Dulu Kita Apa, Sih?

1434 Kata
Tatapan matanya. Cokelat gelap itu. Sama persis. Menusuk, seolah tahu semua rahasia yang terkubur. Seperti saat itu… Tangannya menarik pergelangan tangan gue. Panas, kuat. Menarik gue menjauh dari koridor SMA Wijaya Bakti yang riuh, menjauhi tatapan mata ingin tahu, menjauhi suara tawa dan gosip yang nggak pernah berhenti. Dia nggak ngomong apa-apa, cuma tersenyum miring, senyum yang selalu berhasil bikin lutut gue lemas. Gue ikut aja, napas tercekat, jantung berdebar nggak karuan. Kayak setiap kali bersamanya, gue adalah penumpang di roller coaster yang dia kemudikan. Kami nyelinap. Lewat lapangan basket yang lagi kosong, melewati gedung olahraga yang bau keringat, sampai akhirnya tiba di belakang sekolah. Tempat favorit kami. Taman belakang. Nggak ada yang pernah ke sini. Terlalu jauh, terlalu terpencil. Rumputnya liar, pohon mangganya rindang, ada bangku kayu tua di bawahnya yang udah reot. Udara di sini beda. Lebih sepi, lebih tenang. Kayak dunia lain, cuma buat kami berdua. Dia duduk di bangku, nyenderin punggung ke batang pohon mangga yang kasar. Gue masih berdiri, pergelangan tangan gue masih dipegang sama dia. "Kenapa ke sini?" Suara gue agak serak. Masih kesal, tapi lebih ke… bingung. Kenapa selalu gini? Dia ngilang, bikin gue khawatir setengah mati, terus muncul lagi seolah nggak ada yang terjadi, narik gue ke tempat rahasia kami. Dia nggak langsung jawab. Cuma senyum. Bukan senyum miring yang tadi. Senyum yang tulus. Matanya natap gue, lembut. "Mau bolos," katanya santai, terus narik gue duduk di sebelahnya. Gue jatuh sedikit ke arahnya. Bahu kami bersentuhan. Listrik statis itu lagi. Gue mendengus. "Bolos mulu kerjaan lo." "Bosen di kelas. Gurunya bikin ngantuk," dia nyengir. "Mending di sini. Sama lo." Pipi gue langsung panas. Sialan. Kenapa kata-kata simpel gitu dari dia selalu bikin gue meleleh? Mana Karin Putri Anindya, ketua ekskul jurnalistik yang katanya cerdas dan kritis itu? Lenyap ditelan rayuan receh Miko Ardian Prasetya. "Apaan sih," gue coba nutupin salah tingkah gue. Niatnya mau kelihatan cuek. "Beneran," tangannya yang tadi megang pergelangan tangan gue, sekarang geser, ngambil tangan gue, jemari kami bertaut. Dingin tapi terasa hangat. "Di sini kan kita bisa ngobrol. Nggak usah takut ada yang denger." "Emang kita ngomongin apa yang nggak boleh didenger?" Dia ketawa kecil. Suaranya renyah, nyampur sama suara angin yang niup daun-daun di atas kami. "Banyak lah. Rahasia kita." Rahasia. Ya, kami adalah rahasia besar SMA Wijaya Bakti. Pasangan paling nggak mungkin, tapi entah gimana… terjadi. Gue, cewek yang nilainya bagus, aktif organisasi, calon bintang sekolah. Dia, cowok berandalan yang sering dipanggil ke ruang BK, rambut gondrong, hobinya ngilang-ngilang. Di depan orang, kami cuma teman biasa. Atau lebih tepatnya, dia suka gangguin gue. Tapi di belakang layar… "Gue bawa ini," dia ngomong lagi, terus ngambil sesuatu dari tas ransel lusuhnya yang tergeletak di rumput. Sebuah gitar akustik. Udah agak lecet, tapi terawat. Mata gue melebar sedikit. "Gitar?" "Gue bilang kan mau ngajarin lo," katanya, mulai nyetem senar gitarnya. Suaranya sumbang di awal, terus pelan-pelan jadi harmoni. "Kemarin lo bilang pengen bisa main 'Hujan Bulan Juni'." "Itu kan lagunya Sapardi," kata gue, nggak percaya. Dia, Miko, mau ngajarin gue main lagu puisi? Miko yang biasanya cuma main lagu-lagu rock yang berisik? "Iya. Lo suka. Ya udah, gue pelajarin chord-nya," dia nyenderin gitar ke pangkuannya. "Sini, deketan." Gue bergeser, duduk lebih rapat sampai lengan kami nempel lagi. Dia mulai nunjukin kunci-kunci dasar. Jarinya yang panjang dan kokoh bergerak lincah di atas fret. Gue perhatiin tangannya. Tangan yang sama yang barusan narik gue, tangan yang sama yang lagi genggam tangan gue di bawah sana. "Nih, C," dia nunjukin jarinya. "Ini G." Dia nyuruh gue nyoba. Jari gue kaku. Nggak biasa megang benda mati kayak senar. Rasanya perih di ujung jari. "Aduh, sakit," gue mengaduh pelan. "Ya emang gitu pertama kali. Nanti juga kebiasa," dia senyum lembut. Tangannya ngelepas tangan gue, terus ngambil tangan kiri gue, nuntun jari-jari gue buat neken senar di posisi yang bener. Kulitnya hangat di atas kulit gue. Dekat sekali. "Nekannya harus kuat ya," bisiknya. Udara napasnya terasa di telinga gue. Bikin geli. Kami latihan. Dia sabar, nggak kayak yang gue kira. Setiap kali gue salah, dia cuma ketawa, terus ngebenerin tangan gue pelan-pelan. Kadang, waktu dia nunduk deketin gue buat liat jari-jari gue, rambut gondrongnya ngegelitik pipi gue. Wangi sampo murah campur bau matahari dari rambutnya. Aroma khas Miko. "Susah banget," gue menghela napas, frustrasi. Senar-senarnya nggak mau bunyi dengan bener. "Nggak ada yang gampang pertama kali, Rin," dia nyenderin gitarnya lagi ke batang pohon. Terus dia nengok ke gue. Wajah kami dekat. Sangat dekat. Matanya natap mata gue, intens. "Tapi kalau bareng-bareng, apa pun jadi lebih gampang," tambahnya, suaranya rendah. Jantung gue langsung jedag-jedug. Kode apa lagi ini? Dia emang jagonya bikin hati gue nggak karuan pakai kalimat-kalimat ambigu. "Maksud lo?" tanya gue, pura-pura nggak ngerti. Walaupun di dalam hati, gue udah teriak-teriak. Dia nggak jawab. Dia cuma senyum tipis, tatapannya turun ke bibir gue. Udara di sekitar kami mendadak terasa lebih panas. Burung-burung di pohon berhenti berkicau. Atau cuma perasaan gue aja? Perlahan, sangat perlahan, dia ngedeketin wajahnya. Gue nggak bergerak. Nggak bisa. Kayak ada magnet yang narik gue ke arahnya. Matanya masih natap gue, minta izin tanpa suara. Gue nutup mata. Bibirnya nyentuh bibir gue. Lembut. Agak canggung. Kayak dua orang yang belum pernah ngelakuin ini sebelumnya, tapi entah gimana, terasa pas. Manis, murni, seperti sentuhan pertama yang nggak akan pernah lo lupain seumur hidup. Itu ciuman pertama gue. Ciuman pertama kami. Di bawah pohon mangga tua, di taman belakang sekolah yang tersembunyi, dikelilingi suara angin dan janji-janji yang nggak terucap. Momen itu, bagi gue, adalah segalanya. Itu bukti kalau perasaannya nyata. Kalau kami nyata. Kalau dia nggak cuma main-main. Itu janji masa depan yang gue simpan rapat-rapat di dalam hati. Setelah itu, kami ketawa, sama-sama salah tingkah. Dia ngacak rambut gue. Gue mukul lengannya pelan. Dunia terasa sempurna. Dia janji banyak hal hari itu. Janji mau lebih sering ketemu, janji mau ngajarin gue main gitar sampai bisa, janji… janji kalau gue adalah satu-satunya. Gue percaya. Demi Tuhan, gue percaya semua yang dia ucapkan. Gue pulang hari itu dengan senyum yang nggak bisa dihapus. Gue nulis semuanya di buku harian gue, setiap detail kecil, setiap kata, setiap sentuhan. Itu adalah awal dari cerita cinta yang paling indah yang pernah gue bayangin. Terus dia ngilang. Kayak nggak pernah ada apa-apa. Nggak ada kabar, nggak ada balasan chat, nggak ada kemunculan lagi di taman belakang, nggak ada senyum miring di koridor. Dia cuma… lenyap. Setelah kelulusan. Nggak ada penjelasan. Nggak ada kata perpisahan. Cuma keheningan yang memekakkan telinga. Kenapa? Itu pertanyaan yang menghantui gue bertahun-tahun. Kenapa setelah semua itu? Setelah semua momen rahasia, setelah semua janji, setelah ciuman pertama itu… dia pergi? Dan sekarang… sekarang dia di sini lagi. Duduk di seberang gue, di ruang meeting mahal ini, pakai kemeja rapi, sebagai CEO. Seolah delapan tahun itu cuma jeda iklan yang nggak penting. Seolah luka yang dia tinggalkan itu cuma goresan kecil yang nggak perlu diingat. Kepala gue pusing. Memori itu terlalu kuat, terlalu menyakitkan. Rasanya kayak gue masih gadis SMA itu, yang duduk di bangku kayu, yang hatinya hancur berkeping-keping. Gue menjabat tangannya. Tangan yang sama. Panas. Kokoh. Sama persis kayak dulu. "Senang bisa ketemu lagi, Karin," katanya lagi. Suaranya pelan, tapi menusuk langsung ke pusat kesadaran gue. Kenapa dia ngomong gitu? Setelah sekian lama? Setelah apa yang dia lakukan? Kata-kata itu… kata-kata itu adalah pengakuan. Pengakuan kalau dia nggak lupa. Pengakuan kalau dia tahu siapa gue. Gue berusaha keras menarik tangan gue. Melepaskan diri dari sentuhan yang terasa membakar. Gue nggak mau terjebak dalam nostagia konyol ini. Gue bukan Karin yang dulu. Bukan gadis rapuh yang gampang dipatahkan. Tapi tangannya nggak bergerak. Genggamannya mengerat sedikit. Nggak kuat, cuma… nggak mau lepas. Matanya. Tatapannya mengunci mata gue lagi. Cokelat gelap itu. Gue melihat bayangan diri gue di sana. Wajah gue, mungkin pucat, mungkin kelihatan jelas betapa dalamnya luka yang dia tinggalkan. Udara di sekitar kami kembali terasa berat. Orang-orang lain di ruangan itu seolah lenyap. Cuma ada kami berdua. Seperti di taman belakang SMA, delapan tahun lalu. Napas gue tersengal. Gue harus pergi dari sini. Sekarang. "Saya harus pergi, Pak Miko," kata gue, mencoba menarik tangan gue lebih keras. Dia nggak merespons tarikan gue. Genggamannya tetap di sana. Mata cokelatnya memancarkan sesuatu yang nggak bisa gue pahami. Ada kilatan penyesalan di sana? Atau sesuatu yang lebih kompleks? Dan kemudian, dia bicara. Suaranya rendah, hanya untuk didengar oleh gue. Kalimat yang menghancurkan semua pertahanan yang udah gue bangun mati-matian selama bertahun-tahun. "Gue nggak pernah lupa ciuman pertama kita." Gue gemetar. Bukan karena dingin. Karena… karena dia mengingatnya? Dia benar-benar mengatakannya? Di sini? Sekarang? Otak gue kosong. Dunia serasa berhenti berputar. Nafas gue tercekat. Dia. Mengingat. Ciuman pertama kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN