hasbiya dalam hati. Hasbiya menelan salivanya. Ia tidak bisa menetralkan tubuh saat berdekatan dengan Arvi yang duduk disampingnya. "Aku tau aku yang memaksa pernikahan ini. Hasbiya, aku ingin Lintang kembali seperti dulu." Arvi menghembus nafas panjang. "Beberapa tahun yang lalu Lintang hamil namun keguguran, dokter mengatakan jika Lintang tidak bisa memiliki anak lagi." "Lalu tuan berpikir menikahi saya untuk memiliki anak." Tebak Hasbiya. "Bukan itu, semenjak kejadian itu Lintang berubah. Dia suka semaunya dan aku ingin bukti kan pada Lintang ada wanita lebih baik dari dia. Aku mau buat Lintang cemburu agar dia bisa bersikap baik lagi." "Jadi itu alasan tuan menikahi saya. Tuan, bukan memperbaiki masalah dengan istri tuan tapi malah semakin memperburuk." Ucap kesal Hasbiya. "Hasbiya, kamu harus mengerti posisi aku." "Tuan, sendiri manfaatkan saya." Ketus Hasbiya. "Baiklah, saya minta maaf." Arvi mengenggam tangan wanita itu. Hasbiya terdiam seketika. Ia mengerjapkan matanya sambil menarik nafas dalam. "Jadi apa yang tuan inginkan dari saya." Tanya Hasbiya melekuk kedua kakinya, kini mereka saling berhadapan. "Aku ingin kamu bantu saya untuk membuat Lintang cemburu." "Hah?!? Tuan Gila.." Umpat Hasbiya. "Mana bisa saya melakukan itu." "Hasbiya, tolong.." Mohon Arvi seraya merengkuh wajah perempuan itu. Deg.. 'Apaan ini. Kenapa dia selalu membuat tubuhku gemetaran.' "Apa setelah itu tuan akan menceraikan saya." Tanya Hasbiya dengan menepis tangan Arvi. "Tergantung Lintang. Jika Lintang menginginkan itu aku akan melakukan itu." Sejujurnya Hasbiya menjadi tidak rela. Ia tidak menginginkan semua ini. Entah kenapa berat melakukannya. Hasbiya tetep berusaha setenang mungkin. Dia bukan wanita lemah, dan gampang menyerah. Ia akan tetap tangguh menghadapi pernikahan ini. Walaupun Hasbiya dari awal tidak ada cinta diantara keduanya tapi menurut Hasbiya pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral tidak bisa dipermainkan seperti ini. Tapi sepertinya Arvi tidak sepemikiran dengan Hasbiya. Pria itu benar-benar memohon bantuan Hasbiya. "Baik. Tapi saya menginginkan hak yang sama." "Maksud kamu." "Tuan, tidak mengerti. Jika tuan berani memiliki istri dua. Seharusnya tuan harus bisa bersikap adil pada saya mau pun Mba Lintang." Ucap Hasbiya dengan berani. "Selama saya masih menjadi istri, tuan harus sikap adil." "Baik, saya penuhi syarat kamu. Malam ini saya akan tidur disini. Kebetulan Lintang juga menginap dirumah orang tuanya." Ujar Arvi lalu merebahkan tubuhnya. Astaga Hasbiya tidak siap untuk satu ranjang dengan pria ini. Tapi dia sendiri meminta Arvi untuk bersikap adil. Oh.. No Hasbiya jangan grogi, tenangkan sesak didadamu. Arvi menelungkup ia mulai mengerjap kan matanya. "Hasbiya." "Hmm, iya tuan." "Tolong jangan panggil tuan lagi. Kalau kamu berada di kantor tidak masalah. Tapi dirumah panggil saja Arvi." "Tidak sopan memanggil suami seperti itu." "Dulu kamu memanggil suami kamu seperti apa." Arvi berucap dengan matanya yang terpejam. "Mas." Singkat Hasbiya. "Mas Arvi. Itu tidak buruk." Seru Arvi. 'Mas Arvi.' Hasbiya mengulang kata Arvi dalam hatinya. Ia tersenyum kecil, beruntung Arvi tidak melihat. Ya.. pria itu tentunya sudah terlelap tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN