Gue Profesional, Lo Jangan Ganggu

1764 Kata
Gue gemetar. Bukan karena dingin. Karena… karena dia mengingatnya? Dia benar-benar mengatakannya? Di sini? Sekarang? Otak gue kosong. Dunia serasa berhenti berputar. Nafas gue tercekat. Dia. Mengingat. Ciuman pertama kita. Tangan gue masih dalam genggamannya. Panas. Tangan itu menahan gue di sini, di momen yang paling nggak gue inginkan. Di tengah ruangan meeting yang sunyi, di hadapan Adit dan beberapa stafnya yang entah udah ngilang ke mana fokusnya. "Apa?" Suara gue tercekat. Hampir nggak terdengar. Senyum tipis kembali terpasang di wajah Miko. Senyum yang dulu gue benci sekaligus gue rindukan. Senyum yang bilang, gue tahu gue punya pengaruh ke lo. Dia nggak menjawab, hanya mengangguk pelan, seolah mengonfirmasi kata-katanya sendiri. Lalu, pelan-pelan, dia melepaskan tangan gue. Genggamannya menghilang, tapi rasa panasnya masih tertinggal di kulit gue. Luka lama yang dikorek kembali. "Kita masih punya banyak hal buat dibicarain soal proyek ini, Nad," katanya, suaranya kembali profesional. Normal. Seolah nggak ada kalimat barusan yang keluar dari mulutnya. Seolah nggak ada delapan tahun keheningan di antara kami. "Gue yakin kerja sama kita bakal sukses." Kerja sama sukses? Setelah lo ngomong kayak gitu? Setelah lo bikin hati gue jungkir balik kayak gini? b******n! Gue menarik tangan gue sepenuhnya, memasukkannya ke saku blazer. Nggak mau dia lihat seberapa gemetar tangan gue. Nggak mau dia tahu seberapa besar pengaruh kalimatnya barusan. "Tentu, Pak Miko," kata gue, menekankan lagi gelar profesionalnya. Nada suara gue dingin, kaku. Nggak ada sisa-sisa Karin yang rapuh di sana. Karin yang itu udah mati delapan tahun lalu. "Kami akan menunggu kabar selanjutnya dari tim Bapak." Adit muncul kembali ke sebelah Miko, seolah baru sadar kalau percakapan pribadi barusan udah selesai. "Baik, Mbak Karin, Mbak Rara," Adit tersenyum. "Kalau begitu, kami akhiri sesi kick-off meeting hari ini. Untuk diskusi detail dan negosiasi bisa kita jadwalkan ulang minggu depan. Mungkin di kantor Cipta Raya saja?" "Ide bagus," kata gue cepat. Pergi dari sini adalah prioritas utama gue. "Kami terbuka. Nanti sekretaris saya yang atur jadwalnya dengan tim Bapak." "Oke," Adit mengangguk. "Nanti kami kirimkan rangkuman hasil meeting dan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Kalian bisa ambil hard copy jadwal proyek di meja depan ya." Gue cuma mengangguk. Rara di sebelah gue masih melongo. Mukanya pucat, matanya lebar. Pasti dia denger kalimat Miko barusan. Tentu saja dia denger. Ruangan ini kan hening. "Terima kasih sekali lagi," kata gue, membungkuk sedikit formal. Gue nggak mau lihat Miko lagi. Gue cuma mau keluar. Menghirup udara bebas. Udara yang nggak terkontaminasi oleh kehadiran dan kenangan tentang dia. Gue berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Rara mengekor di belakang gue. Nggak ada yang bicara. Udara terasa berat. Di meja depan ruang meeting, ada tumpukan map dan beberapa lembar kertas. Jadwal proyek. Gue ambil satu map, isinya rangkuman presentasi dan beberapa dokumen pendukung. Di sebelahnya, ada selembar kertas terpisah. Mungkin itu jadwal proyek yang dimaksud Adit. Gue mengambilnya tanpa pikir panjang. Melipatnya asal, memasukkannya ke dalam map. Lalu gue melangkah lagi, keluar dari ruangan terkutuk itu. Lorong terasa lebih terang sekarang. Udara nggak sedingin tadi. Tapi jantung gue masih berdebar nggak karuan. Kayak habis lari maraton. Rara menarik lengan gue waktu kami udah masuk lift. "Nad… serius? Dia… dia beneran ngomong gitu?" bisiknya, matanya masih nggak percaya. Gue bersandar ke dinding lift yang dingin, mencoba mengatur napas. "Dia b******n," kata gue, suara gue rendah, penuh emosi. "Tapi… tapi dia inget? Setelah delapan tahun? Setelah dia ngilang gitu aja?" Rara mengguncang lengan gue pelan. "Gila, Nad! Ini… ini kayak di novel-novel!" "Di novel, pemeran utamanya nggak hancur lebur kayak gue dulu," kata gue pahit. "Di novel, mantannya punya penjelasan bagus kenapa dia ngilang. Bukan cuma nongol lagi kayak nggak ada apa-apa." "Lo yakin dia nggak punya penjelasan?" Gue mendengus. "Kalau dia punya, dia udah kasih dari dulu. Nggak ngilang gitu aja." Lift terbuka. Kami keluar, berjalan cepat menuju lobi. Gue pengen cepet sampai kantor. Pengen duduk di meja gue, ngadep laptop, pura-pura sibuk. Pura-pura nggak ada Miko Ardian Prasetya yang baru aja muncul lagi dan bikin dunia gue jungkir balik. Sampai di kantor Cipta Raya Agency, gue langsung masuk ke bilik kerja gue. Rara ngikutin, mukanya masih penasaran. "Nad, lo harus cerita semua," katanya, duduk di kursi kosong di depan meja gue. Gue menghela napas panjang. Mengambil map dari Balindra, membukanya. Mengeluarkan dokumen-dokumen di dalamnya. Jadwal proyek. Gue letakkan di meja. "Apa yang mau diceritain? Dia muncul, bikin gue shock, ngomong kalimat sampah, terus sok profesional lagi," kata gue, mulai nyalain komputer. Berusaha keras fokus ke kerjaan. "Kalimat sampah? 'Gue nggak pernah lupa ciuman pertama kita' itu sampah?" Rara memekik pelan, matanya melotot. "Karin! Itu romantis gila! b******n atau bukan, dia inget! Lo nggak pernah lupa kan ciuman pertama lo sama dia?" Gue terdiam. Menatap layar komputer yang masih gelap. Tentu saja gue nggak lupa. Bagaimana mungkin gue lupa? Itu… itu momen yang paling berharga buat gue waktu SMA. Momen yang gue simpan rapat-rapat, yang gue jadikan bukti kalau Miko benar-benar serius sama gue. "Itu cuma trik, Ra," kata gue getir. "Buat bikin gue goyah. Dia tahu kelemahan gue." "Atau… dia beneran kangen?" Gue menoleh, menatap Rara tajam. "Kangen? Setelah ngilang kayak hantu? Setelah bikin gue nangis berhari-hari kayak orang gila? Setelah gue susah payah bangun diri gue lagi? Lo pikir semudah itu?" Rara terdiam. Wajahnya berubah serius. Dia tahu seberapa hancurnya gue waktu itu. Dia salah satu orang yang ada di sana, yang bantuin gue ngumpulin kepingan hati gue yang pecah. "Oke, sorry," katanya pelan. "Gue lupa lo sehancur apa waktu itu." "Gue nggak mau bahas ini," kata gue, kembali menatap layar komputer. "Yang penting sekarang proyek ini jalan lancar. Gue profesional. Dia klien gue. Titik." "Tapi kalau dia… dia mencoba deketin lo lagi?" "Gue tolak," jawab gue cepat, tegas. Nggak ada keraguan di suara gue. "Gue bukan Karin yang dulu. Gue nggak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali." Rara mengangguk. "Oke. Gue pegang kata-kata lo. Tapi… kalau misalnya dia punya alasan?" "Alasan apa? Ngilang tanpa kabar delapan tahun itu butuh alasan yang sangat-sangat kuat," gue menoleh lagi ke dia. "Alasan yang bahkan nggak kepikiran sama otak gue yang paling liar." "Mungkin… ada sesuatu yang terjadi di luar sepengetahuan lo?" Rara terlihat berpikir. "Keluarga? Masalah besar?" "Kalau ada, kenapa nggak bilang?" Gue menggeleng. "Dia bisa kirim satu pesan aja. Satu kata. Maaf. Atau Aku harus pergi. Nggak ini. Nggak hening gini." Hening. Kata itu terasa berat di lidah gue. Keheningan yang dia berikan adalah hukuman terberat. Hukuman yang bikin gue bertanya-tanya seberapa nggak berharganya gue buat dia, sampai-sampai dia nggak merasa perlu memberikan penjelasan apa pun. "Ya, itu aneh banget sih," Rara mengakui. "Tapi Nad, lo nggak bisa bohongi diri sendiri. Tadi gue liat tatapan mata lo waktu dia… waktu dia senyum gitu. Ada sesuatu di sana." Ada. Tentu saja ada. Sesuatu yang udah gue kubur dalam-dalam. Sesuatu yang disebut… perasaan. Perasaan yang dulu begitu kuat, begitu dalam, yang dia injak-injak sampai hancur. Gue menghela napas. "Gue cuma kaget, Ra. Shock. Itu wajar kan? Ketemu mantan yang ngilang tiba-tiba setelah delapan tahun, terus dia jadi CEO? Itu plot twist drama Korea yang lebay." Rara tertawa kecil. Sedikit tegang. "Iya juga sih." Dia bangkit dari kursi. "Oke deh. Gue nggak ganggu lo lagi. Tapi inget ya, gue ada di sini kalau lo butuh ngomong. Apa aja. Termasuk kalau lo tiba-tiba pengen gebukin dia." Gue tersenyum tipis. "Thanks, Ra." Rara beranjak pergi, kembali ke biliknya. Gue tetap duduk di depan komputer, tapi mata gue nggak fokus ke layar. Pikiran gue melayang kembali ke ruang meeting itu. Ke tatapan mata Miko. Ke kalimatnya. Gue nggak pernah lupa ciuman pertama kita. Kenapa dia ngomong itu? Kenapa? Apa maksudnya? Apakah dia cuma mau pamer kalau dia nggak terpengaruh sama sekali, sementara gue jelas-jelas masih kelihatan terpengaruh? Apakah dia mau main-main lagi? Atau… apakah dia benar-benar nggak pernah lupa? Apakah momen itu berarti buat dia? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala gue. Dulu gue jago banget nyari jawaban. Jurnalis kan kerjaannya itu. Tapi soal Miko, gue nggak pernah nemu jawaban yang masuk akal. Gue meraih map di meja. Mengeluarkan semua dokumen di dalamnya. Rangkuman meeting. Proposal tambahan dari Adit. Dan… jadwal proyek. Gue membuka lipatan kertas itu. Dicetak di kertas A4, ada tabel dengan tanggal-tanggal penting, deadline, dan milestone. Mata gue membaca cepat isinya, mencoba menyerap informasi. Di sudut kanan bawah, di luar area tabel… ada tulisan tangan. Tulisannya kecil, agak miring ke kanan. Pakai pulpen hitam. Gaya tulisannya… nggak asing. Sangat nggak asing. Bahkan setelah delapan tahun. Bahkan setelah semua yang terjadi. Itu tulisan tangannya. Tulisan tangan Miko. Jantung gue kembali berdebar. Lebih kencang dari sebelumnya. Tangan gue gemetar lagi, memegang kertas itu seolah rapuh. Kenapa ada tulisan tangan dia di sini? Adit bilang ini jadwal proyek. Dicetak. Kenapa ada tulisan tangan? Apakah dia… apakah dia menulis sesuatu untuk gue? Di dokumen resmi proyek? Dengan tangan gemetar, gue mendekatkan kertas itu ke mata gue. Membaca kalimat kecil yang tertulis di sudut. Kalimat itu ditulis dengan tinta hitam, kontras dengan warna kertas yang putih. Singkat. Hanya beberapa kata. Gue masih inget tulisan lo. Dunia gue… berhenti berputar. Lagi. Tulisan tangan dia. Bilang dia masih inget tulisan gue. Tulisan gue yang mana? Tulisan tangan di surat-surat cinta yang dulu sering gue kasih ke dia? Tulisan gue di notes kecil yang gue selipin di tasnya? Tulisan gue di dinding hati gue yang isinya cuma nama dia? Miko. Dia ingat. Dia ingat tulisan tangan gue. Dan dia menulis ini. Di sini. Di dokumen proyek. Di mana gue pasti akan melihatnya. Ini bukan kebetulan. Ini disengaja. Dia tahu dia akan ketemu gue. Dia tahu gue akan ada di meeting itu. Dia tahu gue akan melihat dokumen ini. Dan dia sengaja menulis pesan ini. Pesan apa? Peringatan? Pengakuan? Tantangan? Gue menatap tulisan itu, terpaku. Rasanya kayak dia ada di sini, berbisik di telinga gue. Mengingatkan gue tentang masa lalu. Tentang kami. Dia nggak lupa. Dia nggak melupakan semua itu. Dia ingat. Dan dia ingin gue tahu itu. Kenapa? Kenapa sekarang? Setelah semua luka yang dia tinggalkan? Setelah gue berhasil berdiri di kaki sendiri? Apakah dia datang kembali untuk… menghancurkan gue lagi? Atau… apakah ini… sebuah pembukaan? Sebuah awal dari sesuatu yang baru? Sesuatu yang mungkin… dulu terputus secara paksa? Kertas itu terasa dingin di tangan gue, tapi isinya membakar. Membakar pertanyaan, membakar emosi, membakar harapan kecil yang bahkan nggak berani gue akui ada di dasar hati gue. Miko Ardian Prasetya. CEO sukses. Mantan hantu. Dia kembali. Dan dia membawa serta semua kenangan itu. Gue masih inget tulisan lo. Kalimat itu berputar di kepala gue. Menggema, memenuhi setiap sudut pikiran gue. Gue nggak bisa pura-pura lagi. Gue nggak bisa bilang gue baik-baik aja. Dia kembali. Dan dia sepertinya nggak akan membiarkan gue move on begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN