Benci Tapi Kangen

1654 Kata
Kertas itu masih ada di meja gue, tulisan tangan Miko menghujam pandangan. Gue masih inget tulisan lo. Kalimat itu bukan sekadar tinta di atas kertas. Itu kayak bom waktu yang dia tanam di tengah hidup gue yang udah susah payah gue bangun. Dia nyusup lagi. Masuk lewat celah kecil, lewat kenangan yang gue pikir udah aman terkubur. Rasanya pengen teriak, bilang ke dia, kenapa sekarang? Kenapa setelah gue nggak butuh lagi? Kenapa setelah luka itu mengering? Dua hari berlalu setelah meeting terkutuk itu. Dua hari gue hidup dalam mode siaga satu. Setiap ada email dari tim Balindra, jantung gue langsung berdebar. Setiap ponsel gue bunyi, gue harap-harap cemas itu bukan dia. Tapi nyatanya, yang datang cuma notifikasi Slack soal progress report dan permintaan feedback proposal visual. Semuanya profesional. Semuanya sesuai jalur. Kecuali tulisan tangan itu. Kecuali kalimat Miko di akhir meeting. Kecuali kenyataan bahwa dia ada di kota yang sama, di industri yang sama, dan sekarang jadi klien gue. Kami harus kerja bareng. Nggak mungkin dihindari. Hari ini, ada virtual call pertama tim inti dari kedua belah pihak. Gue, Rara, dan dua desainer dari tim Cipta Raya. Dari pihak Balindra, ada Adit, manajer proyek mereka, dan… Miko. Tentu saja dia ada. CEO. Pengambil keputusan. Dan biang kerok semua kegelisahan gue. Gue duduk tegak di kursi, layar laptop nyala. Udara di bilik gue terasa dingin, tapi telapak tangan gue lembap. Gue tarik napas dalam, buang pelan. Karin. Profesional. Fokus. Nggak ada tempat buat emosi masa lalu di sini. "Lima menit lagi, Nad," Rara mengingatkan dari biliknya di sebelah. Suaranya terdengar antusias. Kayaknya dia masih belum move on dari pesona "CEO muda hot". Gue cuma bergumam mengiyakan. Link meeting udah dikirim. Gue klik. Loading. Wajah-wajah tim gue muncul di layar. Lalu… Adit. Dia tersenyum ramah. "Selamat pagi, Mbak Karin, tim Cipta Raya," sapanya. "Sudah siap?" "Siap, Pak Adit," jawab gue, mencoba terdengar tenang. Mata gue masih mencari. Mencari sosok lain. "Miko masih siap-siap sebentar," Adit menjelaskan. "Ada kendala teknis sedikit di tempat dia." Miko nggak ada? Sialan. Gue malah merasa aneh waktu dia nggak langsung muncul. Ada sedikit… kekecewaan? Jangan gila, Karin. Ini bagus. Lo nggak perlu liat mukanya. Kami mulai bahas agenda. Detail campaign. Timeline produksi konten. Strategi engagement. Adit memimpin diskusi dengan baik. Dia logis, efisien. Kontras banget sama Miko. Tiba-tiba, ada notifikasi di layar. Seseorang bergabung ke dalam panggilan. Nama itu muncul. Miko Ardian Prasetya. Jantung gue berdetak lagi. Cepat. Nggak terkendali. Gambarnya muncul di layar. Dia di kantor, duduk di meja yang berantakan. Rambutnya sedikit acak-acakan, kemejanya udah nggak serapi pas meeting pertama. Ada cangkir kopi di depannya. Dia kelihatan… santai. Terlalu santai untuk ukuran seorang CEO yang lagi meeting sama klien barunya. "Sorry, ada masalah sama koneksi," katanya, suaranya terdengar dekat. Dia senyum tipis ke arah layar. Matanya… matanya langsung nemuin mata gue. Meskipun ada Adit, Rara, dan yang lain di layar, tatapannya seolah cuma tertuju ke gue. "Nggak apa-apa, Pak Miko," Adit memotong. "Kita baru saja mulai bahas key visuals." "Oke," kata Miko, tapi matanya masih di gue. Senyumnya melebar sedikit. Senyum yang bikin gue pengen nonjok layar laptop. Senyum yang bilang, gue tahu lo liat gue. Gue alihkan pandangan, fokus ke dokumen di layar. Gue nggak mau main-main sama dia. Nggak lagi. Diskusi berlanjut. Gue ngomong soal tone and style campaign. Rara nambahin ide buat social media activation. Tim desainer nunjukin mock-up awal. Setiap kali gue bicara, gue bisa ngerasain pandangan mata Miko di gue. Mengawasi. Menilai. Atau… mengingat? "Menurut gue, angle visualnya udah kuat," Miko akhirnya bicara, setelah lama diam. Suaranya memecah fokus gue. "Tapi mungkin bisa lebih… personal? Lebih menyentuh." Gue mendongak. "Personal dalam artian apa, Pak Miko?" Dia nyenderin punggung ke kursinya, menyesap kopinya. Wajahnya kelihatan santai, tapi matanya tajam. "Ya… lebih otentik," katanya. "Nggak cuma nunjukin produk, tapi cerita di baliknya. Cerita tentang bagaimana produk itu bisa mengubah hidup seseorang. Atau… bagaimana satu momen kecil bisa punya arti besar." Satu momen kecil. Arti besar. Dia ngomong soal campaign, tapi kata-katanya terasa mengarah ke kami. Ke masa lalu. Ke ciuman pertama di taman belakang. "Kami sudah siapkan beberapa storyboard yang fokus pada user journey yang personal," kata gue, berusaha mengabaikan sindiran halusnya. Gue buka file lain di layar. "Ini contohnya." Gue menjelaskan storyboard itu, ngomong cepat, penuh jargon profesional. Gue nggak mau kasih dia celah buat nyusupin hal lain lagi. Gue pengen dia lihat Karin yang sekarang: Karin yang kompeten, Karin yang sukses, Karin yang nggak gampang goyah. Miko mendengarkan. Kadang dia mengangguk, kadang dia mengerutkan dahi. Wajahnya sulit dibaca. Dia memang pendengar yang baik. Dulu juga gitu. Dia selalu dengerin cerita-cerita gue, meskipun kadang dia kelihatan nggak peduli. "Konsepnya bagus," kata Miko, setelah gue selesai. "Tapi entah kenapa… rasanya masih ada yang kurang. Kurang… emosi." Emosi. Dia ngomong soal emosi ke gue. Ke Karin yang udah mati-matian ngunci semua emosinya tentang dia selama delapan tahun. "Emosi di sini harus merepresentasikan brand value, Pak Miko," kata gue, nada suara gue agak dingin. "Bukan emosi personal." Dia ketawa pelan. Tawa yang sama. Renyah, familiar. "Siapa bilang emosi personal nggak bisa jadi brand value?" Miko mencondongkan badan ke depan. "Justru itu yang bikin brand kuat. Yang bikin orang ngerasa terhubung." Matanya lagi-lagi natap gue lekat. "Kayak… lo ketemu sesuatu yang udah lama hilang. Terus tiba-tiba dia ada lagi. Dan lo ngerasa… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum selesai." Napas gue tercekat. Dia nggak bicara soal campaign lagi. Dia bicara soal kami. Di depan tim gue dan timnya. Meskipun kata-katanya bisa diinterpretasikan beda oleh orang lain, gue tahu maksudnya. Adit di sebelah Miko kelihatan agak bingung, melirik ke arah gue dan Miko bergantian. Rara di bilik sebelah gue kayaknya juga denger, dia berdeham keras. Gue mengeraskan rahang. Gue nggak bisa diam aja. "Saya pikir kita harus fokus ke strategi campaign, Pak Miko," kata gue, suara gue tegas. "Masa lalu tidak relevan di diskusi profesional seperti ini." Senyum di wajahnya menghilang. Diganti tatapan serius. Mata cokelat itu. Mata yang dulu sering liat gue dengan penuh sayang. Mata yang sama yang gue cari-cari setelah dia ngilang. "Lo yakin masa lalu nggak relevan?" tanyanya, suaranya rendah. Hanya gue yang bisa menangkap nuansa itu. Pertanyaan itu bukan cuma soal proyek. Gue nggak menjawab. Gue cuma menatap dia di layar. Membiarkan keheningan bicara. Gue nggak akan membiarkan dia menarik gue ke dalam permainannya. Nggak akan lagi. Adit cepat-cepat memecah keheningan. "Baik, baik. Mungkin kita bisa break sebentar? Lanjutkan lima belas menit lagi?" "Setuju," kata gue cepat. Gue butuh waktu buat napas. Buat ngumpulin diri gue lagi. Layar meeting berubah jadi mode waiting room. Wajah Miko menghilang. Tapi kata-katanya masih menggema di telinga gue. Lo yakin masa lalu nggak relevan? Bajingan. Dia tahu dia punya pengaruh. Dia tahu dia masih bisa bikin gue goyah. Dan dia menikmati itu. Gue sandarin kepala di dinding bilik kerja. Frustrasi. Marah. Tapi di tengah semua itu… ada rasa lain yang muncul ke permukaan. Rasa yang udah lama gue kubur dalam-dalam. Rasa yang gue pikir udah mati. Miko. Dia kembali. Dan parahnya… parahnya gue nggak bisa bohongi diri sendiri. Gue masih punya rasa. Gue masih inget setiap detail tentang dia. Cara dia senyum, cara dia ketawa, bau rambutnya, hangat tangannya… semua masih tersimpan rapi di dalam hati gue. Dan kemunculannya yang tiba-tiba ini, ditambah kalimat-kalimat ambigu itu… itu semua kayak bensin yang disiram ke api yang udah padam. Api itu nyala lagi. Kecil, tapi ada. Apa yang lo mau, Miko? Kenapa lo datang lagi? Meeting dimulai lagi. Kali ini, suasana lebih kaku. Miko lebih banyak diam, membiarkan Adit yang bicara. Tapi gue tahu dia ada di sana. Mengawasi. Menunggu? Di akhir meeting, saat semua orang udah pamitan, gue cepet-cepet mau nutup layar. Pengen segera lepas dari situ. "Karin," suara Miko. Dia ngomong lagi ke gue, setelah semua orang udah keluar dari panggilan virtual, kecuali Adit yang kayaknya masih ngerapihin sesuatu di mejanya. Gue berhenti. Tangan gue melayang di atas tombol end call. "Ya, Pak Miko?" kata gue, suara gue kaku. Dia natap gue. Kali ini nggak ada senyum tipis. Wajahnya serius. Ada sesuatu di matanya yang bikin gue nggak bisa bergerak. Sesuatu yang… rapuh? "Gue cuma mau bilang," katanya, suaranya pelan, serak. Adit di belakangnya seolah nggak denger, sibuk dengan laptopnya. "Soal yang tadi… gue serius." Soal apa? Soal emosi di campaign? Soal masa lalu yang nggak relevan? "Serius soal apa?" tantang gue, suara gue bergetar sedikit meskipun gue udah berusaha keras mengontrolnya. Dia menghela napas, berat. Matanya nggak lepas dari mata gue. Di layar itu, dia terlihat begitu dekat. Begitu… nyata. "Soal kita," kata Miko. Langsung. Tanpa basa-basi. Dia memang selalu gini. Tiba-tiba, menusuk langsung ke inti. Gue terdiam. Lidah gue terasa kelu. Lo. Ngomong. Soal. Kita? Sekarang? Setelah semua ini? "Nggak ada 'kita', Pak Miko," kata gue akhirnya. Suara gue lebih kuat sekarang. Penuh kepedihan yang gue coba sembunyikan. "Yang ada cuma klien dan agensi. Profesional. Titik." Dia menggeleng pelan. Matanya menampakkan sesuatu yang… penyesalan? "Gue tahu gue salah," bisiknya. Cuma cukup keras buat gue denger. "Pergi gitu aja… itu bodoh." Pengakuan. Setelah delapan tahun. Pengakuan kalau dia salah. Air mata tiba-tiba menumpuk di pelupuk mata gue. b******n. Kenapa lo ngomong ini sekarang? Kenapa lo bikin gue kembali ngerasain sakitnya? "Terlambat," kata gue, suara gue pecah. Gue nggak peduli lagi sama profesionalisme. Gue cuma peduli sama luka gue. "Udah delapan tahun, Miko. Delapan tahun gue berusaha lupain lo. Lo nggak punya hak buat kembali dan ngomong gini." "Gue tahu," katanya, tatapannya makin intens. "Gue nggak nyari pembenaran. Gue cuma… gue nyesel." Dia bilang dia nyesel. Miko Ardian Prasetya, si anak bandel yang nggak pernah peduli sama siapa pun, bilang dia nyesel. "Penyesalan lo nggak mengubah apa-apa," kata gue, berusaha menahan tangis. Dia diam sejenak. Hanya menatap gue di layar. Udara terasa tegang. Lalu, dia bicara lagi. Kalimat yang membuat dunia gue benar-benar berhenti berputar untuk kesekian kalinya hari itu. Kalimat yang membuat jantung gue remuk berkeping-keping, antara harapan dan kepedihan yang luar biasa. "Kalau waktu bisa diputer ulang," kata Miko, matanya berkaca-kaca. "Gue nggak akan ninggalin lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN