Lintang sudah kembali kerumahnya. Mungkin ia masih merasa sangat marah, apalagi melihat Arvi yang pagi-pagi sudah bermesraan dengan istri keduanya.
"Pagi." Kikuk Lintang dengan wajah angkuhnya.
"Eh.. mba Lintang sudah pulang." Ujar Hasbiya dengan ramah.
"Jangan sok baik." Lintang duduk dihadapan Hasbiya.
"Mas Arvi, mau sarapan apa?" Tanya Hasbiya sambil memotong buah apel.
"Aku mau buah yang kamu potong aja." Arvi menerbitkan senyum lebarnya. Seakan sengaja membuat Lintang semakin memanas.
"Mas.." Lintang memiringkan bibirnya. "Sejak kapan kamu manggil suami aku dengan kata 'mas'."
"Suami kita mba.. Jangan lupa itu." Ucapan Hasbiya menjadi gemulai seolah sengaja memanjakan suaranya
"Jangan di ingatkan!! Aku tau.." Lintang menekan ucapannya.
"Ops.. maaf mba." Ujar Hasbiya seraya memberikan buah untuk disuapkan kepada Arvi. "Aaa.. mas."
Wajah Lintang sudah memerah karena marah pada Arvi dan Hasbiya yang mulai keterlaluan. Ia tak bisa lagi menahan melihat kedua orang ini bermesraan didepan dirinya.
BRAK..
"Aku merasa panas di sini." Lintang memukul meja lalu pergi meninggalkan mereka. Membuat keduanya terkekeh.
"Wow.. Hasbiya, Actingmu bagus sekali." Ucap kagum Arvi.
'Acting.. aku hampir lupa jika ini semua hanya sebuah sandiwara.' Pikir Hasbiya.
"Hah.. ini Acting ya, tuan." Gumam Hasbiya dengan polos.
"Hasbiya! Harus berapa kali aku bilang jangan panggil tuan." Arvi berucap dengan nada menekan.
"Kan mba Lintang di kamarnya."
"Lagi pula kita hanya bersandiwara."
"Untuk apa memanggil tuan selayak suami."
Hasbiya terus menggerutu tiada henti, Arvi sampai terperangah dibuatnya. Pria itu tak bisa menutup mulutnya dengan benar melihat kelakuan hasbiya yang hampir membuatnya gila belakangan ini.
"Tuan.. hati-hati mulutnya masuk lalat." Hasbiya menyentil mulut tuan Arvi sembari mengambil tas hendak ingin ke kantor.
Argh.. Hasbiya ada saja kelakuannya membuat Arvino kesal pada dirinya.
Arvi mengusap mukanya dengan kasar, ia berusaha menetralkan pikirannya itu. Tapi sepertinya bukan Arvino namanya kalau tidak bisa mengatasi seorang Hasbiya yang di anggapnya remeh.
Setelah di kantor ternyata Arvino berhasil membuat Hasbiya tak bergeming sama sekali. Perempuan itu justru mengalami sok.
"Hasbiya!! Tunggu." Arvi menghampiri Hasbiya yang sudah berjalan lebih dulu darinya.
"Ada apa lagi, tuan." Hasbiya berbalik badannya menatap Arvino.
Arvi dengan santainya dia meraih tangan Hasbiya untuk digenggamnya. "Jangan lupa kamu sekretaris sekaligus istri aku."
"Tuan.. jangan bersikap keterlaluan." Hasbiya menatap Arvino dengan matanya yang melotot.
'O.. Tuhan. Otak tuan ini memang gesrek terkadang.' Teriak batin Hasbiya.
"Tolong lepaskan tangan saya, semua orang melihat." Pinta Hasbiya berusaha memberontak.
Senyum licik Arvi tertampak di bibirnya, ia sepertinya telah merencanakan suatu di luar dugaan Arvino.
"Perhatian semuanya..!! Saya ingin mengumumkan hal yang penting. Mulai sekarang kalian harus bersikap sopan pada Hasbiya sekretaris saya sekaligus ISTRI saya." Arvi menekan kata istri saat mengeluarkan suara nyaringnya.
Oh no.. Hasbiya semakin malu pada semua karyawan, ia juga takut di cemoh dengan para karyawan. Apalagi ia masih orang baru di kantor tersebut.
Anisa dan Ibrahim juga berada di sana. Tentu saja tidak membuatnya terkejut seperti karyawan yang lain.
"Tuan, cukup." Bentak Hasbiya menepis tangan Arvino. "Apa pentingnya mengumumkan hal ini pada semua orang."
Kepergian Hasbiya barusan membuat Arvi ingin memberi pelajaran yang tak bisa terlupakan Hasbiya.
"Wah.. Hasbiya jadi istri kedua Pak Arvi."
"Kok bisa ya dia jadi istri Pak Arvi."
"Hebat ya Hasbiya bisa menakluk kan Pak Arvi."
Itu lah kira-kira cemohan para karyawan untuk Hasbiya. Untung saja Arvi sudah meninggalkan tempat tersebut. Kalau tidak sudah pasti mereka semua akan dipecat oelah Arvi secara tidak terhormat.
Betapa malunya Hasbiya saat ini. Ia merasa gelisah pada sikap Arvino yang mengejutkan padanya.
Ya Allah kuatkan aku.. Ya Allah sabar kan aku menghadapi suami seperti tuan Arvino yang selalu bersikap labil. Aku mohon pada-Mu jangan biarkan aku terjatuh lemah.
Hasbiya duduk bekerja seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, ia menghadap laptop didepannya saat ini.
Mendadak Arvino menarik tangan keruangan pria itu dengan cepat. Pasti membuat Hasbiya terjungkit, nyaris dirinya akan berteriak.
Syukurnya lidah perempuan itu dapat tertahan. Ingin sekali Hasbiya protes pada bos yang juga suaminya.
"Beraninya kamu bersikap kurang ajar padaku dihadapan semua karyawan." Murka Arvino menghempaskan Hasbiya di sofa ruangannya.
"Tuan yang duluan." Jawab Hasbiya seakan menantang dengan bangkit menceka pinggangnya.
"O.. kamu udah berani..!!" Senyum remeh terbit di bibir Arvino.
Tanpa ragu Arvi melangkah merengkuh pinggul Hasbiya kepelukannya. "Sekarang kamu butuh aku sentuh apa. Bibir dan lebih dari itu."
Bukannya takut Hasbiya justru merasakan getaran yang hebat. Dirinya sendiri tidak bisa menjelaskan dengan benar.
Pancaran mata Arvino membuat dirinya tenang. Mungkin saja, ia munafik menolak perasaannya sendiri terhadap Arvino yang jelas suami Hasbiya.
"Tuan, itu hak anda. Saya tidak berhak melarangnya." Ucap Hasbiya dengan senyumnya.
Arvino terperanjat mendengar penuturan yang keluar dari mulut Hasbiya.
Celakanya..
Ya.. tentu saja ia bersikap seperti itu. Hasbiya membicarakan hak yang belum pernah sama sekali Arvi penuhi sebagai seorang suami sah.
Menurut Arvi dirinya tidak akan pernah menyentuh Hasbiya. Namun ia melupakan jika Hasbiya seorang wanita yang pasti menginginkan hak secara lahir dan batin.
Refleks Arvino mundur langkahnya. "Hasbiya seperti aku tidak perlu jelaskannya berulang kali kenapa aku menikahimu."
Arvino terbuai harum tubuh Hasbiya yang pekat, laki-laki itu menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.
Entah kenapa dirinya seakan tak bisa menahan gejolak yang ada di dadanya. Tapi.. terbesit ingatan tentang Lintang membuat Arvi mengurung niatnya melakukan hal tak di inginkan.
"Pergi dari sini." Bisik Arvino. "Kalau tidak ingin terjadi suatu yang tak bisa ku tahan."
"Bukankah anda tadi yang menarik saya paksa kemari." Hasbiya berseru.
"Pergi..!!" Pinta Arvi namun tak ada pergerakan dari Hasbiya.
"Go.." bentak Arvi membuat Hasbiya terbirit meninggalkan ruangan tersebut.
Mesti telah di bentak Arvi, itu tidak membuat Hasbiya melupakan tugasnya sebagai seorang istri.
Saat makan siang, Hasbiya memesan makanan kesukaan Arvi agar suaminya bisa makan di kantor tanpa harus keluar.
Sementara dirinya makan siang bersama Anisa dan Ibrahim di luar kantor. Tanpa sengaja di tempat yang sama, ia bertemu Lintang sedang makan bersama teman-teman genk sosialitanya.
Lintang mempermalukan Hasbiya tanpa henti di restoran itu. Meski tau banyak orang di dalam restoran, Lintang tetap saja mempermalukan Hasbiya tanpa henti.
"Wah.. coba lihat. Siapa yang makan disini juga." Lintang berseru dengan melekat ke meja Hasbiya.
"Maduku.. ops." Lintang menutup mulutnya dengan sengaja. "Maksudku istri kedua suamiku."
Lintang merangkul Hasbiya yang tengah duduk. "Kau diam saja, madu. Hmmmm.. bukankah kita telah berbagi suami, Ayo.. bicaralah."
"Mba.. tolong jangan seperti ini." Akhirnya Hasbiya mengeluarkan suara lembutnya.
"Why? Katakan alasannya."
"Lintang cukup!" Anisa berkata dengan bengis sambil menggebrak mejanya.
"Astaga.. Anisa! Kau jangan ikut campur urusanku dengan w************n ini." Erang Lintang memanas.
Perkataan Lintang barusan membuat mata Hasbiya berkaca-kaca. Ia merasa hatinya memencak, rasanya begitu sakit dikatakan sebagai w************n.
"Lintang, jangan keterlaluan." Sambung Ibrahim.
"Keterlaluan mana. Menikahi suami orang atau---" Lintang tidak meneruskan perkataannya.
"Mulutmu memang harus disekolahkan." Caci Anisa.
"Diam!! Kau diam, Anis." Lintang menunjuk telunjuknya kearah muka anisa. "Aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusanku dengan perebut suami orang."
Hasbiya tidak bisa menahan tangisnya yang mau pecah. Ia juga tak mungkin melawan Lintang, dirinya pergi dari tempat itu sebelum Lintang mengatakan hal lebih menyakitkan.
"Hei.. jalang. Kau mau kemana." Teriak Lintang sambil menggemakan tawa bersama teman-temannya.